Vitamin D Dosis Tinggi Berpotensi Mendukung Kemampuan Kognitif?

Sumber ilustrasi: Magnific
27 Agustus 2026 16.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [27.08.2026] Vitamin D merupakan nutrisi penting bagi kesehatan tulang, fungsi otot, serta sistem saraf. Tubuh dapat memproduksi vitamin D3 melalui paparan sinar matahari, sementara vitamin D juga dapat diperoleh dari makanan maupun suplemen. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mulai melihat peran vitamin tersebut dalam fungsi otak, kualitas tidur, dan kemungkinan hubungannya dengan proses penurunan kognitif pada usia lanjut.

Perhatian terhadap hubungan tersebut semakin besar karena penyakit Alzheimer terus menjadi salah satu persoalan kesehatan utama pada populasi lanjut usia. Lebih dari 7 juta orang di Amerika Serikat saat ini hidup dengan demensia Alzheimer, dan jumlah tersebut diperkirakan mendekati 13 juta orang pada tahun 2050.

Sebuah penelitian terbaru dari Emory University menunjukkan bahwa konsumsi suplemen vitamin D dalam jumlah lebih tinggi mungkin berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih baik pada kelompok lanjut usia yang memiliki risiko lebih besar mengalami demensia. Temuan tersebut secara khusus terlihat pada orang yang telah mengalami gangguan kognitif ringan sekaligus gangguan tidur.

Penelitian melibatkan 54 orang dewasa yang mengalami mild cognitive impairment atau MCI dan masalah tidur. Kedua kondisi tersebut menarik perhatian peneliti karena dapat ditemukan pada tahap awal proses yang kemudian berkembang menuju demensia pada sebagian orang.

Para peserta melaporkan jumlah vitamin D yang mereka konsumsi setiap hari. Peneliti kemudian membandingkan konsumsi tersebut dengan performa mereka dalam pengukuran fungsi kognitif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi setidaknya 5.000 IU vitamin D setiap hari menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih baik dibandingkan peserta yang tidak mengonsumsi suplemen vitamin D. Perbedaan tersebut tetap terlihat setelah para peneliti menyesuaikan analisis terhadap berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi hasil.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Medicine menemukan bahwa kelompok dengan konsumsi vitamin D sebesar 5.000 IU atau lebih setiap hari memperoleh skor lebih dari 13 persen lebih tinggi pada Montreal Cognitive Assessment atau MoCA dibandingkan kelompok yang sama sekali tidak mengonsumsi vitamin D.

MoCA merupakan tes skrining yang banyak digunakan untuk mengevaluasi memori, kemampuan berpikir, dan berbagai fungsi kognitif lainnya. Pemeriksaan tersebut juga digunakan untuk membantu mengidentifikasi orang yang mungkin memiliki peningkatan risiko gangguan kognitif atau demensia.

Menariknya, hubungan serupa tidak terlihat pada peserta yang mengonsumsi vitamin D dalam dosis harian lebih rendah. Dengan demikian, hasil penelitian tidak sekadar menunjukkan bahwa setiap tingkat konsumsi vitamin D otomatis berkaitan dengan peningkatan skor kognitif, tetapi hubungan yang ditemukan terutama muncul pada kelompok dengan konsumsi setidaknya 5.000 IU per hari.

Para peneliti juga menyoroti pentingnya kapan suatu intervensi dilakukan. MCI merupakan kondisi yang berada di antara perubahan kognitif normal akibat proses penuaan dan demensia yang lebih jelas, sehingga tahap tersebut dapat menjadi periode penting untuk mencari faktor yang masih mungkin dimodifikasi.

Victoria Pak, penulis senior penelitian, menjelaskan bahwa orang lanjut usia yang mengalami gangguan tidur sekaligus gangguan kognitif ringan mungkin berada dalam suatu jendela penting untuk intervensi. Pada tahap tersebut perubahan kognitif telah mulai muncul, tetapi masih terdapat peluang untuk mendukung kesehatan otak sebelum penurunan berkembang lebih jauh.

Pak, associate professor di Nell Hodgson Woodruff School of Nursing, Emory University, juga menilai bahwa pencarian faktor yang relatif mudah diakses dan dapat dimodifikasi seperti konsumsi suplemen vitamin D akan semakin penting seiring terus meningkatnya jumlah kasus Alzheimer.

Penelitian tersebut kemudian memeriksa apakah jenis vitamin D yang digunakan memberikan hasil berbeda. Vitamin D umumnya tersedia dalam dua bentuk utama, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3.

Vitamin D2 biasanya berasal dari tumbuhan atau fungi, sementara vitamin D3 dapat diproduksi tubuh setelah kulit terkena sinar matahari dan juga terdapat pada sejumlah makanan berbasis hewan. Dalam penelitian tersebut, performa kognitif ditemukan relatif serupa di antara orang yang mengonsumsi kedua bentuk vitamin tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi vitamin D dan skor kognitif dalam kelompok penelitian tidak tampak bergantung pada apakah peserta menggunakan vitamin D2 atau vitamin D3. Namun penelitian tersebut bersifat awal dan belum membuktikan bahwa konsumsi vitamin D dosis tinggi secara langsung menyebabkan peningkatan kemampuan kognitif.

Hubungan dengan tidur menjadi bagian penting lain dari penelitian. Vitamin D tidak hanya terlibat dalam fungsi otot dan saraf, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tidur serta pengaturan siklus tidur dan bangun.

Gangguan tidur sangat umum ditemukan pada orang dengan penyakit Alzheimer. Sekitar 50 persen orang dengan Alzheimer tingkat sedang hingga berat dilaporkan mengalami gangguan tidur, sehingga para peneliti semakin memperhatikan kemungkinan hubungan dua arah antara kualitas tidur yang buruk dan penurunan fungsi kognitif.

Kekurangan vitamin D sebelumnya juga telah dikaitkan dengan berbagai masalah tidur, termasuk insomnia dan lebih sering terbangun pada malam hari. Hubungan tersebut membuat vitamin D menarik untuk diteliti pada orang yang sekaligus mengalami gangguan tidur dan perubahan fungsi kognitif.

Penelitian Emory University menjadi studi pendahuluan pertama yang secara khusus memeriksa hubungan antara konsumsi suplemen vitamin D dan fungsi kognitif pada kelompok berisiko tinggi yang memiliki MCI sekaligus gangguan tidur. Dengan jumlah peserta hanya 54 orang, hasilnya masih membutuhkan penelitian lanjutan dalam populasi yang lebih besar dan desain intervensi yang dapat menentukan hubungan sebab-akibat dengan lebih kuat.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa orang dewasa lanjut usia dengan gangguan kognitif ringan dan masalah tidur yang mengonsumsi setidaknya 5.000 IU vitamin D setiap hari memperoleh skor kognitif lebih dari 13 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi vitamin D. Hubungan tersebut terlihat pada vitamin D2 maupun D3, sementara dosis yang lebih rendah tidak menunjukkan pola yang sama. Hasil ini membuka kemungkinan bahwa vitamin D dapat menjadi salah satu faktor yang layak dipelajari lebih jauh pada tahap awal penurunan kognitif, terutama ketika gangguan tidur juga telah muncul, tetapi penelitian yang lebih besar tetap diperlukan untuk menentukan apakah vitamin D benar-benar dapat memperlambat atau memperbaiki penurunan fungsi otak.

Diolah dari artikel:
“This common vitamin was linked to 13% better cognitive scores” oleh Emory University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260822015138.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *