Hutan Mangrove Membersihkan Polusi Nitrogen Senilai Miliaran Dolar Setiap Tahun?

Sumber ilustrasi: Pixabay
13 Mei 2026 20.10 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.05.2026] Hutan mangrove selama ini dikenal sebagai pelindung alami wilayah pesisir. Ekosistem ini membantu menahan abrasi, meredam gelombang badai, serta menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut. Selain itu, mangrove juga terkenal sebagai penyerap karbon yang efektif dalam membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat mangrove ternyata jauh lebih besar dari yang sebelumnya dipahami. Sebuah studi baru menemukan bahwa hutan mangrove di seluruh dunia mampu membersihkan polusi nitrogen dalam jumlah besar dengan nilai ekonomi mencapai sekitar 8,7 miliar dolar AS setiap tahun.

Mangrove merupakan tumbuhan tahan garam yang tumbuh di wilayah pesisir tropis dan subtropis, tepat di antara batas pasang dan surut air laut. Akar mangrove yang rapat dan saling terhubung mampu menjebak sedimen kaya mikroba. Mikroba tersebut berperan penting dalam mengubah nitrogen reaktif di air menjadi gas nitrogen yang tidak berbahaya bagi ekosistem. Proses alami tersebut secara efektif menghilangkan polusi nitrogen dari lingkungan perairan.

Para ilmuwan sebelumnya telah memahami bahwa polusi nitrogen menjadi ancaman serius bagi ekosistem air. Aktivitas manusia seperti pertanian menghasilkan limpasan nutrisi berlebih yang masuk ke sungai dan laut. Antara tahun 2002 hingga 2010, limpasan tersebut mencapai sekitar 35,9 juta ton nitrogen setiap tahun di ekosistem air tawar. Kelebihan nitrogen mendorong pertumbuhan alga secara berlebihan, memicu ledakan populasi alga yang mengurangi kadar oksigen di air dan menghasilkan racun berbahaya bagi hewan maupun manusia.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun hutan mangrove hanya menutupi kurang dari 0,1 persen permukaan daratan Bumi, ekosistem ini mampu menghilangkan sekitar 960 ribu ton nitrogen dari sistem perairan setiap tahun. Jumlah tersebut setara dengan massa sekitar 650 pohon giant sequoia. Para peneliti juga menemukan bahwa dalam kondisi lingkungan optimal, kapasitas penghilangan nitrogen mangrove dapat meningkat hingga lebih dari 5,5 juta ton per tahun.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future tersebut dilakukan oleh Benoit Thibodeau dan Ziyan Wang dari The Chinese University of Hong Kong. Tim peneliti menganalisis hasil dari 51 penelitian sebelumnya serta menggabungkannya dengan pengukuran lapangan yang mereka lakukan sendiri. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperkirakan tingkat penghilangan nitrogen secara global di ekosistem mangrove.

Para peneliti membedakan data menjadi dua kategori, yaitu tingkat penghilangan aktual dan tingkat penghilangan potensial. Tingkat aktual menggambarkan jumlah nitrogen yang benar-benar dihilangkan di alam saat ini, sedangkan tingkat potensial menggambarkan kapasitas maksimum mangrove dalam menyerap nitrogen apabila suhu, salinitas, dan kadar nitrogen berada dalam kondisi optimal.

Hasil analisis menunjukkan bahwa luas global hutan mangrove yang mencapai sekitar 135.869 kilometer persegi menghasilkan kemampuan penghilangan nitrogen aktual sebesar 960 ribu ton per tahun. Dalam kondisi ideal, angka tersebut dapat meningkat menjadi lebih dari 5,5 juta ton per tahun. Temuan tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi ekosistem mangrove dalam menjaga kualitas lingkungan perairan dunia.

Benoit Thibodeau menjelaskan bahwa para ilmuwan masih berada pada tahap awal dalam memahami faktor-faktor yang mendorong proses penghilangan nitrogen di mangrove. Menurut Benoit Thibodeau, nitrogen reaktif yang berbahaya bagi lingkungan dapat diubah menjadi gas nitrogen tidak reaktif yang dapat bertahan di atmosfer selama ribuan tahun tanpa menimbulkan ancaman ekologis.

Mikroba di dalam sedimen mangrove menghilangkan nitrogen melalui dua jalur utama, yaitu denitrifikasi dan anaerobic ammonium oxidation atau anammox. Proses denitrifikasi mengubah nitrat menjadi gas nitrogen dan dinitrogen oksida, yang merupakan gas rumah kaca. Sementara itu, anammox mengubah nitrit dan amonium menjadi gas nitrogen yang membentuk sekitar 78 persen atmosfer Bumi dan tidak bersifat sebagai gas rumah kaca.

Menurut Ziyan Wang, kondisi sedimen mangrove yang miskin oksigen membuat ekosistem ini sangat efektif mendukung aktivitas mikroba penghilang nitrogen. Proses serupa memang juga terjadi di padang lamun dan lingkungan pesisir lainnya, tetapi mangrove memiliki kondisi sedimen yang lebih ideal untuk mendukung aktivitas mikroba tersebut.

Untuk menghitung nilai ekonomi layanan pembersihan nitrogen oleh mangrove, para peneliti menggunakan pendekatan serupa dengan sistem kredit karbon. Perhitungan didasarkan pada biaya yang dikeluarkan pemerintah kota di negara seperti Amerika Serikat dan Australia untuk membersihkan nitrogen dari sistem air mereka. Berdasarkan pendekatan tersebut, para peneliti memperkirakan nilai penghilangan nitrogen mencapai lebih dari 10 ribu dolar AS untuk setiap ton nitrogen yang berhasil dihilangkan.

Dengan tingkat penghilangan nitrogen saat ini, layanan alami mangrove diperkirakan bernilai sekitar 8,7 miliar dolar AS per tahun secara global. Jika kapasitas penghilangan mencapai tingkat optimal sebesar 5,5 juta ton per tahun, nilainya dapat meningkat hingga sekitar 57 miliar dolar AS setiap tahun.

Para peneliti juga membandingkan nilai ekonomi penghilangan nitrogen dengan kemampuan mangrove dalam menyerap karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi penyerapan karbon ternyata sekitar 12 kali lebih kecil dibandingkan manfaat penghilangan nitrogen. Benoit Thibodeau menjelaskan bahwa penyimpanan karbon di sedimen mangrove lebih rentan terganggu, sedangkan nitrogen yang telah diubah menjadi gas nitrogen akan tetap berada di atmosfer dalam jangka waktu sangat panjang.

Meskipun demikian, mangrove tetap dianggap sebagai salah satu ekosistem penyimpan karbon paling efektif di dunia. Akan tetapi, keberadaan mangrove saat ini menghadapi ancaman besar akibat kenaikan permukaan laut dan pembukaan lahan untuk pembangunan infrastruktur pesisir. Benoit Thibodeau menilai bahwa kerusakan mangrove bukan hanya berarti kehilangan ruang alami, tetapi juga kehilangan nilai ekonomi yang sangat besar bagi lingkungan dan masyarakat.

Ziyan Wang juga memperingatkan bahwa kenaikan suhu global dapat mengubah cara mikroba di mangrove memproses nitrogen. Kondisi tersebut berpotensi membuat mikroba lebih bergantung pada proses denitrifikasi yang menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca dinitrogen oksida dibandingkan saat ini. Perubahan tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan fungsi ekologis mangrove di masa depan.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa hutan mangrove memiliki peran yang jauh lebih penting dalam menjaga kualitas lingkungan dibandingkan yang selama ini dipahami. Selain melindungi pesisir dan menyerap karbon, mangrove mampu membersihkan polusi nitrogen dalam jumlah besar dengan nilai ekonomi mencapai miliaran dolar setiap tahun. Penelitian ini juga menegaskan bahwa perlindungan dan pelestarian mangrove menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan ekosistem perairan, mengurangi dampak polusi, dan mempertahankan manfaat ekologis yang sangat besar bagi manusia maupun lingkungan global.

Diolah dari artikel:
“Mangroves clean up $8.7 billion of nitrogen pollution every year, study finds” oleh Sascha Pare. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/plants/mangroves-clean-up-usd8-7-billion-of-nitrogen-pollution-every-year-study-finds

kondisi sedimen mangrove yang miskin oksigen membuat ekosistem ini sangat efektif mendukung aktivitas mikroba penghilang nitrogen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *