Makanan Takeaway Mengandung Garam Lebih Banyak dari yang Tertulis?

Sumber ilustrasi: Pixabay
08 Juli 2026 11.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.07.2026] Makanan takeaway menjadi pilihan praktis bagi banyak orang, meski kandungan gizinya sering kali sulit dipastikan. Salah satu unsur yang paling perlu diperhatikan adalah kandungan garam. Konsumsi garam berlebihan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Karena itu, informasi kandungan garam pada menu seharusnya membantu konsumen membuat pilihan makanan yang lebih sehat.

Dalam penelitian terbaru dari University of Reading menunjukkan bahwa banyak makanan takeaway populer di Inggris mengandung garam lebih tinggi daripada yang tercantum pada label menu. Dalam beberapa kasus, satu porsi makanan bahkan mengandung garam jauh melebihi batas asupan harian yang direkomendasikan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa 47 persen makanan takeaway yang diuji memiliki kandungan garam lebih tinggi daripada nilai yang dinyatakan. Jenis makanan seperti kari, pasta, dan pizza termasuk yang paling sering memiliki kadar garam lebih tinggi dari informasi yang diberikan kepada konsumen.

Tidak semua restoran mencantumkan informasi kadar garam pada menu. Dari makanan yang dibeli di restoran independen di Reading, beberapa porsi mengandung lebih dari 10 gram garam. Angka ini jauh melampaui rekomendasi asupan garam harian orang dewasa di Inggris, yaitu 6 gram per hari.

Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah bahwa toko tradisional fish and chips justru menyajikan beberapa makanan dengan kadar garam paling rendah. Penyebabnya adalah garam biasanya baru ditambahkan setelah makanan dimasak dan hanya jika pelanggan memintanya. Dengan pola tersebut, makanan dari gerai fish and chips umumnya mengandung garam lebih sedikit dibandingkan banyak pilihan takeaway lainnya.

Profesor Gunter Kuhnle dari University of Reading, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa studi dilakukan karena tim peneliti menduga banyak label garam pada menu tidak akurat. Menurut Kuhnle, restoran sulit memberikan nilai kandungan garam yang benar-benar tepat tanpa mengukur setiap makanan secara langsung.

Variasi metode memasak, jenis bahan yang digunakan, dan ukuran porsi membuat informasi pada label makanan sering kali lebih mendekati perkiraan daripada pengukuran pasti. Karena itu, konsumen hampir tidak mungkin mengetahui secara akurat berapa banyak garam yang ditambahkan ke dalam makanan yang mereka beli.

Kuhnle juga menilai bahwa industri makanan kemasan yang dijual di toko telah berupaya menurunkan kadar garam dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi di luar rumah masih sering mengandung garam tinggi. Label menu memang dimaksudkan untuk membantu masyarakat memilih makanan dengan lebih baik, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa label tersebut sebaiknya dipahami sebagai panduan kasar, bukan ukuran yang sepenuhnya akurat.

Untuk melakukan penelitian ini, tim membeli 39 makanan takeaway dari 23 lokasi di Reading. Sampel tersebut mencakup restoran jaringan nasional dan usaha takeaway independen. Para peneliti kemudian menganalisis kandungan garam dari berbagai jenis makanan dan membandingkannya dengan informasi yang tersedia pada menu.

Hasilnya menunjukkan bahwa pizza daging memiliki konsentrasi garam tertinggi, yaitu sekitar 1,6 gram garam per 100 gram makanan. Angka ini memperlihatkan bahwa makanan dengan bahan olahan daging dan keju dapat menyumbang garam dalam jumlah besar meskipun porsinya tampak biasa.

Hidangan pasta menjadi kelompok makanan dengan kandungan garam tertinggi per porsi. Rata-rata satu porsi pasta mengandung 7,2 gram garam, yang berarti sudah melebihi batas harian yang direkomendasikan dalam satu kali makan. Salah satu hidangan pasta bahkan mengandung 11,2 gram garam.

Hidangan kari menunjukkan variasi paling besar dalam kandungan garam. Dalam penelitian tersebut, kadar garam pada kari berkisar dari 2,3 gram hingga 9,4 gram per porsi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa makanan dengan nama atau jenis serupa dapat memiliki kandungan garam yang sangat berbeda tergantung pada bahan, resep, dan cara memasak.

Kentang goreng dari toko fish and chips memiliki kadar garam paling rendah, yaitu hanya sekitar 0,2 gram per porsi. Hal ini berbeda dengan kentang goreng dari gerai takeaway lain yang rata-rata mengandung sekitar 1 gram garam per porsi. Perbedaan tersebut kemungkinan berasal dari cara penambahan garam setelah proses memasak, bukan saat proses produksi berlangsung.

Temuan ini penting karena konsumsi garam berlebihan merupakan masalah kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa terlalu banyak mengonsumsi garam berkontribusi terhadap sekitar 1,8 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun. Karena itu, akurasi informasi kandungan garam menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa informasi kandungan garam pada makanan takeaway belum tentu mencerminkan kadar sebenarnya. Hampir setengah dari makanan yang diuji mengandung garam lebih tinggi daripada yang tertera, dengan beberapa hidangan bahkan melampaui batas harian dalam satu porsi. Temuan ini menegaskan pentingnya kehati-hatian saat memilih makanan takeaway, sekaligus menunjukkan perlunya pelabelan yang lebih akurat agar konsumen dapat memahami risiko konsumsi garam berlebih dan membuat pilihan makanan yang lebih sehat.

Diolah dari artikel:
“Takeaway meals contain more salt than advertised, study finds” oleh University of Reading. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260625060218.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *