Sumber ilustrasi: Pixabay
3 Mei 2026 10.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [03.05.2026] Pernahkan anda memperhatikan cara berjalan kepiting? Kepiting dikenal dengan cara berjalannya yang unik, yakni menyamping. Cara berjalan ini telah lama menjadi ciri khas kelompok Brachyura. Para ilmuwan sebelumnya mengetahui bahwa sebagian besar kepiting modern menggunakan pola gerak ini, meski asal-usul evolusinya masih belum sepenuhnya jelas. Pertanyaan mengenai kapan perilaku tersebut muncul, serta seberapa sering evolusi menghasilkan pola gerak serupa, menjadi fokus penting dalam kajian biologi evolusi dan perilaku hewan.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan sebagai Reviewed Preprint di eLife mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Penelitian ini menggabungkan data terbesar sejauh ini terkait pola pergerakan kepiting dengan analisis hubungan evolusi antarspesies. Para peneliti menemukan bahwa kebiasaan berjalan menyamping kemungkinan besar berasal dari satu nenek moyang yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu, dan kemudian diwariskan secara luas kepada keturunannya.
Analisis menunjukkan bahwa dari 50 spesies kepiting yang diamati, sebagian besar bergerak menyamping, sementara sebagian kecil lainnya masih mempertahankan pola berjalan maju. Dengan memetakan data ini ke dalam pohon filogenetik, para peneliti menemukan pola yang konsisten: gerakan menyamping tampaknya hanya berevolusi satu kali, tepatnya pada nenek moyang kelompok Eubrachyura. Setelah kemunculannya, sifat ini tetap stabil dan tidak banyak mengalami perubahan sepanjang sejarah evolusi kepiting sejati.
Yuuki Kawabata dari Universitas Nagasaki menjelaskan bahwa keberhasilan ekologis kepiting sejati kemungkinan besar berkaitan erat dengan kemampuan bergerak menyamping. Kawabata menyampaikan bahwa jumlah spesies kepiting sejati mencapai ribuan dan jauh melampaui kelompok kerabat terdekatnya, serta mampu beradaptasi di berbagai habitat mulai dari daratan hingga laut dalam. Kawabata juga menyoroti bahwa meskipun bentuk tubuh mirip kepiting telah berevolusi berulang kali dalam fenomena karsinisasi, perubahan perilaku seperti pola gerak cenderung jauh lebih jarang terjadi.
Gerakan menyamping memberikan keuntungan adaptif yang signifikan bagi kepiting. Pola gerak ini memungkinkan kepiting bergerak cepat ke berbagai arah dengan perubahan yang sulit diprediksi oleh predator. Keunggulan ini meningkatkan peluang bertahan hidup dalam lingkungan yang penuh ancaman. Akan tetapi, pola gerak lateral ini relatif jarang ditemukan pada hewan lain karena berpotensi mengganggu aktivitas penting seperti menggali, mencari makan, dan reproduksi.
Penelitian juga menyoroti bahwa inovasi evolusi tidak berdiri sendiri tanpa pengaruh lingkungan. Kemunculan pola gerak menyamping diperkirakan terjadi pada awal periode Jura, tidak lama setelah peristiwa kepunahan besar Trias-Jura. Pada masa tersebut terjadi perubahan lingkungan besar seperti pecahnya superbenua Pangaea dan meluasnya habitat laut dangkal. Kondisi ini membuka peluang baru bagi spesies untuk berkembang dan berdiversifikasi, termasuk bagi kepiting sejati.
Dalam upaya memahami lebih jauh hubungan antara inovasi biologis dan faktor lingkungan, para peneliti menekankan pentingnya studi lanjutan. Kawabata menyampaikan bahwa analisis tambahan diperlukan untuk menghubungkan pola gerak dengan keunggulan adaptif secara lebih langsung, termasuk melalui pendekatan berbasis fosil dan pengujian performa.
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana perilaku tertentu dapat muncul sekali dalam sejarah evolusi namun tetap bertahan dan mendominasi kelompok besar organisme. Pendekatan yang menggabungkan observasi langsung dengan analisis filogenetik juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana variasi cara bergerak pada hewan berkembang dari waktu ke waktu.
Perilaku berjalan menyamping pada kepiting merupakan hasil dari satu peristiwa evolusi yang terjadi ratusan juta tahun lalu dan memberikan keuntungan adaptif yang signifikan. Sifat ini kemudian diwariskan secara luas tanpa banyak perubahan, berkontribusi terhadap keberhasilan ekologis kepiting sejati di berbagai habitat. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun inovasi biologis dapat terjadi sekali, dampaknya dapat bertahan lama dan membentuk keberagaman spesies dalam skala besar.
Diolah dari artikel:
“Why do crabs walk sideways? Scientists trace it back 200 million years” oleh eLife. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260501052844.htm