Misteri 320 Juta Tahun Tulang Pelindung Reptil Terpecahkan?

Sumber ilustrasi: Unsplash
22 Mei 2026 13.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.05.2026] Asal-usul tulang pada vertebrata adalah salah satu topik penting dalam studi evolusi. Pemahaman umum menyebutkan bahwa tulang berkembang sebagai bagian dari kerangka internal yang menopang tubuh. Akan tetapi bukti evolusi menunjukkan bahwa struktur tulang pertama justru muncul di kulit sebelum berkembang menjadi sistem rangka internal seperti yang dikenal saat ini. Fenomena ini menempatkan tulang kulit sebagai salah satu fitur awal dalam sejarah evolusi vertebrata.

Tulang kulit, yang dikenal sebagai osteoderm, ditemukan pada berbagai kelompok hewan seperti ikan, reptil, hingga dinosaurus. Keberadaan struktur ini yang terus muncul kembali pada garis keturunan yang berbeda menimbulkan pertanyaan besar dalam biologi evolusi. Para ilmuwan selama bertahun-tahun mencoba memahami apakah osteoderm berasal dari satu nenek moyang yang sama atau berevolusi secara terpisah di berbagai kelompok.

Keterbatasan data fosil dan kompleksitas hubungan evolusi antar spesies membuat pertanyaan ini sulit dijawab secara pasti. Perdebatan mengenai asal-usul osteoderm bahkan telah berlangsung selama lebih dari satu abad tanpa kesimpulan yang jelas.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Biological Journal of the Linnean Society berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan menggabungkan bukti fosil dan metode komputasi modern. Studi ini merekonstruksi sekitar 320 juta tahun evolusi tulang kulit pada reptil dengan menganalisis 643 spesies, baik yang masih hidup maupun yang telah punah.

Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk menguji berbagai kemungkinan jalur evolusi secara sistematis. Data dari setiap spesies memberikan potongan informasi yang kemudian disatukan untuk membentuk gambaran evolusi yang lebih utuh. Dengan metode ini, para peneliti dapat menyaring ribuan skenario evolusi menjadi satu penjelasan yang koheren.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa osteoderm tidak berasal dari satu nenek moyang tunggal, melainkan berevolusi secara independen pada berbagai garis keturunan kadal. Temuan ini mengakhiri perdebatan panjang yang sebelumnya belum menemukan jawaban pasti mengenai asal-usul struktur tersebut.

Secara historis, tulang kulit pertama kali muncul sekitar 475 juta tahun lalu pada vertebrata awal dalam bentuk eksoskeleton yang kompleks. Kerangka internal berbahan tulang baru berkembang sekitar 50 juta tahun kemudian. Sepanjang waktu, kemampuan kulit untuk membentuk jaringan tulang terus muncul kembali, termasuk pada sisik ikan dan osteoderm pada hewan darat.

Pada kelompok kadal, osteoderm diperkirakan mulai berkembang pada periode Jurassic Akhir hingga Cretaceous Awal, lebih dari 100 juta tahun lalu. Periode ini ditandai oleh perubahan lingkungan yang signifikan serta keberadaan dinosaurus besar seperti Brachiosaurus, Allosaurus, dan Stegosaurus. Dalam kondisi tersebut, lapisan pelindung kemungkinan memberikan keuntungan adaptif terhadap tekanan lingkungan dan ancaman predator.

Setelah fase awal tersebut, sebagian besar kelompok mempertahankan osteoderm sebagai bagian dari morfologi mereka. Namun, terdapat pengecualian penting pada kelompok biawak atau goanna. Nenek moyang kelompok ini kehilangan osteoderm, kemungkinan karena gaya hidup aktif yang membutuhkan efisiensi gerak tanpa beban tambahan.

Fenomena menarik terjadi ketika keturunan kelompok ini mencapai Australia sekitar 20 juta tahun lalu. Pada periode Miocene, ketika kondisi lingkungan menjadi lebih kering, osteoderm kembali muncul pada kelompok tersebut. Struktur ini diduga membantu mengurangi kehilangan air serta memberikan perlindungan di habitat yang lebih terbuka dan kering.

Temuan ini menjadi signifikan karena goanna merupakan satu-satunya kelompok kadal yang diketahui mendapatkan kembali osteoderm setelah kehilangannya. Kondisi ini menantang prinsip evolusi yang dikenal sebagai hukum Dollo, yang menyatakan bahwa sifat kompleks yang telah hilang tidak dapat berevolusi kembali.

Roy Ebel sebagai penulis studi menjelaskan bahwa penelitian ini berhasil menggabungkan bukti dari masa lalu dengan teknologi modern untuk menjawab pertanyaan yang telah lama menjadi perdebatan. Roy Ebel juga menekankan bahwa penggunaan metode komputasi memungkinkan analisis skala besar yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan hanya dengan pendekatan tradisional.

Selain menjawab pertanyaan historis, penelitian ini membuka peluang baru untuk memahami mekanisme genetik dan perkembangan yang mendasari pembentukan osteoderm. Pola evolusi yang ditemukan juga menunjukkan bahwa perubahan biologis sering kali terjadi secara kompleks dan tidak selalu mengikuti jalur linear.

Penelitian mengenai evolusi osteoderm pada reptil menunjukkan bahwa struktur tulang kulit muncul berulang kali secara independen selama ratusan juta tahun, bukan berasal dari satu nenek moyang tunggal. Temuan ini mengungkap dinamika evolusi yang kompleks, termasuk kemampuan unik goanna untuk mendapatkan kembali sifat yang sebelumnya hilang, sekaligus memperluas pemahaman tentang bagaimana organisme beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sepanjang sejarah Bumi.

Diolah dari artikel:
“Scientists solve 320-million-year mystery of reptile bone armor” oleh The Conversation, ditulis oleh Roy Ebel. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260520093709.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *