Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Juli 2026 18.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.07.2026] Serangga cyborg kini tengah dikembangkan sebagai alat bantu untuk menjangkau lokasi yang terlalu sempit, berbahaya, atau sulit diakses manusia. Dengan tubuh yang kecil, kemampuan bergerak alami, dan kebutuhan energi yang rendah, serangga hidup yang dipasangi sistem elektronik dapat menjadi alternatif bagi robot mini dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Namun, penggunaan serangga cyborg selama ini masih terbatas pada lingkungan kering. Daerah bencana sering kali dipenuhi genangan, saluran air, terowongan terendam, dan ruang dengan kadar oksigen rendah. Kondisi tersebut mendorong para insinyur mengembangkan sebuah “baju selam” mini yang memungkinkan kecoa cyborg bergerak di bawah air hingga tiga jam.
Penelitian yang dipublikasikan pada 29 Juni dalam jurnal Nature Communications tersebut menghasilkan sistem kedap air yang dilengkapi generator oksigen kimia. Oksigen kemudian dialirkan langsung menuju lubang pernapasan kecoa yang disebut spirakel melalui beberapa tabung silikon.
Shinjiro Umezu dari School of Creative Science and Engineering, Waseda University, menjelaskan bahwa desain tersebut menggabungkan cangkang kedap air yang lentur dengan generator oksigen sederhana namun dapat diandalkan. Menurut Umezu, sistem tersebut memungkinkan serangga tetap menggunakan kemampuan gerak alaminya sekaligus terlindungi dari lingkungan yang biasanya tidak dapat ditahan oleh kecoa.
Serangga cyborg merupakan serangga hidup yang dilengkapi pengendali elektronik untuk mengarahkan pergerakannya. Berbeda dengan robot kecil yang bergantung pada baterai berdaya tinggi, serangga cyborg menggunakan otot biologisnya sendiri untuk berjalan, merayap, atau memanjat.
Keunggulan tersebut membuat serangga cyborg lebih hemat energi dan berpotensi bertahan lebih lama dalam operasi lapangan. Teknologi serupa sebelumnya telah digunakan dalam operasi penyelamatan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Myanmar pada Maret 2025, yang menewaskan sedikitnya 3.700 orang dan melukai lebih dari 4.800 orang.
Serangga cyborg yang digunakan dalam operasi di Myanmar dikembangkan di laboratorium Hirotaka Sato, profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, Nanyang Technological University, Singapura. Sato telah mengembangkan teknologi serangga cyborg selama lebih dari satu dekade.
Bersama tim peneliti, Sato berharap baju selam terbaru tersebut dapat memperluas jangkauan operasi serangga cyborg menuju wilayah yang tergenang atau sebagian terendam air. Kemampuan semacam itu dapat menjadi penting dalam pencarian korban di bangunan runtuh, saluran bawah tanah, maupun kawasan banjir.
Baju selam tersebut terdiri atas cangkang fleksibel, empat tabung silikon yang dipasang pada spirakel, serta tangki oksigen transparan hasil cetak tiga dimensi. Tangki tersebut tidak hanya menyimpan oksigen, tetapi juga memproduksinya secara langsung melalui reaksi kimia.
Untuk menghasilkan oksigen, para peneliti menaburkan mangan dioksida pada spons berdaya serap tinggi di dalam tangki. Sedikit hidrogen peroksida encer kemudian disuntikkan ke dalamnya. Ketika bereaksi dengan mangan dioksida, hidrogen peroksida terurai secara perlahan dan menghasilkan oksigen.
Setelah semua komponen dimasukkan, tangki ditutup menggunakan perekat ultraviolet untuk mencegah kebocoran. Rancangan tersebut harus cukup ringan dan kecil agar tidak menghambat pergerakan alami serangga.
Umezu menjelaskan bahwa tantangan rekayasa terbesar terletak pada pembuatan sistem yang kecil, ringan, dan lentur, tetapi tetap mampu memproduksi cukup banyak oksigen untuk mendukung gerakan bawah air dalam waktu lama.
Tabung silikon mengalirkan oksigen langsung ke spirakel pada bagian dada kecoa. Spirakel pada bagian perut, yang posisinya lebih rendah, memanfaatkan oksigen yang terkumpul di dalam baju selam.
Menurut Sato, cara kerja baju selam serangga tersebut menyerupai tangki oksigen yang digunakan penyelam manusia. Para peneliti juga menyatakan bahwa tabung silikon dapat dipasang dan dilepas tanpa menimbulkan rasa sakit maupun cedera pada kecoa.
Untuk menguji kemampuan perangkat, tim menggunakan kecoa desis Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) yang telah dipasangi sistem pengendali elektronik. Kecoa tersebut ditempatkan di dalam tangki air, kemudian diarahkan memasuki tabung plastik yang mensimulasikan lingkungan terendam dan berkadar oksigen rendah.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecoa dapat bergerak di bawah air hingga tiga jam. Ketahanan tersebut membuka kemungkinan penggunaan serangga cyborg untuk memeriksa pipa banjir, saluran drainase, terowongan, dan lokasi sempit lain yang terlalu berisiko bagi manusia.
Teknologi serupa juga berpotensi diterapkan pada serangga lain seperti belalang dan kumbang. Setiap jenis serangga memiliki kemampuan gerak yang berbeda sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi pencarian.
Tahap penelitian berikutnya akan difokuskan pada penyempurnaan baju selam dengan penambahan sensor dan sistem navigasi. Perangkat sensor dapat membantu serangga mendeteksi panas tubuh, suara, gas berbahaya, atau tanda-tanda keberadaan korban.
Para peneliti juga berencana menguji sistem tersebut dalam lingkungan simulasi bencana yang lebih realistis. Pengujian lanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa kecoa cyborg mampu bergerak stabil, mengirimkan data, dan bertahan dalam kondisi kompleks seperti arus air, puing, ruang gelap, serta kadar oksigen yang berubah-ubah.
Pengembangan baju selam mini menunjukkan bahwa serangga cyborg dapat diperluas fungsinya dari penjelajah darat menjadi alat pencarian bawah air. Dengan cangkang kedap air, generator oksigen kimia, dan tabung silikon yang mengalirkan oksigen ke spirakel, kecoa mampu bertahan dan bergerak hingga tiga jam di lingkungan terendam. Walaupun masih membutuhkan sensor, sistem navigasi, dan pengujian lanjutan, teknologi tersebut berpotensi membantu tim penyelamat menjangkau lokasi bencana yang terlalu sempit atau berbahaya bagi manusia maupun robot konvensional.
Diolah dari artikel:
“Scientists build tiny ‘diving suit’ for cockroaches, turning them into search-and-rescue cyborgs” oleh Sascha Pare. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.