Penelitian Ungkap Manfaat Olahraga bagi Osteoartritis Pinggul Mungkin Tidak Seefektif yang Diperkirakan

Sumber ilustrasi: Magnific
30 Juli 2026 10.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [30.07.2026] Osteoartritis pinggul merupakan salah satu penyebab utama nyeri kronis dan keterbatasan gerak pada jutaan orang di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi ketika tulang rawan yang melindungi sendi pinggul mengalami kerusakan secara bertahap sehingga menimbulkan rasa nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi fisik. Selama bertahun-tahun, olahraga menjadi salah satu terapi utama yang direkomendasikan karena dianggap mampu mengurangi gejala sekaligus membantu mempertahankan mobilitas penderita.

Dalam sebuah tinjauan ilmiah terbaru dari Cochrane menunjukkan bahwa manfaat olahraga bagi penderita osteoartritis pinggul mungkin tidak sebesar yang diharapkan banyak pasien. Penelitian menemukan adanya perbaikan pada nyeri dan fungsi fisik, tetapi besarnya perubahan rata-rata kemungkinan terlalu kecil untuk benar-benar dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Para peneliti juga menegaskan bahwa bukti ilmiah yang lebih kuat masih diperlukan sebelum kesimpulan yang lebih pasti dapat dibuat.

Tim peneliti dari University of Sydney dan University of Melbourne menganalisis 18 uji klinis yang melibatkan 1.368 peserta. Sekitar 63 persen peserta merupakan perempuan dengan rentang usia 53 hingga 74 tahun. Para peneliti mencatat bahwa hasil penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada kelompok usia yang lebih muda.

Program olahraga yang digunakan dalam berbagai penelitian tersebut sangat beragam. Durasi latihan berlangsung antara dua hingga 52 minggu dan mencakup latihan penguatan otot, latihan aerobik, serta latihan yang menggabungkan gerakan tubuh dan pengendalian pikiran atau mind-body exercise.

Ketika dibandingkan dengan perawatan biasa atau tanpa terapi sama sekali, olahraga kemungkinan mampu mengurangi nyeri sekitar tujuh poin pada skala 100 poin. Para peneliti menjelaskan bahwa penurunan sebesar 12 poin atau lebih umumnya dianggap sebagai perubahan yang cukup besar untuk dirasakan secara nyata oleh pasien dalam kehidupan sehari-hari.

Perbaikan fungsi fisik menunjukkan pola yang serupa. Rata-rata peningkatan kemampuan bergerak memang ditemukan, tetapi besarnya masih tergolong kecil sehingga kemungkinan belum memberikan perubahan yang berarti bagi sebagian besar penderita.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa batas minimal perubahan yang dianggap bermakna tersebut terutama berasal dari penelitian mengenai osteoartritis lutut atau kelompok pasien osteoartritis secara umum. Oleh karena itu, ukuran tersebut belum tentu sepenuhnya menggambarkan pengalaman pasien dengan osteoartritis pinggul.

Selain nyeri dan fungsi fisik, penelitian juga mengevaluasi kualitas hidup para peserta. Hasil analisis menunjukkan bahwa olahraga hanya memberikan sedikit atau bahkan tidak memberikan peningkatan kualitas hidup, baik ketika dibandingkan dengan perawatan biasa maupun kelompok pembanding lainnya.

Michelle Hall, salah satu penulis utama penelitian dari University of Sydney, menjelaskan bahwa hasil tinjauan ini tidak mengubah rekomendasi yang menempatkan olahraga sebagai terapi utama untuk osteoartritis pinggul. Michelle Hall menilai temuan tersebut justru menunjukkan pentingnya menyampaikan kepada pasien bahwa manfaat rata-rata olahraga kemungkinan hanya bersifat sedang hingga kecil. Michelle Hall juga menekankan perlunya penelitian dengan rancangan yang lebih baik agar dapat diketahui siapa yang memperoleh manfaat terbesar dan jenis olahraga apa yang paling efektif.

Meskipun manfaat yang ditemukan relatif kecil, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa olahraga tidak efektif ataupun tidak lagi layak direkomendasikan. Aktivitas fisik tetap memberikan banyak manfaat kesehatan lain di luar pengendalian osteoartritis, seperti menjaga kesehatan jantung, mempertahankan massa otot, meningkatkan keseimbangan, serta membantu mencegah berbagai penyakit kronis.

Olahraga juga merupakan terapi yang relatif murah dan memiliki risiko efek samping yang rendah apabila dilakukan sesuai kondisi masing-masing individu. Karena alasan tersebut, olahraga masih menjadi bagian penting dalam penatalaksanaan osteoartritis pinggul.

Para peneliti juga mengidentifikasi sejumlah keterbatasan dalam bukti ilmiah yang tersedia. Sebagian besar penelitian yang dianalisis melibatkan jumlah peserta yang relatif sedikit dan tidak menggunakan metode blinding, sehingga peserta mengetahui apakah mereka mengikuti program olahraga atau tidak.

Selain itu, penilaian terhadap nyeri dan fungsi fisik sebagian besar didasarkan pada laporan peserta sendiri. Kondisi tersebut dapat menyebabkan manfaat olahraga tampak lebih besar dibandingkan efek yang sebenarnya terjadi.

Belinda Lawford, salah satu penulis utama dari University of Melbourne, menjelaskan bahwa bukti ilmiah mengenai olahraga untuk osteoartritis pinggul masih belum terlalu banyak. Belinda Lawford menilai olahraga memang dapat menjadi harapan penting bagi sebagian penderita yang mengalami nyeri pinggul, tetapi penyampaian manfaat kepada pasien harus tetap realistis agar tidak menimbulkan harapan yang berlebihan. Belinda Lawford juga menekankan pentingnya penelitian yang lebih besar dan berkualitas tinggi untuk mengetahui jenis olahraga yang paling sesuai bagi setiap kelompok pasien.

Para peneliti berharap penelitian di masa mendatang dapat melibatkan lebih banyak peserta dengan rancangan penelitian yang lebih baik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjelaskan secara lebih akurat manfaat olahraga sekaligus membantu mengidentifikasi latihan yang paling efektif berdasarkan karakteristik masing-masing penderita.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa olahraga tetap memberikan manfaat bagi penderita osteoartritis pinggul dengan membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi fisik. Namun, besarnya manfaat rata-rata kemungkinan belum cukup besar untuk dirasakan secara nyata oleh banyak pasien dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian yang lebih besar dan berkualitas tinggi masih diperlukan untuk menentukan jenis olahraga yang paling efektif serta mengidentifikasi kelompok pasien yang memperoleh manfaat terbesar dari terapi tersebut.

Diolah dari artikel:
“Exercise may not help hip arthritis as much as patients expect” oleh Cochrane. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260723084043.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *