Sumber ilustrasi: Pixabay
27 Agustus 2026 09.50 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [27.08.2026] Banjir bandang besar menerjang kawasan perbatasan Nepal dan China pada Rabu, 26 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan lainnya dilaporkan hilang. Bencana yang menghantam sejumlah permukiman serta jalur perjalanan di kawasan Himalaya tersebut diduga dipicu oleh longsoran es dan batu dari gletser yang kemudian menyebabkan gelombang air besar mengalir dengan cepat menuju wilayah di bawahnya.
Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang meninggal akibat bencana tersebut. Sementara itu, lembaga penyiaran pemerintah China, CCTV, melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 265 lainnya hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet, yang berada dekat perbatasan Nepal. Kantor berita Xinhua juga melaporkan adanya korban dalam jumlah besar akibat banjir.
Rekaman drone dari kawasan terdampak memperlihatkan jalan-jalan yang hancur dan sejumlah bangunan tertimbun lumpur serta material yang terbawa arus. Air banjir berwarna menyerupai semen basah menerjang kawasan permukiman dengan kekuatan besar. Di Distrik Nuwakot, Nepal, lumpur bahkan terlihat menutupi bagian atas sejumlah bangunan, sementara kendaraan terkubur dan puing-puing tersangkut di pepohonan maupun kabel.
Kecepatan datangnya banjir menyebabkan warga hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri. Seorang warga bernama Shoyam Rajbhandari mengatakan banjir menghantam kawasan pasar Dhunge hanya sekitar setengah jam setelah dirinya tiba. Ketika itu, banyak orang sedang bersiap berangkat bekerja sebelum arus deras menghancurkan pasar.
Jumlah orang yang dilaporkan hilang di Nepal mencapai 403 orang, termasuk 341 warga negara asing. Juru bicara badan pariwisata Nepal, Sunil Sharma, mengatakan 133 warga India yang sedang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet termasuk di antara mereka yang belum ditemukan.
Gunung Kailash merupakan salah satu lokasi suci bagi umat Hindu dan menjadi tujuan perjalanan sejumlah peziarah melalui Nepal. Selain warga India, daftar orang hilang juga mencakup 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan telah mengetahui adanya warga negaranya yang terdampak bencana tersebut.
Sedikitnya 62 warga Nepal juga dilaporkan hilang ketika ratusan penduduk setempat melakukan trekking di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa. Aktivitas tersebut berlangsung menjelang perayaan lokal Janai Purnima pada Jumat. Distrik Rasuwa berbatasan langsung dengan Gyirong di Tibet dan menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak terberat dari banjir.
Bencana tersebut juga berdampak terhadap aparat keamanan. Juru bicara kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengatakan sedikitnya 28 anggota polisi termasuk dalam daftar orang hilang.
Pemerintah kemudian meminta penduduk di sejumlah distrik untuk menjauh dari tepian Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani karena masih terdapat risiko akibat tingginya aliran air. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer jalan dilaporkan tersapu banjir.
Sungai Bhotekoshi dilaporkan meluap sekitar pukul 09.00 pada Rabu. Luapan tersebut menghancurkan sejumlah desa serta proyek pembangkit listrik tenaga air. Pemerintah Nepal kemudian meminta bantuan dari India dan China untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan.
Bencana tersebut sempat dikaitkan dengan aktivitas seismik setelah Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS pada awalnya melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,4 sekitar 66 kilometer di utara Kathmandu, dekat kawasan perbatasan. Namun laporan tersebut kemudian diperbarui dan getaran yang terdeteksi dikategorikan sebagai tanah longsor bermagnitudo 5,2.
Dampak banjir juga mendorong sejumlah negara mulai mencari warga negaranya yang berada di kawasan terdampak. Pemerintah Korea Selatan melaporkan sembilan warganya yang bekerja dalam pembangunan sebuah pembangkit listrik tenaga air di Nepal termasuk dalam daftar orang hilang.
Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan pihak kedutaan menerima laporan dari agen perjalanan mengenai hilangnya kontak dengan 11 warga Malaysia yang diduga berada di Distrik Rasuwa. Kedutaan Besar Rusia di Nepal juga melaporkan empat warga Rusia yang kemungkinan berada di kawasan terdampak belum ditemukan.
Perdana Menteri India Narendra Modi kemudian berbicara dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dan menawarkan bantuan kemanusiaan. India menyatakan siap memberikan berbagai bentuk dukungan serta terus berkoordinasi dalam operasi penyelamatan dan penanganan bencana.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mulai mengerahkan sejumlah badan untuk membantu menangani kebutuhan kemanusiaan yang diperkirakan sangat besar. Australia, Inggris, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss melalui pernyataan bersama turut menyampaikan solidaritas kepada masyarakat Nepal serta meminta warga di daerah terdampak mengikuti arahan resmi dari pemerintah setempat.
Para ahli dari International Centre for Integrated Mountain Development yang berbasis di Kathmandu menduga banjir dipicu oleh longsoran dari gletser. Pengamatan hidrologis menunjukkan gelombang banjir bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Pada satu titik di Sungai Trishuli, permukaan air dilaporkan meningkat hingga sembilan meter hanya dalam waktu sekitar setengah jam.
Sungai Lhende Khola, yang merupakan anak Sungai Bhotekoshi, mengalami peningkatan aliran paling besar. Spesialis pengurangan risiko bencana Saswata Sanyal menjelaskan bahwa Lhende Khola telah mengalami dua kali banjir dalam waktu 14 bulan.
Banjir terbaru diduga terjadi setelah longsoran es dan batu dari sebuah gletser di sisi Nepal membendung sungai sebelum bendungan alami tersebut melepaskan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba ke wilayah hilir. Kondisi ini menunjukkan bagaimana perubahan pada lingkungan pegunungan dapat menciptakan bencana dalam waktu yang sangat singkat.
Bencana kali ini juga memperlihatkan pentingnya sistem peringatan dini di kawasan Himalaya yang terus mengalami pemanasan. Karakter geografis wilayah berupa lembah sempit dan lereng curam membuat air, lumpur, batu, serta puing dapat bergerak cepat menuju permukiman dan infrastruktur yang berada di bawahnya.
Wilayah tersebut sebelumnya mengalami kejadian serupa pada Agustus 2025 ketika sebuah danau glasial di Tibet meluap akibat temperatur tinggi. Sembilan orang meninggal dalam peristiwa tersebut, sementara berbagai infrastruktur penting mengalami kerusakan, termasuk sebuah jembatan yang menghubungkan Nepal dengan China.
Rangkaian bencana tersebut menjadi perhatian karena kawasan Himalaya termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap hujan lebat, banjir, tanah longsor, dan pencairan gletser. Penelitian menunjukkan berbagai kejadian cuaca ekstrem, mulai dari gelombang panas hingga hujan lebat dan pencairan es, semakin sering terjadi seiring meningkatnya temperatur akibat perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Penelitian yang dilakukan di Kathmandu pada awal 2026 juga menemukan bahwa gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya mencair dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tingkat kehilangan es di kawasan tersebut disebut telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000, terutama karena kenaikan temperatur global dan perubahan iklim.
Dari sisi analisis, besarnya dampak banjir di Nepal dan China tidak hanya berkaitan dengan volume air yang dilepaskan secara tiba-tiba, tetapi juga dengan karakter geografis Himalaya. Lembah-lembah sempit yang berfungsi sebagai jalur ekonomi, perjalanan, pariwisata, dan penghubung antardaerah dapat berubah menjadi jalur bencana ketika banjir besar terjadi. Kerusakan terhadap puluhan kilometer jalan dan belasan jembatan sekaligus memperlihatkan besarnya potensi gangguan terhadap mobilitas, kegiatan ekonomi, serta operasi penyelamatan.
Banyaknya wisatawan dan peziarah asing yang dilaporkan hilang juga menunjukkan dimensi internasional dari bencana tersebut. Kawasan Himalaya bukan hanya menjadi tempat tinggal masyarakat lokal, tetapi juga menjadi tujuan wisata, trekking, pekerjaan pembangunan infrastruktur, dan perjalanan keagamaan bagi warga dari berbagai negara. Kondisi tersebut membuat bencana di kawasan perbatasan dapat dengan cepat melibatkan berbagai pemerintah dalam operasi pencarian dan pemberian bantuan.
Dugaan bahwa longsoran gletser menjadi pemicu banjir turut memperkuat perhatian terhadap ancaman yang berkembang di kawasan pegunungan akibat perubahan iklim. Pencairan es, perubahan struktur gletser, dan meningkatnya ketidakstabilan lereng berpotensi menciptakan bendungan alami maupun pelepasan air secara tiba-tiba. Dalam wilayah dengan permukiman dan infrastruktur yang berada di sepanjang lembah sungai, waktu antara munculnya pemicu dan tibanya gelombang banjir dapat menjadi sangat singkat.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa sistem pemantauan gletser, pengamatan sungai, jalur komunikasi darurat, serta peringatan dini menjadi semakin penting bagi negara-negara di kawasan Himalaya. Banjir yang terjadi dua kali dalam 14 bulan di Lhende Khola memperlihatkan bahwa ancaman serupa bukan lagi sekadar kemungkinan jangka panjang, melainkan risiko yang dapat berulang dan memberikan dampak besar terhadap penduduk lokal maupun masyarakat internasional yang berada di kawasan tersebut.
Diolah dari artikel:
“At least 160 killed and hundreds missing after flash floods in Nepal and China” oleh Niranjan Shrestha dan Sibi Arasu. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://apnews.com/article/climate-change-nepal-flash-floods-7262dac22e31258955efa5c28c8fe917