Rutinitas Harian yang Teratur Berkaitan dengan Penurunan Nyeri dan Gejala Depresi?

Sumber ilustrasi: Magnific
31 Juli 2026 17.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [31.07.2026] Rutinitas harian sering dipandang sebagai kebiasaan sederhana yang hanya membantu seseorang mengatur waktu. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara teratur, seperti bangun tidur, makan, bekerja, bersosialisasi, dan pergi tidur pada waktu yang relatif sama, juga memberikan penanda waktu yang penting bagi tubuh.

Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang mengatur berbagai fungsi dalam siklus sekitar 24 jam. Ritme tersebut membantu mengendalikan waktu tidur, perubahan suasana hati, pelepasan hormon, metabolisme, dan berbagai proses fisiologis lainnya.

Ketika aktivitas harian berlangsung secara konsisten, tubuh menerima petunjuk waktu yang lebih teratur. Sebaliknya, perubahan waktu tidur, makan, atau aktivitas sosial dapat mengganggu sinkronisasi jam biologis internal.

Gangguan terhadap ritme sirkadian telah lama dikaitkan dengan masalah tidur dan penurunan kesehatan. Namun, hubungan antara keteraturan rutinitas harian, rasa nyeri, serta gejala depresi pada orang lanjut usia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Penelitian terbaru dari University of Missouri menunjukkan bahwa rutinitas harian yang konsisten mungkin memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Orang lanjut usia yang menjalani aktivitas sehari-hari secara teratur dilaporkan mengalami lebih sedikit nyeri fisik dan gejala depresi, termasuk mereka yang mengalami insomnia.

Insomnia menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup umum pada kelompok lanjut usia. Berdasarkan National Council on Aging, sekitar separuh orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih mengalami gejala insomnia.

Kesulitan tidur tidak hanya menyebabkan rasa lelah pada siang hari. Insomnia juga sering ditemukan bersamaan dengan rasa nyeri yang lebih berat, perubahan suasana hati, dan penurunan kualitas hidup.

Untuk mempelajari hubungan tersebut, Eunjin Tracy, asisten profesor di College of Education and Human Development, University of Missouri, menganalisis jawaban survei dari 67 orang lanjut usia.

Dari seluruh peserta yang terlibat dalam penelitian, sebanyak 37 orang mengalami insomnia.

Sesuai dengan perkiraan awal para peneliti, peserta yang mengalami insomnia secara umum melaporkan tingkat nyeri yang lebih tinggi dan gejala depresi yang lebih kuat dibandingkan peserta yang tidak mengalami gangguan tidur.

Namun, Eunjin Tracy menemukan pola penting yang muncul pada seluruh kelompok peserta. Orang lanjut usia yang mempertahankan rutinitas harian secara teratur cenderung mengalami tingkat nyeri dan depresi yang lebih rendah, terlepas dari kualitas tidur mereka.

Eunjin Tracy menjelaskan bahwa peserta yang memiliki rutinitas harian konsisten melaporkan lebih sedikit nyeri fisik dan gejala depresi dibandingkan peserta yang tidak menjalani pola hidup teratur.

Rutinitas yang dimaksud mencakup waktu bangun tidur, makan, bekerja atau belajar, berinteraksi dengan orang lain, serta pergi tidur.

Menurut Eunjin Tracy, aktivitas yang dilakukan pada waktu relatif sama memberikan petunjuk waktu yang membantu menyelaraskan jam biologis internal tubuh.

Dalam jangka panjang, sinkronisasi tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.

Ritme sirkadian bekerja sebagai sistem pengatur waktu yang membantu tubuh menentukan kapan harus aktif, beristirahat, makan, dan tidur. Keteraturan aktivitas sehari-hari membantu sistem tersebut mempertahankan pola yang stabil.

Eunjin Tracy menjelaskan bahwa tubuh dapat menjalankan fungsinya secara lebih baik ketika ritme sirkadian teratur. Ketika jam biologis terlalu sering terganggu, berbagai proses tubuh juga dapat berjalan kurang optimal.

Perubahan jadwal tidur dan aktivitas tidak harus berlangsung secara ekstrem untuk memengaruhi ritme tubuh. Perbedaan antara rutinitas pada hari kerja dan akhir pekan juga dapat menimbulkan gangguan.

Perubahan tersebut sering disebut sebagai social jet lag, yaitu ketidaksesuaian antara waktu biologis tubuh dan jadwal sosial seseorang.

Seseorang dapat mengalami social jet lag ketika bangun dan tidur lebih awal selama hari kerja, kemudian mengubah jadwal secara drastis pada akhir pekan.

Meskipun perubahan tersebut hanya berlangsung selama satu atau dua hari, pergeseran yang terjadi secara berulang dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan ritme yang stabil.

Eunjin Tracy menilai bahwa mempertahankan jadwal yang relatif serupa sepanjang minggu dapat mengurangi gangguan terhadap ritme sirkadian.

Menurut Eunjin Tracy, manfaat rutinitas harian juga tidak terbatas pada kelompok lanjut usia. Pola bangun dan tidur yang konsisten berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan manusia pada berbagai tahap kehidupan.

Kesadaran mengenai dampak social jet lag semakin berkembang karena banyak orang memiliki jadwal yang berbeda antara hari kerja dan akhir pekan.

Perbedaan waktu bangun dan tidur tersebut dapat memengaruhi ritme sirkadian, kemudian berdampak pada tidur, suasana hati, serta fungsi tubuh lainnya.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kesehatan tidur tidak seharusnya hanya dilihat dari apa yang terjadi pada malam hari.

Eunjin Tracy berpendapat bahwa penelitian mengenai kesehatan dan kesejahteraan perlu menggunakan sudut pandang 24 jam karena sekitar sepertiga kehidupan manusia dihabiskan untuk tidur.

Aktivitas pada pagi, siang, dan sore hari dapat memberikan pengaruh terhadap kesiapan tubuh untuk tidur pada malam hari.

Waktu makan, aktivitas sosial, pekerjaan, paparan cahaya, dan waktu istirahat semuanya bertindak sebagai penanda yang membantu tubuh mengatur waktu aktif dan waktu tidur.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa rutinitas harian yang dapat diprediksi mungkin menjadi pendekatan sederhana untuk mendukung kesehatan, terutama bagi orang lanjut usia yang mengalami insomnia.

Namun, rutinitas harian bukan pengganti perawatan medis untuk insomnia, nyeri kronis, atau depresi. Keteraturan aktivitas dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang lebih luas.

Penelitian berjudul “Behavioral-social rhythms and insomnia symptoms: associations with pain, body mass index, and depressive symptoms among older adults” tersebut dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Medicine.

Penelitian dari University of Missouri menunjukkan bahwa orang lanjut usia yang mempertahankan rutinitas harian secara konsisten cenderung mengalami lebih sedikit nyeri fisik dan gejala depresi, termasuk pada peserta yang mengalami insomnia. Jadwal bangun, makan, bekerja, bersosialisasi, dan tidur yang relatif teratur membantu menyelaraskan ritme sirkadian yang mengendalikan berbagai fungsi tubuh. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental tidak hanya berkaitan dengan kualitas tidur pada malam hari, tetapi juga dengan keteraturan aktivitas yang dijalani sepanjang hari.

Diolah dari artikel:
“Scientists find a simple routine linked to less pain and depression” oleh University of Missouri-Columbia. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260729010705.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *