Sauropoda Ternyata Mampu Berdiri Tegak Seperti Raksasa?

Sumber ilustrasi: Magnific
23 Juli 2026 11.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [23.07.2026] Sauropoda dikenal sebagai dinosaurus berleher panjang dengan tubuh besar dan kaki menyerupai pilar. Selama ini, ukuran tubuh mereka sering dianggap membuat gerakan berdiri dengan dua kaki belakang menjadi sulit dilakukan dalam waktu lama. Dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Dua spesies sauropoda dari Amerika Selatan ternyata memiliki struktur tulang yang sangat mendukung posisi tegak. Kedua dinosaurus tersebut adalah Uberabatitan dari Brasil dan Neuquensaurus dari Argentina.

Keduanya hidup sekitar 66 juta tahun lalu pada akhir periode Kapur. Meskipun tidak termasuk sauropoda terbesar, ukuran tubuh mereka tetap sebanding dengan gajah modern.

Uberabatitan dewasa diperkirakan dapat mencapai panjang sekitar 26 meter. Ukuran tersebut menjadikannya dinosaurus terbesar yang diketahui pernah hidup di wilayah Brasil.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kedua sauropoda tersebut mampu mengangkat tubuh bagian depan dan bertumpu pada kedua kaki belakang. Kemampuan tersebut tampaknya lebih mudah dilakukan ketika individu masih muda.

Seiring pertumbuhan tubuh, kemampuan berdiri tegak kemungkinan menurun. Individu dewasa harus menahan beban yang jauh lebih besar sehingga tekanan pada tulang kaki meningkat.

Penelitian tersebut didukung oleh Fundação de Amparo à Pesquisa do Estado de São Paulo atau FAPESP dan dipublikasikan dalam jurnal Palaeontology. Tim internasional yang terlibat berasal dari Brasil, Jerman, dan Argentina.

Untuk mengetahui bagaimana sauropoda menopang tubuh ketika berdiri tegak, para peneliti menggunakan metode komputasi yang biasa diterapkan dalam bidang rekayasa.

Fokus utama penelitian berada pada femur atau tulang paha. Tulang tersebut menerima sebagian besar beban tubuh ketika dinosaurus memindahkan beratnya ke kaki belakang.

Julian Silva Júnior, peneliti pascadoktoral di School of Engineering, São Paulo State University, menjelaskan bahwa sauropoda berukuran lebih kecil memiliki struktur tulang dan otot yang memungkinkan posisi tegak dilakukan dengan lebih mudah dan dalam waktu lebih lama.

Menurut Silva Júnior, sauropoda yang lebih besar kemungkinan tetap dapat berdiri dengan dua kaki. Namun, posisi tersebut diperkirakan hanya dapat dipertahankan dalam waktu singkat karena tekanan pada femur menjadi sangat besar.

Silva Júnior merupakan penulis pertama penelitian tersebut. Penelitian dilakukan ketika menjalani program magang di University of Tübingen, Jerman, dengan dukungan beasiswa dari FAPESP.

Tim peneliti membuat rekonstruksi digital femur dari tujuh spesies sauropoda. Spesies yang dipilih mewakili perbedaan ukuran tubuh, cabang evolusi, serta ciri anatomi.

Model digital dibuat berdasarkan fosil yang disimpan di berbagai museum sejarah alam di dunia. Rekonstruksi tersebut memungkinkan peneliti menguji kekuatan tulang tanpa merusak fosil asli.

Metode yang digunakan disebut finite element analysis atau FEA. Teknik tersebut membagi suatu struktur menjadi banyak bagian kecil, kemudian menghitung respons setiap bagian terhadap gaya tertentu.

Dalam bidang teknik, metode serupa digunakan untuk menguji ketahanan bangunan, jembatan, kendaraan, maupun mesin. Dalam penelitian dinosaurus, teknik tersebut digunakan untuk memperkirakan bagaimana tulang bereaksi terhadap gravitasi, berat badan, dan tarikan otot.

Para peneliti melakukan dua jenis simulasi. Simulasi pertama mengukur gaya ekstrinsik, yaitu tekanan dari luar berupa gravitasi dan berat tubuh ketika dinosaurus berdiri dengan kaki belakang.

Simulasi kedua mengukur gaya intrinsik yang berasal dari otot. Tarikan otot terhadap femur juga memberikan tekanan besar ketika tubuh dinaikkan menuju posisi tegak.

Dengan menggabungkan kedua simulasi tersebut, tim memperoleh perkiraan mengenai total tekanan yang dialami femur setiap spesies.

Tingkat tekanan paling rendah ditemukan pada dua sauropoda Amerika Selatan. Spesimen pertama adalah Uberabatitan ribeiroi muda dari wilayah Uberaba, Brasil.

Nama spesies tersebut berasal dari kota tempat fosil ditemukan. Uberaba juga merupakan kota kelahiran Silva Júnior.

Spesimen kedua adalah Neuquensaurus australis yang ditemukan di sekitar Sungai Neuquén, Argentina. Kedua spesies hidup dalam rentang waktu yang hampir sama pada akhir periode Kapur.

Analisis menunjukkan bahwa femur kedua sauropoda tersebut relatif tebal dan kokoh. Struktur tersebut membantu menyebarkan tekanan ke area tulang yang lebih luas.

Menurut Silva Júnior, femur yang lebih kuat membuat tekanan tidak terkonsentrasi pada satu titik. Kemampuan tersebut memberikan keuntungan ketika dinosaurus mengangkat tubuhnya.

Sauropoda yang lebih besar memiliki otot dan femur berukuran raksasa. Namun, pertambahan kekuatan tulang tampaknya tidak mampu mengimbangi peningkatan berat tubuh secara penuh.

Kondisi tersebut tidak berarti bahwa sauropoda besar sama sekali tidak mampu berdiri. Posisi tegak kemungkinan masih dapat dilakukan, tetapi hanya pada saat tertentu dan dengan tingkat kenyamanan yang lebih rendah.

Individu Uberabatitan dewasa kemungkinan menghadapi persoalan serupa. Spesimen muda dalam penelitian memiliki proporsi tubuh yang mendukung posisi tegak, sedangkan tubuh dewasa akan memberikan tekanan jauh lebih besar.

Berdiri dengan dua kaki belakang dapat memberikan beberapa keuntungan. Sauropoda pemakan tumbuhan dapat menjangkau dedaunan pada bagian pohon yang lebih tinggi.

Kemampuan tersebut memungkinkan akses terhadap sumber makanan yang tidak dapat dicapai hewan berukuran lebih pendek. Persaingan mendapatkan vegetasi juga dapat berkurang.

Posisi tegak mungkin turut berperan dalam reproduksi. Pejantan dapat menggunakan postur tersebut untuk menaiki betina atau menampilkan ukuran tubuh kepada calon pasangan.

Postur yang membuat tubuh terlihat lebih tinggi juga dapat berfungsi sebagai strategi pertahanan. Predator yang mendekat akan berhadapan dengan hewan yang tampak jauh lebih besar dan mengintimidasi.

Ketika berdiri, sauropoda kemungkinan menggunakan kedua kaki belakang dan ekor sebagai tiga titik tumpuan. Susunan tersebut dikenal sebagai posisi tripodal.

Ekor berfungsi membantu menjaga keseimbangan dan mengurangi risiko tubuh terjatuh. Namun, dukungan ekor belum dimasukkan secara rinci dalam simulasi penelitian.

Model komputasi juga belum memperhitungkan tulang rawan. Jaringan lentur tersebut melapisi persendian dan dapat membantu menyerap maupun menyebarkan tekanan.

Karena tulang rawan tidak dapat dianalisis pada ketujuh fosil, para peneliti mengasumsikan bahwa jaringan tersebut memberikan pengaruh yang relatif serupa pada semua spesies.

Keterbatasan tersebut membuat hasil penelitian lebih cocok digunakan sebagai perbandingan antardinosaurus daripada sebagai pengukuran mutlak terhadap tekanan pada setiap individu.

Silva Júnior menjelaskan bahwa metode FEA tetap sangat efektif untuk membandingkan spesies dari garis evolusi yang berbeda. Perbandingan tersebut dapat menghasilkan gambaran yang cukup kuat mengenai perilaku sauropoda jutaan tahun lalu.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sauropoda muda seperti Uberabatitan dan Neuquensaurus memiliki femur yang cukup kokoh untuk menopang tubuh ketika berdiri dengan kedua kaki belakang. Posisi tersebut kemungkinan membantu menjangkau dedaunan tinggi, menghadapi predator, menarik pasangan, dan mendukung reproduksi. Kemampuan berdiri diperkirakan menurun seiring pertumbuhan karena peningkatan berat tubuh memberikan tekanan jauh lebih besar pada tulang paha. Meskipun simulasi belum memasukkan peran tulang rawan dan ekor secara lengkap, hasil perbandingan memberikan gambaran bahwa ukuran tubuh dan kekuatan femur sangat menentukan kemampuan sauropoda untuk berdiri tegak.

Diolah dari artikel:
“Some dinosaurs could rise like giants until they grew too big” oleh Fundação de Amparo à Pesquisa do Estado de São Paulo. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260719231758.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *