Sumber ilustrasi: Unsplash
14 Juli 2026 10.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [14.07.2026] Laut dalam selama ini dikenal sebagai salah satu lingkungan paling miskin nutrisi di Bumi. Jauh dari cahaya Matahari, kehidupan di kedalaman samudra bergantung hampir sepenuhnya pada marine snow, yaitu gumpalan kecil material organik yang perlahan tenggelam dari permukaan laut menuju dasar samudra. Selama beberapa dekade, para ilmuwan menganggap sebagian besar karbon dalam marine snow tetap berada di dalam partikel tersebut hingga akhirnya terkubur di sedimen dasar laut sebagai penyimpan karbon jangka panjang.
Namun, sebuah penelitian terbaru dari University of Southern Denmark yang dipublikasikan di Science Advances menunjukkan bahwa proses tersebut ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan. Para peneliti menemukan bahwa tekanan ekstrem di laut dalam menyebabkan marine snow melepaskan karbon dan nitrogen terlarut selama perjalanan menuju dasar laut. Nutrisi yang bocor tersebut langsung dimanfaatkan oleh mikroba yang hidup bebas di air laut, sehingga membuka pemahaman baru mengenai bagaimana kehidupan di laut dalam memperoleh sumber energinya.
Marine snow sendiri tersusun atas alga mati, mikroorganisme, serta berbagai material organik yang saling menggumpal dan perlahan tenggelam melewati kolom air. Ketika partikel-partikel tersebut mencapai kedalaman sekitar 2 hingga 6 kilometer, tekanan hidrostatik yang sangat besar mulai memengaruhi struktur fisiknya.
Penulis utama penelitian sekaligus Associate Professor bidang biologi dari Nordcee dan Danish Center for Hadal Research, Peter Stief, menjelaskan bahwa tekanan di laut dalam bekerja layaknya alat pemeras raksasa yang memaksa senyawa organik terlarut keluar dari partikel. Menurut Stief, materi organik yang keluar tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh mikroba sebagai sumber makanan.
Melalui serangkaian percobaan, para peneliti memperkirakan bahwa marine snow dapat kehilangan hingga sekitar 50 persen kandungan karbon awalnya serta 58 hingga 63 persen kandungan nitrogen awalnya sebelum mencapai dasar laut. Temuan tersebut menunjukkan bahwa jumlah nutrisi yang tersedia bagi mikroba laut dalam jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
Penemuan ini juga membawa konsekuensi penting terhadap pemahaman mengenai siklus karbon global. Selama ini para ilmuwan menganggap sebagian besar karbon yang dibawa marine snow akan terkubur di dasar laut selama jutaan tahun. Proses tersebut merupakan salah satu mekanisme alami Bumi dalam mengurangi karbon dioksida di atmosfer.
Akan tetapi, apabila sebagian besar karbon telah bocor selama perjalanan menuju dasar laut, maka jumlah karbon yang benar-benar tersimpan secara permanen di sedimen kemungkinan lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya. Sebaliknya, karbon tersebut tetap berada dalam bentuk terlarut di laut dalam selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum perlahan kembali menuju permukaan laut dan akhirnya ke atmosfer.
Peter Stief menjelaskan bahwa mekanisme tersebut memengaruhi kemampuan lautan dalam menyimpan karbon serta lamanya karbon tetap berada di dalam sistem laut. Menurut Stief, pemahaman yang lebih baik mengenai proses ini penting untuk meningkatkan akurasi model iklim dan memperkirakan perubahan iklim di masa depan.
Tim peneliti membuat marine snow buatan di laboratorium menggunakan diatom, yaitu alga mikroskopis yang secara alami membentuk gumpalan saat tenggelam di laut, untuk menguji hipotesis tersebut.
Partikel-partikel buatan tersebut kemudian ditempatkan di dalam tangki bertekanan yang terus berputar agar tetap melayang seperti kondisi sebenarnya di laut. Sistem tersebut memungkinkan para peneliti mengukur secara langsung jumlah karbon dan nitrogen yang keluar dari partikel selama berada di bawah tekanan yang menyerupai lingkungan laut dalam.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa hingga setengah kandungan karbon pada setiap partikel dapat bocor selama proses tenggelam. Sebagian besar material yang dilepaskan berupa protein dan karbohidrat, dua jenis senyawa organik yang mudah dimanfaatkan oleh mikroba laut dalam sebagai sumber energi.
Respon mikroorganisme terhadap tambahan nutrisi tersebut berlangsung sangat cepat. Dalam waktu hanya dua hari, jumlah bakteri meningkat hingga sekitar 30 kali lipat, sementara laju respirasi mikroba juga meningkat secara signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa materi organik yang dilepaskan marine snow menjadi sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan di laut dalam.
Para peneliti juga mengamati pola kebocoran yang sama pada beberapa spesies diatom yang berbeda. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa mekanisme ini kemungkinan merupakan proses yang umum terjadi di berbagai samudra di seluruh dunia, bukan hanya pada satu jenis organisme tertentu.
Tahap berikutnya dari penelitian akan dilakukan langsung di lingkungan laut. Tim peneliti berencana mengikuti ekspedisi ke Samudra Arktik menggunakan kapal riset Jerman Polarstern untuk mencari jejak molekuler dari proses kebocoran tersebut di perairan alami. Apabila jejak tersebut berhasil ditemukan, hasil tersebut akan memperkuat bukti bahwa mekanisme yang diamati di laboratorium memang terjadi secara luas di laut dalam.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa laut dalam ternyata memiliki sumber makanan yang selama ini luput dari perhatian para ilmuwan. Tekanan ekstrem tidak hanya memengaruhi kondisi fisik lautan, tetapi juga mengubah cara nutrisi dilepaskan dan dimanfaatkan oleh mikroorganisme. Penemuan ini memperkaya pemahaman mengenai ekosistem laut dalam sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan lautan menyimpan karbon mungkin berbeda dari asumsi yang selama ini digunakan dalam berbagai model perubahan iklim.
Diolah dari artikel:
“Deep-sea life has a secret food source scientists never expected” oleh University of Southern Denmark. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260711010127.htm