Sumber ilustrasi: Pixabay
11 Mei 2026 16.10 WIB – Economy
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [11.05.2026] Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan tajam setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari terus memengaruhi pasar energi internasional, terutama setelah jalur strategis Selat Hormuz praktis ditutup akibat ancaman serangan dari Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di wilayah tersebut.
Pasar sebelumnya sempat berharap adanya peluang deeskalasi setelah Iran mengirimkan proposal penghentian konflik melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Dalam proposal tersebut, Teheran meminta penghentian perang secara langsung serta jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan gabungan AS dan Israel terhadap wilayah Iran.
Namun harapan pasar terhadap meredanya konflik kembali memudar setelah Presiden Donald Trump menolak proposal tersebut. Trump menilai respons Iran terhadap syarat yang diajukan Washington tidak dapat diterima. Penolakan tersebut langsung memicu lonjakan harga energi dalam perdagangan Asia pada awal pekan.
Minyak mentah Brent sebagai patokan internasional naik sekitar 3,8 persen menjadi US$105,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di Amerika Serikat meningkat sekitar 4 persen menjadi US$99,30 per barel.
Kenaikan harga tersebut memperlihatkan tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan konflik Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena jalur tersebut biasanya dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan jalur pelayaran strategis itu membuat pelaku pasar khawatir terhadap terganggunya rantai pasok energi global dalam jangka panjang.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya mengajukan sejumlah syarat kepada Iran sebagai bagian dari pembahasan penghentian konflik. Salah satu syarat utama adalah dibukanya kembali jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz serta penghentian aktivitas pengayaan uranium Iran.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran tidak akan dihentikan sebelum cadangan uranium yang diperkaya milik Iran berhasil dilumpuhkan. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa konflik masih berpotensi berlangsung lebih lama.
Meskipun gencatan senjata sempat diumumkan pada awal April untuk membuka ruang negosiasi damai, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda. Sesekali masih terjadi serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat konflik.
Pada 21 April, Trump bahkan memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu guna memberikan kesempatan bagi Iran menyampaikan proposal baru yang lebih terintegrasi. Namun perkembangan terbaru menunjukkan negosiasi masih menemui jalan buntu.
Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari, harga energi global bergerak sangat fluktuatif. Harga minyak Brent sempat turun setelah pengumuman gencatan senjata, tetapi kembali menembus level US$100 per barel ketika risiko geopolitik meningkat lagi.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan energi internasional. Kenaikan harga minyak dan gas secara langsung meningkatkan pendapatan produsen energi utama dunia.
Perusahaan energi asal Arab Saudi, Aramco, melaporkan lonjakan laba lebih dari 25 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut didukung oleh tingginya harga minyak global di tengah gangguan distribusi energi internasional.
CEO Aramco Amin Nasser menjelaskan bahwa jaringan pipa lintas negara milik perusahaan berhasil menjadi jalur pasokan penting sehingga membantu perusahaan menghindari gangguan pengiriman akibat perang Iran.
Perusahaan energi besar lainnya juga mencatat pertumbuhan laba signifikan. BP melaporkan keuntungan kuartal pertama tahun ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Shell juga mengumumkan lonjakan pendapatan pada laporan keuangan terbarunya.
Analis pasar energi menilai bahwa konflik di Timur Tengah kini menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak global. Selama Selat Hormuz masih berada dalam kondisi tidak stabil, risiko gangguan pasokan diperkirakan tetap tinggi.
Pasar juga terus memantau kemungkinan langkah lanjutan dari Amerika Serikat, Iran, maupun Israel. Setiap perkembangan diplomatik maupun militer diperkirakan akan langsung memengaruhi harga minyak dan sentimen investor global.
Diolah dari artikel:
“Oil prices jump after Trump dismisses Iran proposal to end war” oleh Osmond Chia. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring economic news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.