Sumber ilustrasi: Unsplash
4 Mei 2026 14.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.05.2026] Apakah anda suka minum kopi? Kopi telah lama menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang di seluruh dunia dan sering dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan pencernaan serta suasana hati. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi kopi dapat memengaruhi energi, fokus, dan bahkan kondisi mental. Akan tetapi, mekanisme biologis yang menjelaskan hubungan antara kopi, usus, dan otak masih belum sepenuhnya dipahami. Para ilmuwan mengetahui adanya sumbu usus-otak sebagai jalur komunikasi penting antara sistem pencernaan dan sistem saraf, tetapi peran kopi dalam sistem ini masih menjadi pertanyaan.
Penelitian terbaru dari APC Microbiome Ireland di University College Cork memberikan gambaran baru mengenai hubungan tersebut. Studi yang dipublikasikan di Nature Communications ini meneliti bagaimana kopi berinteraksi dengan sumbu mikrobiota-usus-otak, yaitu sistem komunikasi dua arah antara mikrobioma usus dan otak. Penelitian ini juga mendapat dukungan dari Institute for Scientific Information on Coffee (ISIC), yang berfokus pada pemahaman ilmiah tentang dampak konsumsi kopi.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan membandingkan 31 individu yang rutin mengonsumsi kopi dengan 31 individu yang tidak mengonsumsi kopi. Para partisipan menjalani serangkaian penilaian psikologis, mencatat pola makan serta asupan kafein, dan memberikan sampel biologis seperti tinja dan urin. Kelompok peminum kopi dalam studi ini didefinisikan sebagai individu yang mengonsumsi 3 hingga 5 cangkir kopi per hari, yang dianggap sebagai tingkat konsumsi moderat dan aman menurut European Food Safety Authority.
Desain penelitian dilakukan dalam beberapa tahap untuk mengamati perubahan yang terjadi. Pada tahap awal, kelompok peminum kopi diminta menghentikan konsumsi kopi selama dua minggu. Selama periode tersebut, para peneliti terus memantau kondisi biologis dan psikologis partisipan. Hasilnya menunjukkan adanya perubahan signifikan pada metabolit yang dihasilkan oleh mikroba usus, yang membedakan kelompok peminum kopi dari kelompok non-peminum.
Setelah fase penghentian, kopi diperkenalkan kembali secara bertahap tanpa informasi kepada partisipan mengenai jenis kopi yang dikonsumsi. Sebagian partisipan menerima kopi tanpa kafein, sementara lainnya mengonsumsi kopi berkafein. Kedua kelompok menunjukkan peningkatan kondisi emosional, termasuk penurunan tingkat stres, depresi, dan impulsivitas. Temuan ini menunjukkan bahwa efek positif kopi terhadap suasana hati tidak hanya bergantung pada kandungan kafein.
Analisis lebih lanjut mengungkap adanya perbedaan komposisi mikrobioma usus antara peminum kopi dan non-peminum. Beberapa jenis bakteri seperti Eggertella sp dan Cryptobacterium curtum ditemukan dalam jumlah lebih tinggi pada peminum kopi. Mikroba tersebut diketahui berperan dalam proses penting seperti produksi asam dalam sistem pencernaan dan sintesis asam empedu, yang dapat membantu melindungi tubuh dari infeksi. Penelitian ini juga mencatat peningkatan kelompok bakteri Firmicutes, yang dalam studi sebelumnya dikaitkan dengan emosi positif, terutama pada perempuan.
Penelitian ini menemukan perbedaan antara kopi berkafein dan tanpa kafein. Peningkatan kemampuan belajar dan memori hanya terlihat pada kelompok yang mengonsumsi kopi tanpa kafein, yang menunjukkan bahwa senyawa lain seperti polifenol kemungkinan memiliki peran penting. Sementara itu, kopi berkafein menunjukkan manfaat dalam meningkatkan perhatian, kewaspadaan, serta menurunkan tingkat kecemasan. Konsumsi kafein juga dikaitkan dengan penurunan risiko peradangan.
Penulis utama studi, John Cryan dari APC Microbiome Ireland, menjelaskan bahwa minat masyarakat terhadap kesehatan usus terus meningkat dan hubungan antara sistem pencernaan serta kesehatan mental semakin banyak diteliti. Cryan menyampaikan bahwa penelitian ini membantu menjelaskan bagaimana kopi memengaruhi mikrobioma dan respons neurologis, serta menunjukkan potensi manfaat jangka panjang terhadap kesehatan usus. Cryan juga menambahkan bahwa kopi merupakan komponen diet yang kompleks karena berinteraksi dengan mikroba usus, metabolisme, dan kondisi emosional manusia, serta dapat memberikan dampak kesehatan melalui mekanisme yang berbeda namun saling melengkapi.
Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi kopi, baik berkafein maupun tanpa kafein, dapat memengaruhi mikrobioma usus, fungsi otak, dan kondisi emosional melalui mekanisme biologis yang kompleks. Interaksi antara senyawa dalam kopi dengan mikroba usus serta sistem saraf membuka pemahaman baru tentang bagaimana pola konsumsi sehari-hari dapat memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, sekaligus memberikan dasar bagi penelitian lanjutan mengenai peran diet dalam menjaga keseimbangan sistem tubuh.
Diolah dari artikel:
“Scientists just discovered what coffee is really doing to your gut and brain” oleh University College Cork. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260502233911.htm