Sumber ilustrasi: Unsplash
24 Mei 2026 08.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.05.2026] Banyak orang merasa belajar bahasa baru adalah sesuatu yang sulit dan menakutkan. Adanya pengalaman masa sekolah yang penuh tekanan, terutama dalam menghafal tata bahasa, sering kali meninggalkan kesan negatif yang bertahan hingga dewasa. Padahal, penelitian dan pandangan para ahli bahasa menunjukkan bahwa proses belajar bahasa jauh lebih fleksibel, sosial, dan menyenangkan dibandingkan yang selama ini dibayangkan. Perkembangan teknologi, aplikasi digital, serta akses terhadap budaya global kini semakin mempermudah siapa pun untuk mempelajari bahasa baru.
Para pakar pendidikan bahasa, termasuk Abigail Parrish dan Jessica Mary Bradley, menjelaskan bahwa manfaat belajar bahasa tidak hanya terbatas pada kemampuan komunikasi. Proses ini juga memberikan keuntungan kognitif, meningkatkan empati, serta membuka pemahaman lintas budaya. Namun, sejumlah mitos yang telah lama dipercaya justru menjadi penghalang utama bagi banyak orang untuk memulai.
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa belajar bahasa sepenuhnya bergantung pada penguasaan tata bahasa dan kosakata. Para ahli menilai bahwa pemahaman terhadap budaya, sejarah, dan cara orang berinteraksi justru merupakan bagian paling menarik dari proses tersebut. Kemampuan berbahasa tidak berdiri sendiri, namun berkaitan erat dengan konteks sosial dan budaya. Pendekatan ini membantu seseorang mengembangkan apa yang disebut sebagai intercultural agility, yaitu kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara empatik dengan orang dari latar belakang berbeda.
Mitos lain yang kerap muncul adalah ketakutan membuat kesalahan. Sistem pembelajaran formal sering menekankan ketepatan, sehingga banyak orang merasa harus selalu benar. Namun demikian dalam komunikasi sehari-hari, bahkan penutur ahli pun sering melakukan kesalahan tanpa menghambat pemahaman. Para peneliti menilai bahwa pendekatan yang lebih santai dan berfokus pada komunikasi justru lebih efektif. Konsep seperti “language hacking” yang dipopulerkan Benny Lewis menekankan pentingnya kemampuan berbicara dan berinteraksi dibandingkan kesempurnaan tata bahasa.
Selain itu, banyak orang merasa terlalu berat untuk memulai dari awal dengan bahasa baru. Pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Bahasa yang dipelajari di sekolah sebenarnya dapat menjadi dasar untuk memahami struktur bahasa lain. Namun, motivasi pribadi memainkan peran yang jauh lebih penting. Ketertarikan terhadap budaya tertentu atau kebutuhan praktis seperti pekerjaan dan perjalanan dapat menjadi pendorong utama dalam proses belajar.
Belajar bahasa juga sering dianggap sebagai aktivitas individual. Para ahli menolak anggapan tersebut dengan menekankan pentingnya interaksi sosial. Bergabung dalam komunitas, berbicara dengan penutur asli, atau bahkan belajar bersama keluarga dapat meningkatkan motivasi. Teknologi modern seperti aplikasi bahasa juga memungkinkan proses belajar menjadi lebih kolaboratif dan menyenangkan.
Mitos terakhir adalah anggapan bahwa belajar bahasa membutuhkan usaha yang sangat berat. Meskipun proses sistematis memang menantang, kemajuan teknologi telah membuatnya jauh lebih mudah diakses. Aplikasi pembelajaran memungkinkan seseorang belajar kapan saja dan di mana saja, bahkan secara gratis. Selain itu, metode yang lebih interaktif dan berbasis hiburan membantu menjaga motivasi dan mempercepat pemahaman.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa alasan pribadi memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan belajar bahasa. Keinginan untuk berkomunikasi dengan keluarga atau menjelajahi budaya baru dapat menjadi faktor pendorong yang kuat. Pendekatan yang relevan dengan kebutuhan individu terbukti lebih efektif dibandingkan metode yang kaku dan seragam.
Hambatan utama dalam belajar bahasa bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pada persepsi yang keliru tentang proses pembelajaran itu sendiri. Dengan memahami bahwa komunikasi lebih penting daripada kesempurnaan, serta memanfaatkan teknologi dan interaksi sosial, proses belajar bahasa dapat menjadi lebih mudah, menyenangkan, dan relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Diolah dari artikel:
“Think you’re bad at languages? Experts say these 5 myths are to blame” oleh Abigail Parrish dan Jessica Mary Bradley. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260521072412.htm