Sumber ilustrasi: Pixabay
5 Mei 2026 19.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.05.2026] Limbah plastik hingga kini masih menjadi permasalahan global. Produksi plastik dunia mencapai ratusan juta ton setiap tahun dan sebagian besar berakhir mencemari lingkungan darat dan laut. Selain itu, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil terus mendorong pencarian sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Kini, melihat adanya dua permasalah ini, para ilmuwan mulai melihat limbah plastik bukan hanya sebagai masalah, tetapi juga sebagai potensi sumber energi baru.
Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh kandidat PhD Xiao Lu dari Adelaide University mengeksplorasi cara mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar bersih menggunakan energi matahari. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Chem Catalysis tersebut menunjukkan bahwa plastik dapat dikonversi menjadi hidrogen, syngas, dan bahan kimia industri lainnya. Pendekatan ini dinilai mampu mendukung terciptanya ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Dalam penelitian tersebut, plastik dipandang sebagai sumber daya yang kaya akan karbon dan hidrogen. Xiao Lu menjelaskan bahwa plastik sering dianggap sebagai masalah lingkungan besar, namun di sisi lain menyimpan peluang signifikan jika dapat diolah menjadi bahan bakar bersih menggunakan sinar matahari. Pandangan ini membuka perspektif baru dalam pengelolaan limbah global.
Metode yang digunakan dikenal sebagai solar-driven photoreforming, yaitu proses yang memanfaatkan material peka cahaya atau fotokatalis. Material ini bekerja dengan menyerap energi matahari untuk memecah struktur plastik pada suhu relatif rendah. Hasil dari proses tersebut adalah hidrogen sebagai bahan bakar bersih yang tidak menghasilkan emisi saat digunakan, serta berbagai produk kimia bernilai tinggi lainnya.
Dibandingkan dengan metode konvensional seperti pemecahan air untuk menghasilkan hidrogen, pendekatan ini dinilai lebih efisien secara energi. Plastik lebih mudah mengalami oksidasi, sehingga reaksi kimia yang terjadi membutuhkan energi lebih rendah. Kondisi ini meningkatkan potensi penggunaan teknologi dalam skala besar di masa depan.
Profesor Xiaoguang Duan dari School of Chemical Engineering di Adelaide University melaporkan bahwa eksperimen awal menunjukkan hasil yang menjanjikan. Penelitian tersebut berhasil menghasilkan hidrogen dalam jumlah tinggi, serta produk lain seperti asam asetat dan hidrokarbon yang setara dengan diesel. Sistem yang dikembangkan juga mampu beroperasi lebih dari 100 jam secara kontinu, menunjukkan peningkatan stabilitas dan performa.
Meski demikian, masih terdapat tantangan besar yang masih perlu dihadapi sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara luas. Salah satu kendala utama adalah kompleksitas limbah plastik itu sendiri. Berbagai jenis plastik memiliki sifat yang berbeda, sementara bahan tambahan seperti pewarna dan stabilisator dapat mengganggu proses konversi. Xiaoguang Duan menekankan bahwa proses pemilahan dan pra-perlakuan menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil.
Selain itu, performa fotokatalis juga menjadi perhatian utama. Material ini harus memiliki selektivitas tinggi serta ketahanan terhadap kondisi kimia yang ekstrem. Versi yang ada saat ini masih rentan terhadap degradasi seiring waktu yang membatasi penggunaan jangka panjang. Xiaoguang Duan juga menyoroti adanya kesenjangan antara keberhasilan di laboratorium dan penerapan di dunia nyata yang dimana mereka memerlukan desain sistem dan katalis yang lebih kuat serta ekonomis.
Tantangan lain muncul dalam proses pemisahan produk akhir. Reaksi yang terjadi menghasilkan campuran gas dan cairan yang memerlukan pemisahan melalui proses intensif energi. Kondisi ini berpotensi mengurangi manfaat lingkungan dari teknologi tersebut. Untuk mengatasinya, para peneliti mengusulkan pendekatan terintegrasi yang mencakup pengembangan desain reaktor, optimalisasi sistem, serta penggunaan teknologi pemantauan canggih.
Ke depan, tim peneliti telah menyusun peta jalan untuk mengembangkan teknologi ini ke skala industri. Fokus utama mencakup peningkatan efisiensi energi dan kemampuan operasi berkelanjutan dalam jangka panjang. Xiao Lu menyampaikan bahwa bidang ini berkembang dengan cepat dan memiliki potensi besar dalam mendukung masa depan rendah karbon melalui inovasi berkelanjutan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah plastik dapat diubah menjadi sumber energi bersih melalui teknologi berbasis sinar matahari, sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Dengan memanfaatkan fotokatalis dan pendekatan yang lebih efisien, teknologi ini menawarkan solusi ganda bagi krisis energi dan limbah, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan teknis sebelum dapat diterapkan secara luas.
Diolah dari artikel:
“Scientists turn plastic waste into clean hydrogen fuel using sunlight” oleh Adelaide University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260504023841.htm