Sumber ilustrasi: Unsplash
10 Juli 2026 17.25 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.07.2026] Kekeringan hingga kini masih menjadi salah satu bencana iklim yang paling mengancam ketahanan pangan dunia. Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, hasil panen dapat merosot tajam, memicu kenaikan harga pangan hingga mengganggu perekonomian global. Selama ini, sebagian ilmuwan mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya kekeringan yang melanda banyak wilayah pertanian utama di dunia secara bersamaan, sehingga memperbesar risiko krisis pangan global.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Communications Earth & Environment memberikan gambaran yang lebih optimistis. Penelitian yang dipimpin oleh Indian Institute of Technology Gandhinagar (IITGN) bersama sejumlah kolaborator internasional menunjukkan bahwa pola suhu permukaan laut berperan penting dalam mencegah kekeringan terjadi secara serempak di berbagai belahan dunia. Menurut hasil penelitian tersebut, hanya sekitar 1,8 hingga 6,5 persen wilayah daratan Bumi yang mengalami kekeringan tersinkronisasi pada waktu yang sama, jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menyebut hingga seperenam wilayah daratan dapat mengering secara bersamaan.
Untuk memahami fenomena tersebut, para peneliti menganalisis catatan iklim global selama periode 1901 hingga 2020. Tim ini memperlakukan awal terjadinya kekeringan sebagai sebuah jaringan global, sehingga wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan dalam rentang waktu yang berdekatan dianggap saling terhubung.
Penulis utama penelitian, Dr. Udit Bhatia dari IITGN, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memungkinkan para peneliti memetakan hubungan antara ribuan peristiwa kekeringan di seluruh dunia. Dengan cara ini, mereka dapat mengidentifikasi wilayah-wilayah yang paling sering menjadi pusat penyebaran kekeringan atau yang disebut sebagai drought hubs.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Australia, Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta sebagian Amerika Utara merupakan beberapa pusat kekeringan utama dunia. Wilayah-wilayah tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan pola kekeringan global dan berpotensi memengaruhi wilayah lain melalui mekanisme iklim yang saling berhubungan.
Selain memetakan kekeringan, para peneliti juga menghubungkan data tersebut dengan hasil panen historis berbagai komoditas penting seperti gandum, padi, jagung, dan kedelai. Analisis tersebut bertujuan mengetahui seberapa besar dampak kekeringan terhadap produksi pangan.
Hemant Poonia, ilmuwan kecerdasan buatan di IITGN, menjelaskan bahwa ketika suatu wilayah pertanian mengalami kekeringan sedang, peluang gagal panen meningkat secara tajam. Pada banyak kawasan pertanian utama, risiko tersebut melampaui 25 persen, bahkan dapat mencapai lebih dari 40 hingga 50 persen untuk tanaman seperti jagung dan kedelai.
Risiko tersebut akan jauh lebih besar apabila seluruh wilayah pertanian utama mengalami kekeringan secara bersamaan. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa dinamika alami lautan justru membantu mencegah kondisi tersebut.
Salah satu mekanisme utama yang berperan adalah fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yaitu siklus alami pemanasan dan pendinginan suhu permukaan Samudra Pasifik yang memengaruhi pola hujan di berbagai wilayah dunia.
Selama periode El Niño, Australia cenderung menjadi salah satu pusat kekeringan terbesar, sementara wilayah lain memberikan respons yang berbeda. Sebaliknya, selama La Niña, pola kekeringan kembali berubah dan penyebarannya menjadi lebih tersebar secara geografis dibandingkan terkonsentrasi pada satu pola global.
Menurut Danish Mansoor Tantary, salah satu penulis penelitian yang kini menempuh studi doktoral di Northeastern University, perubahan suhu laut tersebut menciptakan mosaik respons iklim di berbagai kawasan. Kondisi tersebut membatasi kemungkinan munculnya satu kekeringan besar yang melanda banyak benua secara bersamaan.
Para peneliti juga meneliti hubungan antara curah hujan dan kenaikan suhu terhadap tingkat keparahan kekeringan. Analisis menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga perubahan jangka panjang tingkat keparahan kekeringan disebabkan oleh perubahan curah hujan. Sepertiga sisanya berkaitan dengan meningkatnya penguapan akibat suhu udara yang semakin tinggi.
Dr. Rohini Kumar dari Helmholtz Centre for Environmental Research menjelaskan bahwa curah hujan masih menjadi faktor utama yang menentukan kekeringan secara global, khususnya di Australia dan Amerika Selatan. Pengaruh kenaikan suhu kini semakin terlihat di sejumlah wilayah lintang menengah seperti Eropa dan Asia.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis jaringan global dapat membantu membangun sistem peringatan dini yang lebih baik. Dengan memahami keterkaitan antarwilayah, para ilmuwan dapat mengidentifikasi pusat-pusat kekeringan lebih awal sebelum gangguan produksi pangan menyebar ke pasar internasional.
Prof. Vimal Mishra dari IITGN menilai bahwa temuan tersebut memiliki implikasi penting bagi perdagangan internasional, pengelolaan cadangan pangan, serta kebijakan ketahanan pangan. Menurutnya, karena kekeringan tidak terjadi secara serentak di seluruh dunia, keberagaman alami tersebut dapat dimanfaatkan melalui perencanaan yang baik untuk menjaga stabilitas pasokan pangan global.
Dr. Bhatia menambahkan bahwa penelitian ini memberikan pandangan yang lebih optimistis mengenai kemampuan manusia menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, dengan memahami hubungan antara lautan, curah hujan, dan suhu, para pembuat kebijakan dapat memusatkan sumber daya pada wilayah-wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan serta menyusun strategi untuk menstabilkan pasar sebelum gagal panen memicu lonjakan harga pangan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pola suhu permukaan laut berperan sebagai mekanisme alami yang membantu mencegah kekeringan terjadi secara serempak di seluruh dunia. Melalui pengaruh fenomena seperti El Niño dan La Niña, setiap kawasan memberikan respons iklim yang berbeda sehingga risiko kekeringan global dapat ditekan. Ini membuka peluang bagi pengembangan sistem peringatan dini, strategi perdagangan pangan, dan kebijakan adaptasi iklim yang lebih efektif untuk menjaga ketahanan pangan dunia di tengah meningkatnya suhu global.
Diolah dari artikel:
“Ocean temperatures may be shielding Earth from a planet-wide drought” oleh Indian Institute of Technology Gandhinagar. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260621031531.htm