Berang-berang Jadi “Senjata Alami” Baru dalam Menyerap Emisi Karbon?

Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Maret 2026 10.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [26.03.2026] Penelitian terbaru mengungkap bahwa berang-berang memiliki peran penting dalam membantu penyerapan karbon di lingkungan alami. Melalui aktivitas membangun bendungan dan lahan basah, hewan ini mampu mengubah ekosistem sungai menjadi penyerap karbon bersih yang efektif dalam skala tahunan.

Studi yang dilakukan di Swiss menunjukkan bahwa lahan basah hasil rekayasa berang-berang dapat menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan ke atmosfer. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam upaya mitigasi perubahan iklim dengan memanfaatkan proses alami yang relatif murah dan berkelanjutan.

Fenomena ini berkaitan dengan perilaku berang-berang Eurasia yang secara alami membangun bendungan dari kayu dan material lainnya, sehingga menciptakan kolam dan memperlambat aliran air. Proses ini mengubah karakteristik ekosistem dan memungkinkan penyimpanan karbon dalam berbagai bentuk.

Dengan meningkatnya perhatian terhadap solusi berbasis alam, peran berang-berang kini mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi restorasi lingkungan, terutama di wilayah yang sebelumnya kehilangan populasi hewan ini akibat perburuan.

Penelitian dilakukan pada aliran sungai sepanjang sekitar 0,8 kilometer di Swiss utara yang telah dipengaruhi oleh aktivitas berang-berang sejak 2010. Sebelum keberadaan lahan basah, wilayah tersebut merupakan dataran banjir dengan dominasi pepohonan.

Setelah berang-berang hadir, banyak pohon ditebang untuk membangun bendungan, yang secara tidak langsung membuka ruang bagi vegetasi baru dan menciptakan kondisi lingkungan yang berbeda. Perubahan ini memicu terbentuknya sistem lahan basah yang kompleks.

Para peneliti mengukur berbagai komponen karbon, termasuk yang tersimpan dalam sedimen, biomassa, kayu mati, serta yang dilepaskan ke atmosfer. Selain itu, analisis juga mencakup aliran air dan pergerakan sedimen untuk memahami dinamika ekosistem secara menyeluruh.

Hasilnya menunjukkan bahwa lahan basah tersebut mampu menyerap antara 98 hingga 133 ton metrik karbon per tahun. Angka ini setara dengan ratusan barel minyak yang dikonsumsi, menandakan kontribusi signifikan dalam pengurangan emisi karbon.

Jika diterapkan secara lebih luas di wilayah yang sesuai, lahan basah yang dibentuk berang-berang berpotensi mengimbangi hingga sekitar 1,2% hingga 1,8% emisi karbon tahunan Swiss. Namun, hasil ini masih bergantung pada kondisi lokal seperti iklim, geologi, serta ketersediaan habitat.

Penelitian juga menyoroti bahwa pendekatan berbasis proses alami dapat menjadi alternatif yang efisien dibandingkan pembangunan infrastruktur buatan. Selain itu, lahan basah yang sehat juga berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap kebakaran hutan, sehingga membantu mencegah pelepasan karbon tambahan.

Meskipun demikian, para ilmuwan menekankan bahwa berang-berang bukan solusi tunggal untuk mengatasi perubahan iklim. Peran hewan ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sistem yang lebih luas dalam pengelolaan lingkungan.

Seiring dengan pemulihan populasi berang-berang di Eropa dan Amerika Utara, penelitian lanjutan mulai mengungkap potensi kontribusi mereka dalam penyimpanan karbon. Studi sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa lahan basah aktif dapat menyimpan hingga seperempat karbon dalam suatu lanskap.

Temuan mengenai kemampuan berang-berang dalam menciptakan lahan basah yang menyerap karbon menunjukkan bahwa solusi alami dapat memainkan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim. Aktivitas sederhana seperti pembangunan bendungan oleh hewan ini mampu menghasilkan dampak ekologis yang signifikan dalam jangka panjang.

Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami potensi secara global, pendekatan ini membuka peluang integrasi antara konservasi satwa dan strategi pengurangan emisi karbon, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alami.

Diolah dari artikel:
“A secret weapon to fight carbon emissions was just discovered: Beavers” oleh Kenna Hughes-Castleberry. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/animals/a-secret-weapon-to-fight-carbon-emissions-was-just-discovered-beavers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *