Sumber ilustrasi: Pixabay
30 Mei 2026 11.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [30.05.2026] Pernahkan anda melihat film-film mengenai bencana seperti Day After Tomorrow? Film ini menunjukkan dampak yang terjadi jika iklim Bumi mengalami perubahan yang sangat drastis. Meskipun apa yang terjadi di film tersebut dilebih-lebihkan, namun ilmuwan-ilmuwan telah mengetahui bahwa iklim Bumi dapat berubah secara drastis dalam waktu yang relatif singkat. Pada Zaman Es terakhir, suhu di Greenland diketahui pernah meningkat hingga sekitar 16 derajat Celsius hanya dalam beberapa dekade. Peristiwa perubahan cepat seperti Dansgaard-Oeschger dan Heinrich juga menunjukkan bahwa sistem iklim global mampu mengalami reorganisasi besar dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan perubahan orbit Bumi yang berlangsung lambat. Selama bertahun-tahun, banyak peneliti menganggap perubahan iklim cepat tersebut terutama berkaitan dengan pertumbuhan dan runtuhnya lapisan es raksasa di kutub.
Akan tetapi, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana perubahan iklim cepat juga dapat terjadi pada periode rumah kaca di masa lalu Bumi, ketika lapisan es hampir tidak ada. Studi terbaru yang dipimpin tim dari China University of Geosciences mencoba menjawab misteri tersebut dengan meneliti sedimen purba dari periode Kapur Akhir sekitar 83 juta tahun lalu. Pada masa tersebut, kadar karbon dioksida atmosfer sangat tinggi dan kondisi Bumi jauh lebih hangat dibandingkan saat ini.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa perubahan kecil pada goyangan sumbu Bumi atau preesi orbit dapat memicu perubahan iklim cepat bahkan tanpa keberadaan lapisan es besar. Tim peneliti internasional yang melibatkan ilmuwan dari Belgia, Austria, dan Tiongkok menggunakan inti sedimen dari Cekungan Songliao di Tiongkok untuk menelusuri pola perubahan iklim purba.
Profesor Chengshan Wang bersama tim peneliti menganalisis data geokimia, mineral, dan simulasi bioturbasi untuk memahami pola iklim selama era dinosaurus tersebut. Penelitian menemukan adanya siklus iklim lembap dan kering yang terjadi secara berulang setiap sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun. Pola ini ternyata berkaitan erat dengan perubahan orbit dan goyangan sumbu rotasi Bumi.
Bumi diketahui tidak berputar secara sepenuhnya stabil. Sumbu rotasi planet mengalami gerakan bergoyang seperti gasing yang disebut preesi aksial. Satu siklus penuh gerakan ini berlangsung sekitar 26.000 tahun. Ketika preesi berinteraksi dengan perubahan bentuk orbit elips Bumi, terbentuklah siklus iklim besar dengan periode sekitar 19.000 dan 23.000 tahun.
Para peneliti menjelaskan bahwa pengaruh siklus tersebut sangat kuat di wilayah tropis. Tidak seperti wilayah lintang tinggi yang hanya mengalami satu puncak radiasi Matahari setiap tahun, daerah tropis menerima dua puncak radiasi tahunan di sekitar ekuinoks dan dua periode minimum di sekitar solstis. Pola unik tersebut menciptakan empat puncak kontras radiasi Matahari musiman setiap tahun dan menghasilkan siklus seperempat preesi dengan periode sekitar 5.000 tahun.
Analisis spektral pada sedimen menunjukkan bahwa siklus 5.000 tahunan tersebut dapat memicu osilasi iklim yang bahkan lebih cepat, yakni antara 1.800 hingga 4.000 tahun, melalui interaksi iklim nonlinier. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan distribusi cahaya Matahari di wilayah ekuator saja dapat mendorong perubahan besar dalam sistem iklim global.
Profesor Michael Wagreich dari University of Vienna menjelaskan bahwa kadar karbon dioksida atmosfer selama periode Kapur Akhir mencapai sekitar 1.000 ppm, angka yang mirip dengan proyeksi kondisi Bumi pada akhir abad ini jika emisi terus meningkat. Menurut Wagreich, kondisi rumah kaca pada era dinosaurus dapat menjadi analog penting untuk memahami masa depan iklim Bumi.
Penulis utama studi, Zhifeng Zhang, menjelaskan bahwa konfigurasi orbit Bumi akan tetap stabil selama miliaran tahun. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara preesi astronomi dengan siklus iklim ribuan tahunan, sehingga osilasi iklim cepat seperti pada era Kapur mungkin juga dapat muncul kembali pada masa depan yang lebih hangat.
Penelitian terbaru ini memperlihatkan bahwa dunia rumah kaca pada masa dinosaurus ternyata tidak stabil seperti yang selama ini dibayangkan. Perubahan kecil pada orbit dan goyangan sumbu Bumi mampu mendorong pergantian kondisi basah dan kering secara berulang dalam skala ribuan tahun. Temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai sensitivitas sistem iklim global terhadap perubahan astronomi serta membantu ilmuwan memahami kemungkinan dinamika iklim ekstrem di masa depan ketika suhu Bumi terus meningkat.
Diolah dari artikel:
“Earth’s orbital wobble triggered rapid climate chaos during the dinosaur age” oleh China University of Geosciences. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260527023216.htm