Penemuan Vitamin yang Berperan Penting dalam Pembentukan Penglihatan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Juli 2026 17.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [10.07.2026] Penglihatan tajam adalah salah satu kemampuan paling penting yang dimiliki manusia. Bagian mata yang bertanggung jawab terhadap kemampuan tersebut terbentuk, namun demikian, masih menjadi misteri yang belum diketahui. Ilmuwan mengetahui retina berkembang melalui serangkaian proses biologis yang sangat kompleks, tetapi mekanisme yang menentukan susunan sel-sel penglihatan di pusat retina belum sepenuhnya dipahami. Dalam penelitian terbaru dari Johns Hopkins University menunjukkan bahwa molekul turunan vitamin A bersama hormon tiroid memiliki peran penting dalam membentuk wilayah retina yang menghasilkan penglihatan paling tajam.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut memanfaatkan organoid retina, yaitu jaringan retina mini yang ditumbuhkan di laboratorium dari sel janin. Teknologi ini memungkinkan para peneliti mengamati secara langsung bagaimana retina manusia berkembang selama beberapa bulan, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan pada jaringan manusia secara alami.

Tim peneliti yang dipimpin Robert J. Johnston Jr. menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan langkah penting untuk memahami cara kerja bagian tengah retina atau foveola, yaitu wilayah yang pertama kali mengalami kerusakan pada penderita degenerasi makula. Menurut Johnston, pemahaman yang lebih baik mengenai wilayah tersebut diharapkan dapat membuka peluang untuk menumbuhkan jaringan retina yang nantinya dapat ditransplantasikan guna memulihkan penglihatan.

Fokus penelitian diarahkan pada sel fotoreseptor kerucut (cone photoreceptors), yaitu sel yang memungkinkan manusia melihat warna dan berfungsi optimal pada siang hari. Sel-sel tersebut nantinya berkembang menjadi tiga jenis, yaitu kerucut biru, hijau, dan merah, yang masing-masing peka terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda. Meskipun foveola hanya merupakan bagian kecil dari retina, wilayah ini bertanggung jawab terhadap sekitar separuh kemampuan visual manusia. Berbeda dengan bagian retina lainnya, foveola dewasa hanya berisi sel kerucut merah dan hijau.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan belum mengetahui bagaimana susunan khusus tersebut terbentuk. Penelitian terhadap hewan seperti tikus dan ikan juga tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut karena keduanya tidak memiliki pola perkembangan fotoreseptor yang sama dengan manusia.

Hasil pengamatan terbaru menunjukkan bahwa pada usia kehamilan sekitar 10 hingga 12 minggu, sejumlah kecil sel kerucut biru sebenarnya muncul di foveola yang sedang berkembang. Dua minggu kemudian sebagian besar sel tersebut telah berubah menjadi sel kerucut merah dan hijau. Temuan ini mengungkap bahwa pembentukan foveola bukan terjadi karena perpindahan sel, melainkan melalui perubahan identitas sel selama perkembangan janin.

Para peneliti menemukan bahwa proses tersebut berlangsung melalui dua tahapan biologis. Pertama, kadar asam retinoat (retinoic acid), yaitu molekul yang berasal dari vitamin A, mengalami penurunan sehingga pembentukan sel kerucut biru baru ikut berkurang. Setelah itu, hormon tiroid mendorong sel kerucut biru yang masih tersisa untuk berubah menjadi sel kerucut merah dan hijau.

Robert J. Johnston Jr. menjelaskan bahwa asam retinoat berperan membentuk pola awal perkembangan retina, sedangkan hormon tiroid menyelesaikan proses tersebut dengan mengubah sel-sel yang tersisa menjadi tipe yang dibutuhkan untuk menghasilkan penglihatan tajam. Menurutnya, keberadaan sel kerucut biru di pusat retina justru akan mengurangi kualitas penglihatan apabila tidak mengalami perubahan.

Temuan tersebut sekaligus menantang teori yang telah bertahan selama hampir tiga dekade. Selama ini para ilmuwan beranggapan bahwa sel kerucut biru yang terbentuk di pusat retina akan bermigrasi keluar sehingga menyisakan sel merah dan hijau. Bukti baru menunjukkan mekanisme yang berbeda, yakni sel-sel tersebut tetap berada di tempatnya, tetapi mengubah identitas biologisnya menjadi sel merah dan hijau.

Johnston menilai hasil penelitian ini cukup mengejutkan karena menunjukkan bahwa sel fotoreseptor ternyata jauh lebih dinamis dibandingkan dugaan sebelumnya. Meskipun teori lama belum sepenuhnya dapat disingkirkan, data yang diperoleh lebih kuat mendukung mekanisme perubahan identitas sel daripada perpindahan sel.

Selain memberikan pemahaman baru mengenai perkembangan mata manusia, penelitian ini juga membuka peluang besar dalam bidang pengobatan gangguan penglihatan. Tim peneliti kini terus menyempurnakan organoid retina agar semakin menyerupai retina manusia yang sebenarnya. Model tersebut diharapkan dapat menghasilkan sel fotoreseptor sehat yang nantinya digunakan dalam terapi penggantian sel untuk penyakit seperti degenerasi makula.

Hussey, salah satu peneliti yang kini bekerja di CiRC Biosciences, menjelaskan bahwa tujuan jangka panjang teknologi organoid adalah menghasilkan populasi sel fotoreseptor sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan tersebut berpotensi memungkinkan sel sehat ditanamkan kembali ke mata sehingga mampu berintegrasi dengan jaringan yang ada dan memulihkan penglihatan yang hilang. Meskipun masih memerlukan pengujian keamanan dan efektivitas sebelum diterapkan di klinik, jalur pengembangannya dinilai sangat menjanjikan.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa pembentukan penglihatan tajam pada manusia bergantung pada kerja sama yang sangat teratur antara molekul turunan vitamin A dan hormon tiroid selama perkembangan janin. Mekanisme baru tersebut mengubah pemahaman lama mengenai perkembangan sel fotoreseptor sekaligus membuka peluang bagi pengembangan terapi regeneratif untuk berbagai penyakit retina yang hingga kini belum memiliki pengobatan yang benar-benar efektif.

Diolah dari artikel:
“A vitamin A discovery is changing what scientists know about vision” oleh Johns Hopkins University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260708022214.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *