Gunung Etna

Sumber ilustrasi: Magnific
4 Mei 2026 10.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.05.2026] Pernahkan anda mendengar tentang gunung Etna? Gunung yang satu ini dipandang sebagai gunung berapi yang berbeda dari gunung berapi lainnya. Mengapa demikian? Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa gunung Etna ini terbentuk secara aneh. Gunung berapi diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe utama berdasarkan proses pembentukannya. Umumnya tipe ini terbagi menjadi tiga kategori: gunung berapi mid-ocean ridge, intralempeng, dan zona subduksi. Klasifikasi ini didasarkan pada interaksi lempeng tektonik serta sumber magma yang memicu erupsi. Akan tetapi, Gunung Etna yang terletak di Pulau Sisilia, Italia, sejak lama dianggap sebagai anomali karena tidak sepenuhnya sesuai dengan ketiga kategori tersebut.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JGR Solid Earth menunjukkan bahwa Gunung Etna mungkin terbentuk melalui mekanisme yang berbeda dari pemahaman sebelumnya. Studi ini mengungkap bahwa Etna memiliki karakteristik yang menyerupai gunung berapi kecil di dasar laut yang dikenal sebagai petit-spot volcanoes. Meskipun fenomena tersebut biasanya menghasilkan struktur kecil, Gunung Etna justru menjulang tinggi hingga lebih dari 3.400 meter di atas permukaan laut.

Menurut Sarah Lambart dari University of Utah, temuan ini mengarah pada kemungkinan adanya jenis vulkanisme baru yang belum pernah diklasifikasikan sebelumnya. Pandangan ini memperluas cara ilmuwan memahami proses pembentukan gunung berapi di Bumi.

Gunung Etna berada di wilayah kompleks tempat Lempeng Afrika bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Berbeda dengan gunung berapi zona subduksi pada umumnya yang terbentuk jauh dari batas lempeng, posisi Etna berada tepat di atas zona pertemuan tersebut. Secara kimiawi, lava yang dihasilkan juga menunjukkan kemiripan dengan lava dari gunung berapi hotspot, meskipun tidak ditemukan bukti keberadaan hotspot di bawahnya.

Analisis terhadap sejarah erupsi menunjukkan pola yang tidak biasa. Pada tahap awal, Gunung Etna menghasilkan lava dalam jumlah kecil yang kaya silika. Seiring perkembangan waktu, aktivitasnya berubah menjadi menghasilkan lava dalam jumlah besar yang kaya logam alkali seperti natrium dan kalium. Sébastien Pilet dari University of Lausanne menjelaskan bahwa pola ini bertentangan dengan kecenderungan umum, karena lava kaya silika biasanya muncul dalam volume besar, sedangkan lava kaya alkali cenderung terbentuk dalam jumlah kecil.

Untuk memahami fenomena tersebut, para peneliti menganalisis komposisi kimia lapisan lava dari berbagai periode aktivitas Gunung Etna. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber magma berasal dari zona mantel yang dikenal sebagai zona kecepatan rendah, yaitu wilayah di mana gelombang seismik bergerak lebih lambat akibat adanya material yang lebih mudah meleleh.

Keunikan Gunung Etna juga dipengaruhi oleh kondisi tektonik yang tidak stabil. Lempeng yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia tidak bergerak secara merata, melainkan mengalami hambatan yang menyebabkan batuan terlipat dan berubah bentuk. Pilet menjelaskan bahwa deformasi tersebut membuka jalur bagi magma untuk naik ke permukaan, sehingga memungkinkan terjadinya erupsi dengan karakteristik yang berbeda dari gunung berapi lainnya.

Perjalanan magma menuju permukaan juga mengalami perubahan seiring waktu. Pada tahap awal, magma harus melewati kerak benua yang kaya silika sehingga menghasilkan lava dengan kandungan silika tinggi. Setelah terbentuk jalur yang lebih langsung dari mantel ke permukaan, magma yang naik menjadi lebih sedikit terkontaminasi dan menghasilkan lava kaya alkali dalam jumlah yang lebih terbatas.

Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai peran litosfer dalam aktivitas vulkanik. Interaksi antara magma dengan lapisan kerak dan mantel atas ternyata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik erupsi. Sarah Lambart menekankan bahwa kontribusi litosfer terhadap aktivitas magmatik kemungkinan jauh lebih penting daripada yang selama ini dipahami, tidak hanya pada Gunung Etna tetapi juga pada sistem vulkanik lainnya di Bumi.

Gunung Etna menunjukkan bahwa proses vulkanisme dapat terjadi melalui mekanisme yang lebih kompleks dari klasifikasi yang ada, dengan kombinasi faktor tektonik dan interaksi magma-litosfer yang menghasilkan karakteristik unik. Penelitian ini membuka kemungkinan bahwa fenomena serupa mungkin terjadi di lokasi lain, sehingga memperluas pemahaman tentang dinamika internal Bumi dan evolusi gunung berapi.

Diolah aari artikel:
“Mount Etna is like no other volcano on Earth, representing ‘a new type of volcanism,’ new research reveals” oleh Stephanie Pappas. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/volcanoes/mount-etna-is-like-no-other-volcano-on-earth-new-research-reveals

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *