Sumber ilustrasi: Pixabay
19 Mei 2026 09.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [19.05.2026] Olahraga dikenal luas sebagai aktivitas yang berperan dalam membangun kekuatan otot dan meningkatkan kebugaran fisik. Banyak yang mengaitkan peningkatan performa tubuh dengan perubahan pada jaringan otot dan sistem kardiovaskular. Selain itu, pengalaman subjektif seperti pikiran terasa lebih jernih setelah berolahraga juga sering dilaporkan, meskipun mekanisme biologis di balik fenomena tersebut belum sepenuhnya dipahami.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Neuron oleh Cell Press mengungkap bahwa olahraga tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga mengubah aktivitas otak dengan cara yang berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh. Penelitian yang dipimpin oleh J. Nicholas Betley dari University of Pennsylvania berupaya memahami bagaimana perubahan di otak setelah olahraga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi terhadap latihan.
Dalam eksperimen yang dilakukan, para peneliti mengamati peningkatan aktivitas otak pada tikus setelah berlari di treadmill. Aktivitas paling signifikan terjadi pada wilayah ventromedial hypothalamus, bagian otak yang berperan dalam mengatur energi, berat badan, dan kadar gula darah. Penelitian ini berfokus pada neuron tertentu yang dikenal sebagai steroidogenic factor-1 atau neuron SF1, yang menunjukkan peningkatan aktivitas selama dan setelah olahraga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa neuron SF1 tidak hanya aktif saat aktivitas fisik berlangsung, tetapi juga tetap aktif hingga satu jam setelah olahraga selesai. Setelah dua minggu latihan rutin, tikus menunjukkan peningkatan daya tahan yang signifikan, termasuk kemampuan berlari lebih lama dan lebih cepat sebelum mengalami kelelahan. Pemindaian otak juga memperlihatkan peningkatan jumlah neuron SF1 yang aktif serta intensitas aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan kondisi awal.
Analisis lebih lanjut dilakukan dengan memblokir komunikasi neuron SF1 dengan bagian otak lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang mengalami pemblokiran tersebut menjadi lebih cepat lelah dan tidak mengalami peningkatan daya tahan selama periode latihan. Temuan lain yang menarik adalah bahwa pemblokiran yang dilakukan setelah olahraga saja sudah cukup untuk menghentikan peningkatan daya tahan, meskipun fungsi neuron selama latihan tetap normal.
Dalam penjelasannya, J. Nicholas Betley menyampaikan bahwa olahraga tidak hanya membangun otot, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat fungsi otak. Penjelasan tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara aktivitas saraf dan kemampuan tubuh dalam beradaptasi terhadap latihan fisik.
Mekanisme biologis yang mendasari fenomena ini masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, para peneliti menduga bahwa aktivitas lanjutan neuron SF1 setelah olahraga berperan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan glukosa dalam tubuh. Proses ini memungkinkan organ seperti otot, jantung, dan paru-paru beradaptasi lebih cepat terhadap peningkatan intensitas latihan.
Penelitian ini juga membuka peluang penerapan di bidang kesehatan dan rehabilitasi. Para ilmuwan berharap temuan ini dapat membantu mengembangkan metode baru untuk menjaga aktivitas fisik pada lansia serta mendukung proses pemulihan pada individu yang mengalami stroke atau cedera. Selain itu, hasil penelitian ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh atlet untuk meningkatkan performa dan mempercepat pemulihan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan daya tahan akibat olahraga tidak hanya bergantung pada adaptasi fisik, tetapi juga melibatkan perubahan aktivitas otak, khususnya pada neuron yang tetap aktif setelah latihan, yang berperan dalam membantu tubuh beradaptasi, meningkatkan efisiensi energi, dan memperkuat fungsi kardiovaskular secara keseluruhan.
Diolah dari artikel:
“The real reason exercise makes you stronger isn’t what you think” oleh Cell Press. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260515233346.htm