Sumber ilustrasi: Magnific
09 Juli 2026 16.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.07.2026] Kemampuan bernyanyi bukan hanya dimiliki burung atau manusia. Beberapa spesies tikus juga diketahui mampu menghasilkan rangkaian nada yang kompleks untuk berkomunikasi. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengetahui bahwa tikus penyanyi Alston (Alston’s singing mice) menggunakan lagu untuk menarik pasangan dan mengusir pesaing, tetapi mekanisme biologis yang memungkinkan kemampuan tersebut masih menjadi misteri.
Dalam penelitian terbaru berhasil mengungkap bagaimana tikus tersebut menghasilkan lagu-lagunya. Studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of the Royal Society B menunjukkan bahwa suara tikus penyanyi tidak dihasilkan semata-mata oleh laring seperti pada kebanyakan mamalia. Sebaliknya, suara berasal dari kantung udara kecil menyerupai balon yang berada di dalam saluran suara. Mekanisme ini diduga merupakan cara unik menghasilkan suara yang belum pernah ditemukan pada hewan lain.
Tikus penyanyi Alston hidup di hutan-hutan Meksiko dan Amerika Tengah. Baik jantan maupun betina mampu menghasilkan rangkaian nada bernada tinggi yang jauh lebih rumit dibandingkan suara hewan pengerat lainnya.
Dalam waktu sekitar 10 detik, seekor tikus mampu menghasilkan sekitar 100 tarikan napas dan nada secara berurutan. Samantha Smith, ahli biologi dari University of Lausanne di Swiss, menjelaskan bahwa lagu tersebut digunakan untuk menarik pasangan sekaligus memberi peringatan kepada pejantan lain agar menjauh. Menurut Smith, kecepatan dan panjang lagu tersebut menjadikannya jauh lebih ekstrem dibandingkan panggilan suara hewan pengerat lainnya.
Untuk memahami bagaimana lagu tersebut dihasilkan, Smith dan rekan-rekannya membedah laring tikus yang telah mati. Laring, atau kotak suara, merupakan organ yang berperan dalam bernapas, menelan, dan menghasilkan suara.
Setelah diambil, setiap laring dihubungkan dengan sebuah tabung, kemudian dipasangi mikrofon dan kamera. Tim peneliti meniupkan udara melalui tabung untuk mengamati bagaimana laring bergerak dan menghasilkan suara. Menurut Smith, laring pada dasarnya merupakan sebuah tabung dengan katup yang dapat membuka dan menutup.
Percobaan menunjukkan bahwa laring hanya mampu menghasilkan suara dengan nada alami tikus ketika kantung kecil di dalamnya mengembang. Ketika kantung tersebut ditutup menggunakan lilin atau bola logam kecil, suara langsung menghilang. Memotong kantung tersebut juga menghasilkan efek yang sama.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kantung udara merupakan komponen utama yang memungkinkan tikus menghasilkan lagu. Menariknya, spesies hewan pengerat lain juga memiliki kantung udara serupa, tetapi tidak menggunakannya untuk menghasilkan suara bernyanyi.
Raffaela Lesch, bioakustisi dari University of Arkansas at Little Rock yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai eksperimen tersebut sangat mengesankan. Lesch mengatakan bahwa bekerja dengan laring berukuran sangat kecil bukanlah pekerjaan mudah. Menurutnya, penelitian mengenai produksi suara pada hewan pengerat sangat menarik karena kelompok hewan tersebut memiliki keragaman adaptasi sosial, perilaku, dan ekologi yang luar biasa.
Meskipun fungsi kantung udara telah berhasil diidentifikasi, mekanisme pasti pembentukan suara masih belum sepenuhnya dipahami. Salah satu kemungkinan adalah udara bergetar di pintu masuk kantung udara sehingga menghasilkan siulan, mirip suara yang muncul ketika udara melewati celah sunroof mobil yang terbuka.
Hipotesis lain menyebutkan bahwa suara dihasilkan melalui mekanisme yang menyerupai cara kerja seruling atau pipa organ. Pada mekanisme tersebut, bagian tepi tulang rawan yang tajam di pintu masuk kantung udara membelokkan aliran udara hingga menghasilkan nada tertentu.
Kantung udara yang dapat mengembang sebenarnya telah berevolusi pada berbagai kelompok hewan seperti primata, burung, reptil, katak, dan sejumlah hewan lainnya. Namun, pada kelompok-kelompok tersebut kantung udara hanya berfungsi memperkuat atau mengubah suara yang dihasilkan dari bagian lain sistem pernapasan.
Berbeda dengan itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pada tikus penyanyi Alston, kantung udara justru menjadi sumber utama pembentukan suara. Menurut Smith, temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai berbagai cara kantung udara membentuk komunikasi vokal pada hewan.
Para peneliti berharap penelitian lanjutan terhadap struktur kantung udara pada berbagai spesies hewan pengerat dapat membantu menjelaskan bagaimana kemampuan bernyanyi tersebut berevolusi dari waktu ke waktu.
Penelitian ini mengungkap bahwa lagu kompleks tikus penyanyi Alston berasal dari kantung udara kecil di dalam laring yang bekerja sebagai penghasil suara, bukan sekadar penguat suara seperti pada kelompok hewan lain. Melalui temuan ini, kita semakin mengetahui mekanisme vokal yang unik di dunia hewan sekaligus membuka pemahaman baru mengenai evolusi komunikasi suara pada mamalia, khususnya bagaimana struktur saluran pernapasan dapat berkembang menjadi sistem penghasil melodi yang sangat kompleks.
Diolah dari artikel:
“Here’s how ‘singing’ mice belt out their tiny tunes” oleh Jake Buehler. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/singing-mice-throat-air-sacs