Kembang Api Meninggalkan Polusi?

Sumber ilustrasi: Pixabay
06 Juli 2026 14.20 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.07.2026] Kembang api identik dengan perayaan besar, mulai dari pergantian tahun hingga festival budaya dan perayaan besar lainnya. Ledakan cahaya dan suara yang spektakuler sering kali menjadi pusat perhatian, sementara dampak yang ditinggalkannya setelah pertunjukan usai jarang diperhatikan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sisa kembang api tidak berhenti pada abu dan asap yang tampak sesaat, tetapi juga meninggalkan berbagai polutan yang dapat memengaruhi kualitas udara, kimia air, hingga ekosistem lingkungan.

Tiga studi terbaru yang dipublikasikan dalam sejumlah jurnal milik American Chemical Society (ACS) memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai dampak tersebut. Para peneliti meneliti residu petasan di perairan, partikel udara selama acara besar, serta senyawa kimia yang dilepaskan ke atmosfer ketika kembang api dinyalakan.

Studi pertama berfokus pada sisa-sisa petasan yang tertinggal setelah terbakar. Residu tersebut diketahui mengandung bahan bakar yang terbakar sebagian, garam logam, berbagai zat aditif, serta potongan kemasan yang hangus. Meskipun tampak tidak berbahaya, material tersebut masih dapat berinteraksi dengan lingkungan setelah masuk ke sungai maupun danau.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Environmental Science & Technology, para ilmuwan menemukan bahwa residu petasan melepaskan sejumlah besar ion logam seperti kalium dan mangan, serta bahan organik terlarut seperti fenol sederhana dan senyawa yang mengandung sulfur ketika berada di dalam air. Pada saat yang sama, material padat yang tersisa juga menyerap sebagian senyawa terlarut yang sudah ada di perairan, termasuk molekul organik yang lebih besar dan kompleks.

Perubahan komposisi kimia tersebut diperkirakan dapat memengaruhi kumpulan mikroba dan keseimbangan ekosistem perairan, terutama apabila limbah petasan terus-menerus terbawa ke sungai dan danau setelah festival atau perayaan berskala besar. Para peneliti menilai bahwa pengumpulan dan pembuangan sisa kembang api secara benar dapat membantu mengurangi dampak tersebut.

Penelitian kedua mengkaji kontribusi kembang api terhadap polusi udara selama sebuah acara olahraga besar yang berlangsung beberapa hari di Inggris. Selama kegiatan berlangsung, para peneliti memantau kadar partikel udara berukuran kasar maupun halus untuk mengetahui sumber utama pencemaran.

Hasil pengamatan menunjukkan adanya beberapa lonjakan tajam partikel udara. Sebagian besar berasal dari emisi aktivitas memasak para pedagang makanan serta debu yang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan. Namun demikian, selama upacara pembukaan dan penutupan, muncul lonjakan lain yang berkaitan langsung dengan pertunjukan kembang api.

Lonjakan pertama terjadi ketika ribuan pengunjung mulai memasuki lokasi acara sehingga meningkatkan kadar debu di udara. Lonjakan kedua, yang sedikit lebih rendah, muncul bersamaan dengan pertunjukan kembang api. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kembang api memang memberikan tambahan polusi partikel halus, meskipun bukan satu-satunya sumber pencemaran selama acara berlangsung.

Berdasarkan perhitungan para peneliti, peserta yang menghadiri seluruh rangkaian acara selama beberapa hari terpapar tingkat polusi udara yang melebihi batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perayaan publik berskala besar dapat meningkatkan paparan terhadap partikel halus yang diketahui berisiko bagi kesehatan.

Studi ketiga meneliti kelompok senyawa kimia yang disebut amina (amines), yaitu bahan yang digunakan dalam beberapa formulasi kembang api. Senyawa ini dapat bereaksi di atmosfer membentuk aerosol yang berkontribusi terhadap munculnya kabut asap serta penurunan kualitas udara.

Untuk memahami proses tersebut, para peneliti mengukur kadar amina dalam bentuk gas maupun partikel udara selama perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan pinggiran kota di Tiongkok. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan periode perayaan dengan periode tanpa aktivitas kembang api.

Penelitian yang juga dipublikasikan di Environmental Science & Technology Letters menunjukkan bahwa kadar beberapa jenis amina meningkat secara signifikan selama perayaan berlangsung. Peningkatan terbesar terjadi ketika pertunjukan kembang api mencapai puncaknya. Selain itu, para peneliti juga mencatat kenaikan kadar polutan lain yang umum dihasilkan kembang api, seperti partikel halus di udara serta ion sulfat dan kalium.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap yang sering bertahan setelah pesta kembang api tidak hanya berasal dari partikel asap yang terlihat, tetapi juga dari berbagai senyawa kimia yang bereaksi di atmosfer. Proses tersebut menambah kompleksitas dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penggunaan kembang api.

Ketiga penelitian ini memperlihatkan bahwa dampak kembang api tidak berhenti ketika ledakan terakhir menghilang di langit. Residu yang tertinggal dapat mengubah kimia perairan, partikel halus yang dilepaskan meningkatkan pencemaran udara selama perayaan besar, sementara senyawa kimia seperti amina ikut berkontribusi terhadap pembentukan kabut asap. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai konsekuensi lingkungan dari penggunaan kembang api serta pentingnya pengelolaan limbah dan pengurangan emisi untuk meminimalkan dampaknya.

Diolah dari artikel:
“New research reveals the hidden pollution left behind by fireworks” oleh American Chemical Society. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260701205009.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *