Sumber ilustrasi: Pixabay
06 Juli 2026 17.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [06.07.2026] Usia panjang sering dianggap sebagai hasil dari kombinasi antara faktor keturunan dan gaya hidup. Orang yang mampu hidup hingga usia 100 tahun atau lebih biasanya memiliki perlindungan biologis tertentu sekaligus kebiasaan sehat yang mendukung tubuh tetap berfungsi dengan baik. Para peneliti memperkirakan bahwa genetika dapat menyumbang hingga 50 persen terhadap kemampuan seseorang mencapai usia sangat lanjut, sementara pola makan berbasis nabati, aktivitas fisik alami, dan hubungan sosial yang kuat juga ikut berperan penting.
Selama ini para ilmuwan telah menemukan bahwa banyak centenarian, yakni orang yang hidup hingga usia 100 tahun, memiliki ciri khas pada sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi perubahan metabolisme yang menyertai penuaan sehat masih belum sepenuhnya dipahami. Pertanyaan adalah, apakah tubuh orang berumur panjang memiliki tanda kimia tertentu yang membedakan mereka dari proses penuaan biasa?
Penelitian terbaru dari Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine memberikan petunjuk baru mengenai pertanyaan tersebut. Studi ini menemukan pola metabolit darah yang khas pada centenarian. Pola tersebut tampaknya bukan sekadar tanda bertambahnya usia, melainkan berkaitan dengan umur panjang dan risiko kematian yang lebih rendah.
Para peneliti menemukan bahwa orang yang mencapai usia 100 tahun memiliki kadar tinggi pada beberapa jenis asam empedu primer dan sekunder. Mereka juga mempertahankan kadar beberapa steroid tertentu. Kombinasi metabolit tersebut berbeda dari pola yang biasanya terlihat pada penuaan umum.
Stefano Monti, profesor kedokteran di Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine, menjelaskan bahwa penelitian ini menunjukkan adanya sidik jari kimia dalam darah yang dapat diukur dan berkaitan dengan kehidupan yang sangat panjang serta sehat. Menurut Monti, memahami sidik jari tersebut dapat membantu mengidentifikasi jalur biologis yang berperan melindungi manusia dari penurunan fungsi akibat penuaan.
Untuk melakukan penelitian ini, tim menganalisis sampel darah dari 213 peserta New England Centenarian Study, salah satu studi terbesar mengenai orang berumur sangat panjang di Amerika Utara. Penelitian ini dipimpin oleh Thomas Perls dan melibatkan 70 centenarian, anak-anak mereka, serta kelompok kontrol dengan usia yang sebanding.
Para peneliti menggunakan pendekatan untargeted metabolomics assay untuk mengukur sekitar 1.495 molekul kecil dalam serum darah. Metode ini memungkinkan mereka melihat gambaran luas mengenai metabolit yang beredar dalam darah tanpa hanya mencari molekul tertentu sejak awal.
Tim kemudian membandingkan kadar metabolit antara centenarian, keturunan mereka, dan kelompok kontrol. Mereka juga mengidentifikasi molekul yang berubah mengikuti usia kronologis. Untuk memperkuat hasil, temuan tersebut dibandingkan dengan empat studi metabolomik lain, baik yang melibatkan individu berumur panjang maupun yang tidak.
Langkah perbandingan lintas studi ini penting karena dapat menunjukkan sinyal metabolik mana yang muncul secara konsisten. Dengan demikian, pola yang ditemukan tidak hanya berasal dari satu kelompok peserta, tetapi memiliki kemungkinan lebih besar sebagai ciri biologis yang relevan terhadap penuaan sehat.
Selain membandingkan metabolit antar kelompok, para peneliti juga memeriksa hubungan antara metabolit tertentu dengan lamanya peserta bertahan hidup setelah sampel darah diambil. Analisis ini membantu melihat apakah pola kimia tertentu berkaitan dengan peluang hidup yang lebih panjang.
Tim juga mengembangkan model machine learning yang disebut metabolomic clock. Model ini memperkirakan usia biologis seseorang berdasarkan kadar metabolit dalam darah. Para peneliti kemudian mengevaluasi apakah seseorang yang secara biologis lebih muda atau lebih tua dibandingkan usia kronologisnya memiliki perbedaan dalam peluang bertahan hidup.
Menurut para peneliti, metabolit dan pola metabolisme yang ditemukan dalam studi ini dapat menjadi biomarker penting di masa depan. Biomarker tersebut berpotensi digunakan untuk memperkirakan usia biologis, mengidentifikasi orang yang memiliki risiko lebih tinggi atau lebih rendah terhadap penurunan fungsi akibat penuaan, serta memantau respons terhadap perubahan gaya hidup atau obat-obatan.
Beberapa jalur biologis juga dinilai layak diteliti lebih jauh sebagai target terapi atau pendekatan nutrisi. Jalur tersebut mencakup metabolisme asam empedu, jalur yang berkaitan dengan NAD, metabolit bakteri usus, penanda stres oksidatif, serta steroid tertentu. Semua jalur ini dapat berhubungan dengan cara tubuh mempertahankan fungsi biologis saat usia bertambah.
Monti berharap penelitian ini dapat membantu menemukan tanda metabolik penuaan sehat yang dapat dipantau dan ditargetkan. Monti juga menekankan bahwa desain studi yang bersifat potong lintang belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Temuan ini masih perlu divalidasi dalam populasi yang lebih besar dan lebih beragam sebelum dapat diterjemahkan menjadi tes atau intervensi klinis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa darah orang berumur panjang menyimpan pola kimia yang berbeda dari penuaan biasa. Kadar asam empedu tertentu, steroid yang tetap terjaga, serta pola metabolit lain dapat menjadi petunjuk mengenai jalur biologis yang membantu centenarian tetap sehat lebih lama. Jika temuan ini berhasil dikonfirmasi dalam penelitian lebih luas, sidik jari metabolik dalam darah dapat menjadi dasar bagi tes usia biologis dan strategi baru untuk membantu manusia hidup lebih sehat, aktif, dan mandiri hingga usia lanjut.
Diolah dari artikel:
“The secret to healthy aging may be hidden in your blood” oleh Boston University School of Medicine. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260625060212.htm