Salamander Raksasa Baru Berusia 3,5 Juta Tahun Ditemukan di Jepang

Sumber ilustrasi: Pixabay
27 Juli 2026 14.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [27.07.2026] Salamander raksasa merupakan salah satu kelompok amfibi tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Catatan fosil menunjukkan keluarga Cryptobranchidae pernah tersebar luas di Belahan Bumi Utara, tetapi hubungan evolusi antarspesiesnya masih belum sepenuhnya dipahami. Banyak fosil yang ditemukan selama ini juga diklasifikasikan ke dalam genus Andrias karena keterbatasan data anatomi pembanding.

Pada akhir 1990-an, para peneliti menemukan tiga ruas tulang belakang salamander raksasa di wilayah Ajimu, Prefektur Oita, Jepang. Fosil tersebut berasal dari Formasi Tsubusugawa yang terbentuk sekitar 3,5 juta tahun lalu pada zaman Pliosen. Selama lebih dari dua dekade, identitas pasti fosil itu masih menjadi tanda tanya.

Fosil-fosil lain dari lapisan yang sama, seperti gajah dan buaya yang kini tidak lagi hidup secara alami di Jepang, menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki iklim yang jauh lebih hangat dan lembap dibandingkan sekarang. Kondisi tersebut mencerminkan lingkungan danau serta rawa yang mendukung keberadaan berbagai satwa berukuran besar.

Penelitian terbaru yang dipimpin tim dari Kyoto University akhirnya memberikan jawaban atas misteri tersebut. Dengan membandingkan fosil Ajimu dengan kerangka spesies Cryptobranchidae modern, para peneliti menemukan bahwa tulang-tulang tersebut memiliki ciri anatomi yang belum pernah ditemukan pada salamander raksasa mana pun yang telah diketahui.

Analisis menunjukkan bahwa fosil terdiri atas satu ruas tulang belakang bagian depan tubuh, satu ruas bagian tengah, dan satu ruas sakro-kaudal. Bagian yang paling menentukan adalah ruas tulang belakang tengah yang memiliki karakter anatomi unik sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam genus yang telah dikenal sebelumnya.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menetapkan fosil itu sebagai spesies sekaligus genus baru yang diberi nama Limnospondylus ajimuensis. Nama Limnospondylus berasal dari kata Yunani limne yang berarti danau dan spondylos yang berarti ruas tulang belakang, sedangkan ajimuensis merujuk pada lokasi penemuan di Ajimu.

Penulis utama penelitian, Masahiro Noda, menjelaskan bahwa Ajimu merupakan satu-satunya lokasi di dunia tempat fosil keluarga salamander raksasa ditemukan berdampingan dengan genus yang masih hidup. Menurut Noda, temuan tersebut menegaskan pentingnya Jepang dalam memahami sejarah evolusi kelompok amfibi raksasa tersebut.

Para peneliti memperkirakan Limnospondylus ajimuensis hidup di kawasan danau air tawar dan rawa-rawa luas yang menutupi sebagian Pulau Kyushu beberapa juta tahun lalu. Ketika dewasa, panjang tubuh salamander tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,1 meter sehingga termasuk salah satu amfibi terbesar pada masanya.

Penemuan ini memperluas keragaman keluarga Cryptobranchidae. Sebelum penelitian ini, hanya lima genus yang telah dideskripsikan secara ilmiah. Kehadiran satu genus baru menunjukkan bahwa keragaman salamander raksasa purba kemungkinan jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.

Para peneliti juga menilai banyak fosil Cryptobranchidae yang sebelumnya dimasukkan ke dalam genus Andrias mungkin perlu ditinjau ulang. Keterbatasan pemahaman anatomi pada masa lalu berpotensi menyebabkan sejumlah spesies berbeda dianggap berasal dari kelompok yang sama.

Analisis turut mengindikasikan bahwa perubahan iklim pada masa transisi dari Pliosen menuju awal Pleistosen, disertai perubahan besar pada habitat setempat, kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan kepunahan Limnospondylus ajimuensis. Pendinginan suhu global diperkirakan mengubah lingkungan danau serta rawa yang menjadi habitat utamanya.

Meskipun spesies purba tersebut telah punah, kerabatnya, Andrias japonicus atau salamander raksasa Jepang, masih bertahan hidup di sejumlah sungai di wilayah Ajimu dan daerah lain di Jepang. Namun, spesies modern tersebut kini menghadapi ancaman baru.

Masahiro Noda menjelaskan bahwa salamander raksasa asli Jepang saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk hibridisasi dengan spesies asing dan kerusakan habitat. Penelitian tersebut, menurut Noda, semakin menegaskan pentingnya menjaga populasi yang masih bertahan agar tidak mengalami nasib serupa dengan kerabat purbanya.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa salamander raksasa yang hidup di Jepang pada 3,5 juta tahun lalu bukanlah anggota genus yang telah dikenal, melainkan mewakili genus dan spesies baru. Penemuan Limnospondylus ajimuensis tidak hanya memperkaya sejarah evolusi salamander raksasa, tetapi juga membuka kemungkinan bahwa masih banyak spesies purba lain yang selama ini belum dikenali akibat keterbatasan klasifikasi fosil.

Diolah dari artikel:
“New giant salamander species discovered in 3.5-million-year-old fossils” oleh Kyoto University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260722032119.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *