Pola Makan Lebih Sehat Dapat Menurunkan Emisi Pertanian hingga 85 Persen?

Sumber ilustrasi: Unsplash
24 Juli 2026 16.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [24.07.2026] Sistem pangan dunia selama ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah, tetapi juga menjadi sumber besar emisi, kerusakan lingkungan, dan masalah kesehatan. Produksi ternak, pembukaan lahan, penggunaan sumber daya, serta limbah makanan menciptakan tekanan besar terhadap iklim dan ekosistem.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pola makan, cara bertani, dan pengelolaan limbah makanan dapat mengubah sistem pertanian dunia pada 2050. Transformasi tersebut berpotensi mengurangi penggunaan lahan pertanian global sekaligus menekan emisi karbon yang berasal dari perubahan penggunaan lahan.

Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Nature dilakukan oleh para peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, Cornell University, dan 10 tim pemodelan. Para peneliti mengkaji dampak yang mungkin terjadi apabila dunia mengikuti transformasi sistem pangan seperti yang direkomendasikan EAT-Lancet Commission 2025.

Pemodelan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan lahan pertanian global dapat berkurang hingga 6 persen dibandingkan kecenderungan saat ini. Pada saat yang sama, nilai total produksi peternakan diperkirakan turun 42 persen atau sekitar 630 miliar dolar Amerika Serikat dibandingkan 2020.

Perubahan terbesar diperkirakan terjadi pada peternakan hewan ruminansia, seperti sapi, domba, dan kambing. Pada 2050, nilai global sektor tersebut dapat menurun sekitar 70 persen atau 274 miliar dolar Amerika Serikat.

Jumlah hewan ruminansia di seluruh dunia juga dapat berkurang sekitar 400 juta ekor dibandingkan 2020. Penurunan tersebut mencerminkan pergeseran konsumsi dari pangan hewani menuju sumber pangan berbasis tumbuhan.

Produksi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan legum diperkirakan bergerak ke arah sebaliknya. Nilai gabungan produksi kelompok pangan tersebut dapat meningkat sebesar 57 persen atau sekitar 890 miliar dolar Amerika Serikat.

Legum mencakup kacang, kacang polong, lentil, dan buncis. Tanaman tersebut menjadi sumber protein dan serat yang penting, sekaligus umumnya membutuhkan lebih sedikit sumber daya dibandingkan banyak jenis pangan hewani.

Laporan EAT-Lancet Commission 2025 menyimpulkan bahwa peralihan global menuju pola makan sehat dapat mencegah sekitar 15 juta kematian dini setiap tahun.

Penelitian sebelumnya juga memperkirakan bahwa sistem pangan global menimbulkan biaya tersembunyi antara 10 hingga 20 triliun dolar Amerika Serikat per tahun. Beban tersebut mencakup biaya pelayanan kesehatan, kerusakan lingkungan, hilangnya produktivitas, dan berbagai konsekuensi yang tidak tercermin dalam harga pangan.

Sebagian besar biaya tersembunyi tersebut dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat. Karena itu, transformasi sistem pangan dinilai dapat membawa manfaat ganda bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Pemodelan terbaru juga menunjukkan bahwa emisi bersih karbon dioksida dari perubahan penggunaan lahan pertanian dapat turun hingga 85 persen pada 2050 dibandingkan tingkat 2020.

Perubahan penggunaan lahan mencakup pembukaan hutan, pengubahan padang rumput, serta pengeringan lahan basah untuk kepentingan pertanian. Proses tersebut dapat melepaskan karbon tersimpan dalam jumlah besar ke atmosfer.

Emisi bersih memperhitungkan karbon yang dilepaskan sekaligus karbon yang diserap melalui perubahan penggunaan lahan. Penurunan emisi sebesar 85 persen menunjukkan potensi besar apabila tekanan terhadap lahan dapat dikurangi.

Akan tetapi manfaat tersebut akan disertai perubahan ekonomi yang sangat besar bagi para petani dan produsen pangan.

Dr. Matt Gibson, penulis utama penelitian yang memulai pekerjaan tersebut di Cornell University sebelum bergabung dengan London School of Hygiene & Tropical Medicine, menjelaskan bahwa transformasi sistem pangan dapat memberikan keuntungan besar bagi kesehatan dan lingkungan, tetapi juga akan mengubah pertanian global secara mendasar.

Menurut Gibson, jutaan petani dan produsen pangan akan terdampak karena beberapa sektor harus menyusut, sementara sektor lain berkembang.

Gibson menilai hasil tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda tindakan. Pemerintah perlu mengambil keputusan sulit demi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan planet.

Menurut Gibson, langkah tersebut juga menuntut keberanian untuk menghadapi kelompok yang memperoleh keuntungan dari sistem pangan saat ini, terutama ketika sistem tersebut dinilai gagal melindungi produsen maupun memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Daniel Mason-D’Croz dari Cornell University menjelaskan bahwa skenario tersebut tidak dimaksudkan sebagai ramalan pasti mengenai masa depan.

Menurut Mason-D’Croz, hasil pemodelan lebih tepat dipahami sebagai panduan awal untuk melihat sektor mana yang berpotensi menyusut, sektor mana yang berkembang, serta lokasi munculnya tantangan dan peluang.

Transformasi sebesar itu tidak dapat dimulai pada 2050. Perubahan membutuhkan langkah yang disiapkan jauh lebih awal agar dampak ekonominya dapat dikelola.

Pemodelan pandangan ke depan digunakan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan masa depan, bukan menentukan satu hasil tunggal. Dengan menguji berbagai asumsi, para peneliti dapat mengenali potensi gangguan ekonomi, tantangan kebijakan, dan peluang baru sejak awal.

Dampak ekonomi dari transformasi tersebut diperkirakan berbeda-beda di setiap negara dan kawasan.

Di Amerika Serikat, nilai total produksi pertanian dapat turun 21 persen atau sekitar 76 miliar dolar Amerika Serikat pada 2050 dibandingkan 2020.

Nilai produksi tanaman di Amerika Serikat dapat meningkat 20 persen atau sekitar 40 miliar dolar Amerika Serikat. Sebaliknya, nilai produksi peternakan dapat turun 73 persen atau sekitar 116 miliar dolar Amerika Serikat.

India diperkirakan mengalami hasil yang berbeda. Nilai total produksi pertaniannya dapat meningkat 46 persen atau sekitar 198 miliar dolar Amerika Serikat.

Nilai produksi tanaman di India dapat naik 65 persen atau 208 miliar dolar Amerika Serikat. Nilai produksi peternakan hanya diperkirakan turun sekitar 8 persen atau 10 miliar dolar Amerika Serikat.

Eropa dapat mengalami penurunan nilai produksi pertanian secara keseluruhan sebesar 35 persen atau sekitar 190 miliar dolar Amerika Serikat.

Nilai produksi tanaman Eropa diperkirakan turun 8 persen atau 22 miliar dolar Amerika Serikat. Nilai produksi peternakan dapat turun jauh lebih besar, yaitu 66 persen atau 168 miliar dolar Amerika Serikat.

Perbedaan regional tersebut mencerminkan variasi sistem pertanian, pola konsumsi, biaya produksi, ketersediaan lahan, perdagangan, serta jenis pangan utama yang diproduksi setiap kawasan.

Namun demikian, mengubah pola makan dunia tidak akan menjadi proses sederhana.

Model dalam penelitian mengasumsikan bahwa konsumen beralih menuju pola makan sehat tanpa biaya tambahan atau hambatan berarti.

Asumsi tersebut berarti masyarakat dianggap bersedia mengubah pilihan makanan tanpa memperhitungkan kesulitan ekonomi, budaya, maupun praktis.

Dalam kehidupan nyata, pangan sehat tidak selalu terjangkau atau tersedia secara merata. Pilihan makanan juga dipengaruhi oleh tradisi, pendapatan, preferensi pribadi, pasokan lokal, dan nilai budaya.

Karena itu, para peneliti menekankan bahwa skenario yang disajikan hanya mencerminkan sebagian dari banyak kemungkinan masa depan.

Penelitian tambahan masih diperlukan untuk menguji jalur transformasi lain berdasarkan kebijakan, kondisi ekonomi, dan perilaku konsumen yang berbeda.

Para penulis menilai keputusan kebijakan yang berani sejak sekarang dapat membantu melindungi produsen pangan dan konsumen yang rentan.

Tanpa perencanaan yang matang, manfaat kesehatan dan lingkungan dapat disertai gangguan ekonomi berat, khususnya bagi masyarakat yang sangat bergantung pada peternakan dan sektor lain yang diperkirakan menyusut.

Peralihan global menuju pola makan yang lebih sehat, pertanian yang lebih efisien, dan pengurangan limbah pangan berpotensi menurunkan emisi bersih pertanian dari perubahan penggunaan lahan hingga 85 persen pada 2050, mengurangi penggunaan lahan, memperluas produksi pangan nabati, dan mencegah jutaan kematian dini. Transformasi tersebut juga dapat mengurangi nilai produksi peternakan secara tajam, memengaruhi jutaan petani, dan menciptakan dampak ekonomi yang tidak merata antarnegara. Keberhasilan perubahan sistem pangan akan bergantung pada kebijakan yang mampu mengelola peralihan tersebut secara adil, melindungi kelompok rentan, serta mengatasi hambatan budaya, ekonomi, dan akses terhadap pangan sehat.

Diolah dari artikel:
“A healthier global diet could cut farm emissions by 85%” oleh London School of Hygiene & Tropical Medicine. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260716023557.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *