Sumber ilustrasi: Magnific
29 September 2026 10.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [29.09.2026] Nanoplastik belakangan ini menjadi perhatian karena partikel plastik berukuran sangat kecil dapat masuk ke tubuh melalui makanan dan air minum. Berbeda dengan potongan plastik yang mudah terlihat, nanoplastik berukuran kurang dari satu mikrometer atau seperseribu milimeter sehingga interaksinya dengan tubuh jauh lebih sulit diamati.
Ukuran yang sangat kecil memungkinkan nanoplastik melewati penghalang usus dan berpotensi terakumulasi pada organ seperti ginjal dan otak. Meskipun paparan manusia terhadap partikel plastik semakin banyak diteliti, cara biologis untuk mengurangi akumulasi nanoplastik di saluran pencernaan masih berada pada tahap awal pengembangan.
Penelitian terbaru dari World Institute of Kimchi (WiKim), lembaga penelitian pemerintah di bawah Ministry of Science and ICT Korea Selatan, menemukan kemungkinan pendekatan yang tidak terduga. Bakteri asam laktat yang berasal dari kimchi ternyata mampu mengikat nanoplastik dalam kondisi yang menyerupai lingkungan usus.
Kimchi merupakan makanan fermentasi yang proses pembuatannya melibatkan berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri asam laktat. Selama ini mikroorganisme tersebut terutama dikenal karena perannya dalam fermentasi, tetapi penelitian terbaru menunjukkan sebagian bakteri kimchi mungkin juga dapat berinteraksi dengan polutan lingkungan yang masuk ke saluran pencernaan.
Tim yang dipimpin Dr. Se Hee Lee dan Dr. Tae Woong Whon dari WiKim memusatkan penelitian pada bakteri Leuconostoc mesenteroides CBA3656. Para peneliti menguji kemampuan bakteri tersebut dalam mengadsorpsi nanoplastik polistirena atau PS-NPs.
Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Dalam proses adsorpsi, partikel menempel pada permukaan suatu material atau organisme, sehingga kemampuan bakteri mengadsorpsi nanoplastik berarti partikel plastik dapat menempel pada permukaan sel bakteri.
Dalam kondisi laboratorium standar, Leuconostoc mesenteroides CBA3656 mampu mengadsorpsi sekitar 87 persen nanoplastik yang diuji. Tingkat tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan galur pembanding Latilactobacillus sakei CBA3608 yang mencapai sekitar 85 persen.
Perbedaan antara kedua bakteri menjadi jauh lebih besar ketika kondisi eksperimen dibuat menyerupai lingkungan saluran pencernaan manusia. Kondisi usus memiliki karakteristik berbeda dari lingkungan laboratorium biasa sehingga kemampuan bakteri mempertahankan ikatan dengan nanoplastik menjadi faktor penting.
Dalam simulasi kondisi usus manusia, kemampuan adsorpsi Latilactobacillus sakei CBA3608 turun drastis dari 85 persen menjadi hanya sekitar 3 persen. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengikat nanoplastik dalam kondisi laboratorium belum tentu bertahan ketika bakteri menghadapi lingkungan yang menyerupai usus.
Sebaliknya, Leuconostoc mesenteroides CBA3656 masih mempertahankan tingkat adsorpsi sekitar 57 persen. Meskipun lebih rendah dibandingkan 87 persen dalam kondisi laboratorium standar, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa bakteri asal kimchi tetap dapat mengikat sebagian besar nanoplastik yang tersedia dalam kondisi menyerupai saluran pencernaan.
Perbedaan tersebut membuat CBA3656 menarik sebagai kandidat untuk mempelajari mekanisme biologis pembuangan nanoplastik. Kemampuan mengikat partikel saja belum membuktikan bahwa nanoplastik benar-benar dapat dikeluarkan dari tubuh, sehingga para peneliti melanjutkan pengujian menggunakan hewan.
Eksperimen dilakukan menggunakan model tikus bebas kuman. Model tersebut memungkinkan peneliti mempelajari pengaruh mikroorganisme tertentu dengan lebih terkendali karena tikus tidak memiliki komunitas mikroba normal yang dapat mengaburkan efek bakteri yang sedang diuji.
Para peneliti membandingkan tikus yang menerima Leuconostoc mesenteroides CBA3656 dengan kelompok kontrol yang tidak menerima probiotik tersebut. Jumlah nanoplastik yang keluar melalui feses kemudian diukur untuk mengetahui apakah keberadaan bakteri berkaitan dengan peningkatan pembuangan partikel plastik.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten pada tikus jantan maupun betina. Kelompok yang mendapatkan CBA3656 memiliki lebih dari dua kali lipat jumlah nanoplastik dalam feses dibandingkan kelompok kontrol.
Peningkatan nanoplastik dalam feses menunjukkan bahwa bakteri tersebut mungkin membantu membawa partikel plastik melewati saluran pencernaan hingga akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Mekanisme yang diusulkan adalah bakteri mengikat nanoplastik di dalam usus sehingga partikel tersebut ikut terbawa bersama bakteri atau material pencernaan lainnya menuju feses.
Temuan tersebut memberikan hubungan penting antara dua tahap penelitian. Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa CBA3656 dapat mempertahankan kemampuan mengikat nanoplastik dalam kondisi menyerupai usus, sementara eksperimen pada tikus menunjukkan peningkatan pembuangan nanoplastik melalui feses setelah pemberian bakteri.
Namun penelitian tersebut belum menunjukkan bahwa mengonsumsi kimchi secara langsung dapat membersihkan nanoplastik dari tubuh manusia. Bakteri yang diteliti merupakan galur tertentu yang diisolasi dari kimchi, sedangkan eksperimen pembuangan nanoplastik dilakukan pada tikus, bukan manusia.
Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai bukti awal mengenai potensi mikroorganisme asal makanan fermentasi sebagai pendekatan biologis terhadap nanoplastik. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah mekanisme serupa terjadi pada manusia dan seberapa besar pengaruhnya dalam kondisi paparan nyata.
Temuan tersebut juga memperluas cara pandang terhadap mikroorganisme dalam makanan fermentasi. Bakteri asam laktat tidak hanya dapat berperan dalam menghasilkan rasa, aroma, dan karakteristik kimia makanan, tetapi mungkin mempunyai kemampuan berinteraksi dengan mikropolutan yang masuk ke tubuh.
Dr. Sehee Lee, peneliti utama penelitian, menjelaskan bahwa polusi plastik semakin dipandang bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Masuknya partikel plastik berukuran sangat kecil ke dalam tubuh membuat hubungan antara pencemaran lingkungan dan kesehatan manusia semakin relevan untuk dipelajari.
Menurut Lee, hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme yang berasal dari makanan fermentasi tradisional dapat menawarkan pendekatan biologis baru untuk menghadapi persoalan tersebut. Sumber daya mikroba dari kimchi karena itu berpotensi memiliki nilai ilmiah yang melampaui fungsi tradisionalnya dalam fermentasi.
Pendekatan tersebut berbeda dari upaya mengurangi paparan nanoplastik sebelum memasuki tubuh. Alih-alih hanya mencegah kontaminasi makanan dan air, mikroorganisme tertentu berpotensi digunakan untuk mengikat partikel yang telah mencapai saluran pencernaan dan membantu proses pembuangannya.
Meski demikian, efektivitas 57 persen dalam simulasi usus dan peningkatan lebih dari dua kali lipat nanoplastik dalam feses tikus tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi tingkat efektivitas pada manusia. Sistem pencernaan manusia memiliki komunitas mikroba yang jauh lebih kompleks dan berbagai faktor lain dapat memengaruhi interaksi antara bakteri dan nanoplastik.
Penelitian juga belum menentukan apakah pendekatan tersebut dapat mencegah nanoplastik menembus penghalang usus atau mengurangi jumlah partikel yang mencapai organ lain. Pertanyaan tersebut menjadi penting karena potensi risiko nanoplastik tidak hanya berkaitan dengan keberadaannya di saluran pencernaan, tetapi juga kemungkinan penyebarannya ke jaringan tubuh.
Tahap penelitian berikutnya karena itu perlu menguji mekanisme pengikatan secara lebih rinci, kemampuan bakteri bertahan di lingkungan pencernaan yang sebenarnya, serta pengaruhnya terhadap distribusi nanoplastik dalam tubuh. Uji pada manusia juga diperlukan sebelum manfaat kesehatan dapat disimpulkan.
Penelitian dari World Institute of Kimchi menunjukkan bahwa Leuconostoc mesenteroides CBA3656 yang berasal dari kimchi mampu mengikat nanoplastik dengan efisiensi 87 persen dalam kondisi laboratorium dan tetap mempertahankan tingkat 57 persen dalam kondisi yang menyerupai usus manusia. Pada tikus bebas kuman, pemberian bakteri tersebut meningkatkan jumlah nanoplastik dalam feses hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok kontrol, sehingga menunjukkan potensi mekanisme pembuangan partikel melalui saluran pencernaan. Temuan tersebut belum membuktikan bahwa konsumsi kimchi dapat membersihkan nanoplastik dari tubuh manusia, tetapi memberikan bukti awal bahwa mikroorganisme dari makanan fermentasi dapat dikembangkan sebagai pendekatan biologis untuk membantu mengurangi akumulasi nanoplastik.
Diolah dari artikel:
“This popular fermented food may help flush nanoplastics from the body” oleh National Research Council of Science & Technology. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/09/260917101058.htm