Sumber ilustrasi: Unsplash
07 Juli 2026 16.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.07.2026] Pemeriksaan kadar kolesterol menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyakit jantung dan stroke. Selama puluhan tahun, kadar LDL atau yang dikenal sebagai kolesterol “jahat” menjadi acuan utama bagi dokter untuk menentukan apakah seseorang memerlukan terapi penurun kolesterol, seperti statin. Meskipun metode tersebut telah terbukti membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, para ilmuwan mulai mempertanyakan apakah LDL benar-benar merupakan indikator terbaik untuk menilai risiko seseorang.
Sebuah penelitian terbaru dari Northwestern Medicine yang dipublikasikan di JAMA menunjukkan bahwa pemeriksaan apolipoprotein B (apoB) dapat memberikan gambaran risiko penyakit jantung yang lebih akurat dibandingkan pengukuran LDL maupun kolesterol non-HDL. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan apoB sebagai dasar penentuan terapi mampu mencegah lebih banyak serangan jantung dan stroke sekaligus tetap memberikan manfaat ekonomi bagi sistem layanan kesehatan.
Penyakit jantung hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika Serikat dan menyerap biaya kesehatan yang sangat besar setiap tahunnya. Penyakit ini berkembang ketika partikel-partikel pembawa kolesterol terperangkap di dalam dinding arteri, kemudian membentuk plak yang mempersempit pembuluh darah. Proses tersebut secara bertahap meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Menurut Ciaran Kohli-Lynch, asisten profesor kedokteran preventif di Northwestern University Feinberg School of Medicine sekaligus penulis utama penelitian, penggunaan apoB sebagai panduan dalam meningkatkan terapi penurun kolesterol mampu mencegah lebih banyak kejadian kardiovaskular dibandingkan praktik yang digunakan saat ini. Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat kesehatan yang diperoleh sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh sistem layanan kesehatan di Amerika Serikat.
Kohli-Lynch menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan analisis komprehensif pertama yang menunjukkan bahwa penggunaan apoB sebagai dasar pengambilan keputusan terapi bukan hanya lebih efektif, tetapi juga hemat biaya.
Selama ini dokter menggunakan kadar LDL dan kolesterol non-HDL sebagai dasar menentukan kapan pasien perlu memulai atau meningkatkan pengobatan penurun kolesterol. Kedua pemeriksaan tersebut memang memberikan informasi penting, namun para peneliti menilai keduanya belum sepenuhnya menggambarkan risiko penyakit kardiovaskular yang sebenarnya.
Menurut Kohli-Lynch, berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa apoB lebih baik dalam mengidentifikasi individu yang berisiko karena pemeriksaan tersebut menghitung jumlah seluruh partikel pembawa kolesterol yang berpotensi menyebabkan pembentukan plak pada pembuluh darah. Berbeda dengan pemeriksaan kolesterol konvensional yang hanya mengukur kadar kolesterol, apoB secara langsung mengukur jumlah partikel pembawanya sehingga dinilai lebih representatif terhadap risiko penyakit.
Meskipun bukti ilmiah mengenai manfaat apoB terus bertambah, pemeriksaan tersebut masih jarang digunakan dalam praktik medis sehari-hari. Salah satu penyebabnya adalah karena pemeriksaan apoB biasanya memerlukan tes darah tambahan di luar panel kolesterol standar sehingga meningkatkan biaya sekaligus menambah ketidakpraktisan bagi pasien.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim peneliti kemudian mengajukan pertanyaan apakah manfaat tambahan yang diberikan apoB cukup besar untuk membenarkan biaya pemeriksaan yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan LDL sebagai panduan terapi.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti mengembangkan model simulasi komputer yang merepresentasikan sekitar 250.000 orang dewasa di Amerika Serikat yang memenuhi syarat mendapatkan terapi statin tetapi belum mengalami penyakit kardiovaskular.
Model tersebut membandingkan tiga pendekatan yang digunakan untuk menentukan target terapi, yaitu kadar LDL dengan target di bawah 100 mg/dL, kolesterol non-HDL dengan target di bawah 118 mg/dL, dan apoB dengan target di bawah 78,7 mg/dL. Apabila target belum tercapai, pengobatan ditingkatkan secara bertahap, dimulai dari penggunaan statin yang lebih kuat hingga penambahan obat ezetimibe bila diperlukan.
Selama simulasi berlangsung, para peneliti memperkirakan berbagai hasil kesehatan, mulai dari jumlah serangan jantung dan stroke, harapan hidup, kualitas hidup, hingga total biaya pelayanan kesehatan sepanjang masa hidup peserta.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa strategi berbasis apoB secara konsisten menghasilkan luaran kesehatan yang lebih baik dibandingkan pendekatan berbasis LDL maupun non-HDL. Penggunaan apoB mampu mencegah lebih banyak kejadian penyakit kardiovaskular, meningkatkan kualitas hidup, serta tetap memenuhi kriteria sebagai strategi yang hemat biaya.
Temuan tersebut menjadi semakin penting karena pilihan terapi penurun kolesterol kini semakin beragam. Pada awal tahun ini, American Heart Association bersama sepuluh organisasi medis lainnya juga menerbitkan pedoman terbaru yang menganjurkan agar banyak orang mulai menjalani terapi penurun kolesterol pada usia yang lebih muda dibandingkan sebelumnya.
Kohli-Lynch menilai perkembangan tersebut membuat kemampuan mengidentifikasi individu yang benar-benar membutuhkan terapi intensif menjadi semakin penting. Pemeriksaan yang lebih akurat akan membantu dokter memberikan pengobatan kepada kelompok yang memperoleh manfaat terbesar sekaligus menghindari terapi yang tidak diperlukan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan apoB berpotensi menjadi alat yang lebih baik dibandingkan pemeriksaan kolesterol konvensional dalam menentukan terapi penurun kolesterol. Dengan menghitung jumlah partikel pembawa kolesterol secara langsung, apoB mampu mengidentifikasi risiko penyakit jantung secara lebih akurat, mencegah lebih banyak serangan jantung dan stroke, serta tetap memberikan nilai ekonomi yang baik bagi sistem layanan kesehatan. Temuan tersebut dapat menjadi bagian dari penyempurnaan pedoman pemeriksaan kolesterol dan pengobatan penyakit kardiovaskular di masa mendatang.
Diolah dari artikel:
“Millions may be getting the wrong cholesterol test” oleh Northwestern University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260626125714.htm