Sumber ilustrasi: Pixabay
4 Mei 2026 18.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.05.2026] Pernahkan anda mendengar kata “tabula rasa”? Meski istilah ini terdengar seperti Bahasa Indonesia, kalimat ini sebenarnya merupakan Bahasa latin yang berarti: lembar kosong. Konsep tabula rasa ini merupakan salah satu gagasan yang dimana dalam pandangan ini, otak dianggap memulai kehidupan tanpa isi, lalu kemudian pengalaman secara bertahap membentuk pengetahuan dan memori. Di sisi lain, terdapat konsep tabula plena yang menyatakan bahwa otak sejak awal sudah memiliki struktur dan informasi tertentu yang memengaruhi bagaimana pengalaman diproses. Perdebatan antara peran bawaan biologis dan pengalaman ini juga menjadi bagian penting dalam kajian neurosains modern.
Hippocampus dikenal sebagai bagian otak yang berperan utama dalam pembentukan memori dan navigasi ruang. Struktur ini memungkinkan pengalaman jangka pendek diubah menjadi memori jangka panjang, sehingga manusia dapat belajar dan beradaptasi. Para ilmuwan telah lama mengetahui pentingnya hippocampus, tetapi bagaimana jaringan saraf di dalamnya berkembang setelah kelahiran masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.
Penelitian terbaru dari Institute of Science and Technology Austria (ISTA) yang dipublikasikan di Nature Communications mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Studi ini berfokus pada salah satu jaringan saraf utama di hippocampus, khususnya sirkuit yang melibatkan neuron piramidal CA3. Jaringan ini berperan penting dalam penyimpanan dan pengambilan memori, serta bergantung pada plastisitas otak, yaitu kemampuan untuk memperkuat atau melemahkan koneksi antar neuron.
Dalam penelitian ini, Victor Vargas-Barroso mempelajari perkembangan otak tikus pada tiga tahap berbeda, yaitu awal kehidupan setelah kelahiran, masa remaja, dan fase dewasa. Untuk memahami cara kerja jaringan saraf tersebut, digunakan teknik patch-clamp yang memungkinkan pengukuran sinyal listrik kecil dalam neuron, termasuk pada bagian presinaptik dan dendrit. Selain itu, metode pencitraan canggih dan teknologi berbasis laser digunakan untuk mengamati aktivitas sel dan mengaktifkan koneksi saraf secara presisi.
Hasil penelitian menunjukkan pola perkembangan yang tidak terduga. Pada tahap awal, jaringan saraf CA3 memiliki kepadatan koneksi yang sangat tinggi dengan pola yang tampak acak. Seiring waktu, jaringan tersebut mengalami perubahan menjadi lebih terorganisir dan efisien, meskipun jumlah koneksi berkurang.
Peter Jonas dari ISTA menjelaskan bahwa temuan ini bertentangan dengan asumsi umum yang menganggap jaringan saraf akan semakin padat seiring perkembangan. Jonas menyampaikan bahwa perkembangan jaringan ini mengikuti model pemangkasan, di mana sistem saraf dimulai dalam kondisi sangat terhubung, kemudian disederhanakan untuk meningkatkan efisiensi.
Penelitian ini juga mencoba menjelaskan alasan di balik pola tersebut. Konektivitas awal yang sangat tinggi memungkinkan neuron untuk saling terhubung dengan cepat, yang sangat penting bagi hippocampus dalam menggabungkan berbagai jenis informasi seperti visual, suara, dan penciuman menjadi satu kesatuan memori. Jonas menilai bahwa tingkat konektivitas awal yang tinggi, diikuti oleh pemangkasan selektif, merupakan mekanisme yang memungkinkan integrasi informasi berlangsung secara optimal.
Jika otak benar-benar dimulai dari kondisi kosong tanpa koneksi awal, neuron harus terlebih dahulu membangun jaringan dari nol. Proses tersebut berpotensi memperlambat komunikasi antar sel dan mengurangi efisiensi pembentukan memori. Dengan adanya jaringan awal yang padat, otak dapat langsung memproses informasi dan kemudian menyempurnakan strukturnya seiring waktu.
Temuan ini menunjukkan bahwa otak manusia tidak berkembang dari kondisi kosong, melainkan dari jaringan saraf yang sudah kaya koneksi sejak awal yang kemudian dipangkas untuk mencapai efisiensi. Proses ini memberikan dasar penting bagi kemampuan otak dalam belajar, mengingat, dan beradaptasi terhadap lingkungan.
Penelitian ini mengungkap bahwa hippocampus memulai perkembangan dengan jaringan saraf yang padat dan luas, yang kemudian disederhanakan melalui proses pemangkasan untuk meningkatkan efisiensi dan organisasi. Pola ini menunjukkan bahwa otak tidak berawal dari kondisi kosong, melainkan dari struktur yang sudah terhubung dan siap beradaptasi, sehingga memungkinkan pembentukan memori dan integrasi informasi berlangsung secara optimal sejak tahap awal kehidupan.
Diolah dari artikel:
“Scientists found the brain doesn’t start blank, it starts full” oleh Institute of Science and Technology Austria. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260501052842.htm