Kemampuan Bicara Manusia Berasal dari Tawa Kera Besar?

Sumber ilustrasi: Pixabay
03 Juli 2026 15.50 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [03.07.2026] Kemampuan berbicara merupakan salah satu ciri paling khas yang membedakan manusia dari spesies lain. Bagaimana kemampuan tersebut pertama kali berevolusi masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam ilmu evolusi. Tidak seperti tulang atau alat batu, bahasa tidak meninggalkan fosil yang dapat dipelajari. Kondisi tersebut membuat para ilmuwan harus mencari petunjuk dari sumber lain yang masih bertahan hingga sekarang.

Salah satu petunjuk yang menarik ternyata berasal dari tawa. Berbeda dengan bahasa, tawa tidak hanya dimiliki manusia, tetapi juga ditemukan pada seluruh spesies kera besar yang masih hidup, termasuk simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan. Tawa dapat menjadi jendela evolusi untuk memahami bagaimana komunikasi vokal berkembang jauh sebelum bahasa manusia muncul.

Untuk menyelidiki kemungkinan tersebut, para peneliti dari University of Warwick membandingkan rekaman tawa empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, dan empat manusia. Sebanyak 140 rangkaian tawa dianalisis dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications Biology.

Meskipun setiap spesies memiliki karakter suara yang berbeda, para peneliti menemukan pola yang sangat konsisten. Seluruh spesies menghasilkan tawa dengan interval ritmis yang tersusun secara merata di antara setiap suara yang muncul secara berurutan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pola ritme dasar tawa kemungkinan telah diwariskan dari nenek moyang bersama yang hidup sekitar 15 juta tahun lalu. Menurut para peneliti, struktur ritmis tersebut tetap bertahan dengan sangat stabil sepanjang evolusi seluruh spesies kera besar yang masih hidup hingga sekarang.

Chiara De Gregorio dari Department of Psychology, University of Warwick, menjelaskan bahwa kemampuan berbicara memang tidak meninggalkan bukti fosil. Akan tetapi tawa justru menyimpan petunjuk yang sangat tua mengenai evolusi komunikasi vokal. Menurut De Gregorio, keberadaan pola ritmis yang hampir tidak berubah selama sekitar 15 juta tahun merupakan temuan yang luar biasa karena menunjukkan adanya fondasi vokal yang telah bertahan sangat lama.

Meskipun ritme dasarnya tetap sama, penelitian juga menemukan bahwa tawa manusia mengalami perkembangan yang jauh lebih fleksibel dibandingkan kera besar lainnya. Manusia mampu mengubah cara, waktu, serta bentuk tawa sesuai dengan situasi sosial yang sedang dihadapi.

Tawa spontan ketika digelitik, tawa sopan saat menghadiri rapat, tawa gugup setelah melakukan kesalahan, maupun tawa yang menular ketika bersama teman memiliki fungsi sosial yang berbeda. Walaupun demikian, seluruh bentuk tawa tersebut masih mempertahankan pola ritmis dasar yang sama dengan kerabat evolusioner manusia.

Para peneliti menduga bahwa kemampuan mengendalikan vokalisasi secara semakin sadar berkembang sedikit demi sedikit sepanjang evolusi kera besar. Kemampuan mengatur waktu keluarnya suara tersebut kemungkinan menjadi salah satu fondasi penting yang akhirnya memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan berbicara.

Penelitian ini juga memberikan perspektif baru mengenai asal-usul bahasa. Selama ini terdapat anggapan bahwa manusia memperoleh kemampuan berbicara secara tiba-tiba melalui lompatan evolusi yang besar. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan adanya proses yang berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun.

Adriano Lameira dari Department of Psychology, University of Warwick, menjelaskan bahwa bentuk awal bahasa tidak mungkin diamati secara langsung pada nenek moyang manusia yang telah punah. Menurut Lameira, tawa menawarkan kesempatan langka untuk mempelajari transformasi komunikasi vokal sepanjang evolusi hominid hingga manusia pertama muncul.

Lameira juga menilai bahwa evolusi tawa memperlihatkan manusia berada dalam suatu kesinambungan evolusi, bukan hasil perubahan yang terjadi secara mendadak. Kemampuan mengendalikan suara yang dimiliki manusia saat ini merupakan kelanjutan dari kapasitas vokal yang telah terus berkembang dan disempurnakan selama sekitar 15 juta tahun.

Temuan ini membuka pendekatan baru dalam mempelajari evolusi bahasa. Dengan memanfaatkan perilaku vokal yang masih dimiliki seluruh kera besar, para ilmuwan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tahapan-tahapan evolusi komunikasi manusia yang selama ini sulit ditelusuri melalui bukti fosil.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tawa bukan sekadar ekspresi emosi, tetapi juga menyimpan jejak evolusi yang sangat tua. Pola ritmis tawa yang tetap bertahan selama sekitar 15 juta tahun memperlihatkan adanya fondasi komunikasi vokal yang telah diwariskan sejak nenek moyang bersama kera besar. Bersamaan dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan vokalisasi secara bertahap, fondasi tersebut kemungkinan menjadi salah satu langkah penting yang akhirnya mengantarkan manusia pada kemampuan berbicara yang dimiliki saat ini.

Diolah dari artikel:
“Great ape laughter reveals a hidden origin of human speech” oleh University of Warwick. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260626124704.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *