Sumber ilustrasi: Magnific
28 Agustus 2026 09.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.08.2026] Lahan pertanian yang berhenti digunakan sering dipandang sebagai ruang terdegradasi yang membutuhkan intervensi aktif agar dapat kembali menjadi habitat alami. Dalam berbagai proyek restorasi, campuran benih komersial, penanaman spesies tertentu, dan pengelolaan intensif sering digunakan untuk mempercepat terbentuknya kembali padang rumput yang kaya akan tumbuhan. Namun demikian, bagaimana jika salah satu cara untuk memulihkan keanekaragaman hayati justru dengan tidak melakukan terlalu banyak?
Sebuah penelitian yang dipimpin Profesor Carl Sayer dari UCL Geography menunjukkan bahwa lahan pertanian yang ditinggalkan dapat berubah secara alami menjadi padang bunga liar dengan keanekaragaman tumbuhan tinggi. Setelah sedikit lebih dari satu dekade, jumlah spesies tumbuhan di lokasi penelitian meningkat sekitar dua kali lipat dan ribuan anggrek muncul tanpa pernah sengaja ditanam.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Restoration Ecology tersebut mengikuti perubahan vegetasi selama 11 tahun, dari 2011 hingga 2022, di sebuah ladang seluas dua hektare di North Norfolk, Inggris. Aktivitas pertanian di lokasi tersebut sebenarnya telah berhenti sejak panen terakhir pada 2005.
Setelah kegiatan pertanian dihentikan, hampir tidak ada intervensi restorasi aktif yang dilakukan. Lahan hanya menjalani pemotongan jerami tradisional sekali setiap tahun, sementara proses selebihnya diserahkan pada dinamika ekologis alami.
Dalam waktu sekitar 10 hingga 15 tahun, bekas lahan pertanian tersebut berkembang menjadi padang bunga liar yang kaya akan spesies. Berbagai tumbuhan lokal mulai muncul dan jumlahnya terus meningkat seiring berlangsungnya pemulihan.
Beberapa tumbuhan yang ditemukan bahkan termasuk spesies yang relatif jarang di kawasan tersebut. Di antaranya terdapat southern marsh orchid, greater tussock-sedge, yellow rattle, dan common centaury, menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan pertanian masih memiliki kemampuan untuk membangun kembali komunitas vegetasinya.
Temuan tersebut mempertanyakan pandangan bahwa restorasi padang rumput kaya spesies harus selalu dimulai dengan penyebaran campuran benih komersial. Pendekatan semacam itu memang dapat mempercepat kemunculan vegetasi tertentu, tetapi penelitian UCL menunjukkan bahwa proses alami juga dapat menghasilkan komunitas tumbuhan yang kompleks jika diberikan waktu.
Profesor Carl Sayer menjelaskan bahwa menahan diri dari penyemaian dan memberikan ruang bagi alam untuk memimpin proses pemulihan seharusnya lebih sering dipertimbangkan dalam restorasi padang bunga liar. Menurut Sayer, regenerasi tumbuhan secara alami juga memiliki keuntungan karena lebih mampu mempertahankan keragaman genetik lokal dibandingkan ketika suatu lokasi ditanami menggunakan paket benih dari luar.
Keragaman genetik menjadi penting karena tumbuhan lokal telah beradaptasi terhadap kondisi tanah, iklim, kelembapan, dan hubungan ekologis di wilayah tempat mereka tumbuh. Membiarkan spesies lokal muncul secara alami karena itu dapat menghasilkan padang rumput yang lebih khas terhadap wilayah tersebut dan tidak terlalu menyerupai padang bunga generik yang dibangun menggunakan campuran spesies yang sama di banyak tempat.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Inggris dan berbagai negara Eropa sedang berupaya mempercepat pemulihan keanekaragaman hayati dalam skala besar. Bekas lahan pertanian merupakan salah satu ruang yang berpotensi digunakan untuk memperluas habitat alami, tetapi biaya restorasi dapat menjadi hambatan ketika intervensi harus dilakukan pada wilayah yang sangat luas.
Padang rumput kaya spesies sendiri memiliki fungsi ekologis penting. Lingkungan tersebut menyediakan habitat bagi serangga penyerbuk, burung, dan mamalia, sekaligus membentuk jaringan ekologis yang mendukung berbagai organisme lain.
Keanekaragaman tumbuhan juga dapat meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap perubahan lingkungan. Komunitas dengan banyak spesies memiliki lebih banyak kemungkinan untuk mempertahankan fungsi ekologis ketika menghadapi perubahan suhu, kekeringan, atau tekanan lain yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Salah satu kekuatan penelitian tersebut berasal dari durasi pengamatannya. Studi mengenai pemulihan alami padang rumput dalam jangka panjang relatif jarang karena membutuhkan survei yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Lokasi penelitian dikenal sebagai Sayer’s Meadow di Bodham, North Norfolk. Lahan tersebut dimiliki Derek Sayer, ayah Profesor Carl Sayer sekaligus salah satu rekan penulis penelitian. Kondisi tersebut memungkinkan perubahan vegetasi di lokasi yang sama diamati secara berulang dalam periode yang panjang.
Setiap dua hingga tiga tahun, Sayer bersama Pete Robinson melakukan survei vegetasi terperinci. Tim mencatat seluruh spesies tumbuhan yang ditemukan di padang rumput dan mengamati perubahan yang terjadi pada petak-petak survei permanen.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup besar. Pada 2011, setiap petak survei rata-rata memiliki sekitar 10 spesies tumbuhan. Pada 2022, jumlah tersebut telah meningkat menjadi hampir 20 spesies.
Perubahan tersebut berarti rata-rata kekayaan spesies pada petak penelitian meningkat sekitar dua kali lipat hanya dalam waktu 11 tahun. Peningkatan tidak hanya terjadi dalam jumlah spesies, tetapi juga dalam karakter komunitas tumbuhan yang terbentuk.
Ribuan anggrek kemudian mulai tumbuh secara alami di padang tersebut. Populasi yellow rattle juga terus meningkat. Kedua tumbuhan tersebut dipandang sebagai indikator penting bahwa restorasi padang rumput telah berlangsung dengan baik.
Kemunculan spesies tersebut menarik karena tidak dihasilkan melalui proses penyemaian langsung. Para peneliti menduga beberapa tumbuhan yang lebih tidak biasa mungkin mencapai lokasi dengan bantuan satwa liar seperti rusa yang dapat membawa atau menyebarkan materi tumbuhan dari tempat lain.
Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa restorasi tidak selalu terjadi hanya di dalam batas suatu lahan. Hewan, angin, tanah, dan bentang alam sekitarnya dapat berperan sebagai jaringan yang memungkinkan benih dan organisme bergerak kembali menuju habitat yang sedang pulih.
Sayer menjelaskan bahwa keluarganya berhenti menggarap lahan setelah tanaman rapeseed atau rapa minyak dipanen pada 2005 karena lokasi tersebut sulit dikeringkan. Sejak awal Sayer sebenarnya menginginkan lahan itu menjadi padang bunga liar, sementara banyak saran yang diterima justru merekomendasikan penyemaian.
Namun, ketertarikan Sayer terhadap kemampuan alam memulihkan dirinya membuat keputusan berbeda diambil. Alih-alih menanam campuran benih, lahan tersebut dibiarkan berkembang sambil mempertahankan praktik tradisional berupa pemotongan jerami tahunan.
Ketika anggrek pertama mulai muncul dalam survei, Sayer menggambarkan kemunculan tersebut sebagai sesuatu yang sangat menggembirakan. Kini padang tersebut memiliki keanekaragaman yang jauh lebih besar dan ribuan anggrek menjadi daya tarik bagi masyarakat desa setempat.
Menurut Sayer, kombinasi pemotongan jerami tradisional dengan spontanitas proses alam memperlihatkan apa yang dapat dicapai tanpa restorasi intensif. Mengunjungi padang tersebut bahkan digambarkan seperti melangkah kembali ke masa ketika padang bunga liar masih menjadi bagian yang lebih umum dari bentang alam pedesaan.
Temuan tersebut tidak berarti seluruh bekas lahan pertanian akan otomatis berubah menjadi padang bunga liar yang kaya spesies jika ditinggalkan. Kondisi tanah, sumber benih di lingkungan sekitar, sejarah penggunaan lahan, hidrologi, keberadaan satwa, dan bentuk pengelolaan tetap dapat menentukan jalur pemulihan setiap lokasi.
Namun, penelitian Sayer’s Meadow memperlihatkan bahwa kemampuan regenerasi alami dapat menjadi faktor yang terlalu mudah diabaikan ketika restorasi dirancang sejak awal sebagai proses yang harus selalu dikendalikan oleh manusia. Pada lokasi yang sesuai, memberikan waktu dan ruang bagi proses ekologis dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan itu sendiri.
Pendekatan tersebut juga memiliki konsekuensi ekonomi. Jika regenerasi alami dapat bekerja pada sebagian bekas lahan pertanian, biaya pembelian benih, penanaman, dan berbagai intervensi restorasi dapat dikurangi, memungkinkan sumber daya dialihkan menuju lokasi yang memang membutuhkan intervensi lebih besar.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebuah ladang pertanian yang hampir tidak diberi intervensi setelah berhenti digunakan mampu berubah dalam sedikit lebih dari satu dekade menjadi padang bunga liar dengan jumlah spesies tumbuhan sekitar dua kali lebih tinggi dan ribuan anggrek yang muncul secara alami. Dengan hanya mempertahankan pemotongan jerami tahunan, Sayer’s Meadow memperlihatkan bahwa regenerasi alami dapat memulihkan keanekaragaman hayati sekaligus mempertahankan keragaman genetik lokal. Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa dalam sebagian proyek restorasi, kesabaran dan pemberian ruang kepada alam dapat menjadi pendekatan yang lebih sederhana, murah, dan tetap efektif dibandingkan intervensi intensif.
Diolah dari artikel:
“Scientists left this farm field alone. Thousands of orchids appeared” oleh University College London (UCL). (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260822015208.htm