Bagaimana Membiasakan Anak Makan Lebih Banyak Sayuran Sejak Dini?

Sumber ilustrasi: Magnific
03 Juli 2026 16.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [03.07.2026] Membiasakan anak makan sayuran sering menjadi tantangan besar bagi banyak orang tua. Banyak anak lebih menyukai makanan yang terasa manis, gurih, atau berwarna netral, sementara sayuran sering ditolak karena rasa, tekstur, atau tampilannya yang dianggap asing. Padahal, pola makan yang beragam dan kaya buah serta sayuran sangat penting bagi tumbuh kembang anak, mulai dari fungsi kognitif, konsentrasi, perilaku, hingga prestasi akademik.

Preferensi terhadap rasa manis sudah muncul sejak awal kehidupan. ASI sendiri mengandung gula alami yang membuat rasanya cenderung manis. Ketika anak mulai mengenal makanan padat, rasa pahit atau tekstur tertentu dari sayuran seperti brokoli dan bayam dapat terasa kurang menarik. Karena itu, memperkenalkan sayuran bukan hanya soal memaksa anak makan, tetapi membangun pengalaman yang berulang, positif, dan menyenangkan.

Marion Hetherington dari University of Leeds menjelaskan bahwa masa prasekolah merupakan periode penting untuk meningkatkan penerimaan anak terhadap sayuran. Menurut Hetherington, anak yang tidak mendapat cukup paparan terhadap sayuran sebelum usia lima tahun akan lebih sulit dibiasakan kemudian. Bukan berarti perubahan mustahil dilakukan, tetapi prosesnya membutuhkan usaha yang jauh lebih besar.

Penelitian menunjukkan bahwa anak biasanya perlu beberapa kali mencoba makanan yang sama sebelum akhirnya mau menerimanya. Jumlah paparan yang dibutuhkan berbeda pada setiap anak, dengan beberapa studi menunjukkan rentang antara lima hingga 15 kali. Anak di bawah usia satu tahun bahkan dapat membutuhkan paparan lebih sedikit dibandingkan anak prasekolah yang cenderung lebih kuat menolak makanan baru.

Paparan terhadap rasa juga dapat dimulai sebelum anak lahir. Makanan yang dikonsumsi ibu dapat memengaruhi cairan ketuban dan ikut membentuk preferensi rasa pada bayi. Dengan demikian, kebiasaan makan keluarga sejak masa kehamilan dapat memberikan pengaruh awal terhadap pola makan anak.

Selain frekuensi paparan, waktu penyajian sayuran juga berpengaruh. Sekadar mengatakan bahwa sayuran itu sehat tidak selalu efektif karena anak lebih tertarik pada makanan yang dianggap enak dibandingkan makanan yang disebut baik bagi kesehatan. Karena itu, para peneliti menyarankan agar sayuran diberikan pada awal waktu makan, ketika anak sedang paling lapar.

Hetherington menjelaskan bahwa anak cenderung memakan makanan yang paling disukai terlebih dahulu. Jika sayuran baru diberikan setelah makanan lain yang lebih tinggi kalori, anak mungkin sudah kenyang atau tidak lagi tertarik. Menyajikan sayuran lebih awal dapat mengurangi persaingan dengan makanan lain yang lebih disukai.

Barbara Rolls dari Pennsylvania State University menambahkan bahwa membiasakan anak mengonsumsi sayuran terlebih dahulu juga dapat membantu mencegah makan berlebihan. Sayuran tidak harus selalu muncul pada makan siang atau malam. Dalam pola makan Barat, sayuran jarang disajikan saat sarapan, tetapi penelitian menunjukkan bahwa anak tetap dapat menerimanya ketika ditawarkan pada pagi hari.

Sebuah uji coba tahun 2023 di delapan pusat penitipan anak di Inggris menemukan bahwa anak-anak memakan sayuran saat sarapan dengan presentase lebih dari 60 persen kesempatan ketika sayuran disediakan. Sayuran dapat dimasukkan ke dalam omelet, muffin sarapan, atau hidangan sederhana lain yang sudah familiar bagi anak.

Mengubah proporsi makanan di piring juga dapat menjadi strategi yang efektif. Jika menyajikan sayuran sebelum makan terasa sulit, orang tua dapat memperbesar porsi sayuran dan mengurangi bahan berkalori tinggi. Sayuran dapat ditambahkan sebagai lauk, diparut ke dalam saus, atau dicampurkan ke dalam makanan yang sudah disukai anak.

Penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung makan dalam volume yang relatif sama meskipun komposisi makanan diubah. Ketika porsi buah dan sayuran dinaikkan hingga 50 persen di piring anak, konsumsi buah dan sayuran juga meningkat. Strategi ini bekerja karena anak tetap merasa makan dalam jumlah yang biasa, tetapi kandungan makanannya menjadi lebih sehat.

Tampilan makanan juga berperan besar dalam menentukan minat makan anak. Anak-anak cenderung memilih makanan yang tampak familiar, menyenangkan, dan mudah dikenali. Karena itu, mengubah bentuk atau cara penyajian sayuran dapat membuat makanan sehat terlihat lebih menarik.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak lebih bersedia mencoba makanan baru ketika disusun secara artistik di atas piring. Buah dan sayuran yang dipotong menjadi bentuk kupu-kupu, bunga, atau boneka beruang juga lebih mudah menarik perhatian anak. Makanan sehat yang terlihat menyenangkan dapat mengurangi rasa asing dan meningkatkan keinginan untuk mencoba.

Ketersediaan makanan sehat juga penting. Anak usia 10 hingga 13 tahun ditemukan lebih banyak memilih dan memakan sayuran ketika beberapa jenis sayuran disajikan dalam satu wadah dengan porsi yang sudah disiapkan, dibandingkan ketika sayuran disajikan di beberapa piring terpisah. Anak prasekolah juga mengonsumsi sayuran lebih banyak ketika makanan dibagi dalam beberapa bagian di piring khusus.

Kebiasaan orang tua menjadi faktor lain yang sangat menentukan. Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Orang tua yang sering makan camilan tidak sehat, melewatkan sarapan, atau mengonsumsi makanan cepat saji lebih mungkin memiliki anak dengan kebiasaan serupa.

Sebaliknya, anak dari orang tua yang memiliki pola makan lebih sehat cenderung lebih sedikit mengonsumsi kue, cokelat, dan camilan gurih. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang sering melihat orang tua menikmati makanan sehat memiliki kecenderungan lebih besar untuk menyukai buah dan sayuran.

Makan bersama keluarga setidaknya tiga kali seminggu dikaitkan dengan berat badan yang lebih sehat, pola makan yang lebih baik, dan peluang lebih besar bagi anak untuk mengonsumsi makanan sehat. Studi jangka panjang juga menemukan bahwa anak yang rutin mengikuti waktu makan keluarga memiliki tingkat kebugaran lebih baik dan lebih jarang mengonsumsi minuman bersoda.

Akan tetapi membangun kebiasaan makan sehat tidak berarti menekan anak. Para peneliti memperingatkan bahwa memaksa anak makan makanan tertentu dapat menurunkan kenikmatan terhadap makanan dan menghasilkan pola makan yang kurang sehat. Memberi hadiah berupa makanan tinggi gula atau lemak juga dapat membuat anak semakin menyukai makanan tersebut.

Pendekatan yang lebih baik adalah membuat makanan terasa menyenangkan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa membiarkan anak menyentuh, mencium, dan mengamati bahan makanan baru tanpa kewajiban untuk mencicipinya dapat mengurangi ketakutan terhadap makanan baru. Anak yang diberi kesempatan bermain dengan bahan seperti bit, kacang arab, dan pakcoy menjadi lebih terbuka untuk mencobanya kemudian.

Mengajak anak memasak juga dapat meningkatkan keinginan untuk mencoba makanan yang belum dikenal. Koki eksperimental Jozef Youssef menjelaskan bahwa pendekatan berbasis permainan dan eksplorasi sensorik dapat bekerja dengan baik pada anak. Dalam suasana yang santai, tanpa tekanan, anak lebih bersedia bermain, mencicipi, dan bereksperimen dengan makanan.

Kebiasaan makan sayuran pada anak dapat dibentuk melalui pengalaman kecil yang dilakukan secara konsisten. Paparan berulang sejak dini, penyajian sayuran saat anak lapar, peningkatan porsi makanan sehat, tampilan makanan yang menarik, kebiasaan makan bersama keluarga, serta suasana makan yang menyenangkan dapat membantu anak lebih terbuka terhadap sayuran. Strategi tersebut menunjukkan bahwa membangun pola makan sehat bukan hanya soal memberi makanan bergizi, tetapi juga membentuk hubungan positif antara anak dan makanan sejak awal kehidupan.

Diolah dari artikel:
“The habits that help children to eat more vegetables over their lifetime” oleh Melissa Hogenboom. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.bbc.com/future/article/20260629-six-ways-to-get-children-to-eat-vegetables

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *