Lima Profil Tidur, Petunjuk Baru untuk Memahami Kesehatan Mental?

Sumber ilustrasi: Pixabay

5 November 2025 09.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [05.11.2025] Tidur sering dipahami hanya sebagai kegiatan istirahat malam yang diukur dari lamanya seseorang terlelap atau seberapa nyenyak tidur itu berlangsung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidur jauh lebih kompleks dari sekadar durasi atau kedalaman tidur. Sebuah studi yang diterbitkan pada 7 Oktober 2025 di jurnal PLOS Biology berhasil mengidentifikasi lima profil tidur berbeda yang masing-masing memiliki tanda khas di otak serta kaitan erat dengan kondisi emosional dan fungsi kognitif seseorang.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Woolcock Institute of Medical Research di Sydney. Hasilnya mengungkap bahwa kualitas tidur dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor genetik dan kondisi emosional seperti stres, kecemasan, atau kesedihan. Lebih jauh lagi, setiap profil tidur mencerminkan cara otak seseorang memproses pengalaman, serta dapat menjadi petunjuk awal bagi potensi gangguan mental yang mungkin berkembang.

Sudah lama diketahui bahwa tidur yang buruk meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan seperti depresi, kecemasan, penyakit jantung, dan penurunan fungsi kognitif. Namun, hubungan sebab-akibat antara tidur dan kesehatan mental belum jelas karena sebagian besar penelitian sebelumnya menilai tidur secara umum tanpa memetakan variasi yang lebih spesifik.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci, para peneliti menggunakan data dari Human Connectome Project, proyek besar yang memetakan jaringan saraf otak manusia hingga tingkat serat. Basis data tersebut berisi hasil pencitraan otak dan informasi mendalam tentang gaya hidup, kesehatan fisik dan mental, serta kebiasaan tidur responden. Data ini juga mencakup durasi tidur, tingkat kesulitan mempertahankan tidur, dan penggunaan bantuan tidur seperti obat, suplemen, atau bahan alami.

Studi ini meneliti 770 peserta berusia 22 hingga 36 tahun, kelompok usia yang dianggap belum terpengaruh secara signifikan oleh proses penuaan. Orang yang telah didiagnosis mengalami depresi klinis tidak disertakan, tetapi peserta dengan gejala ringan tetap diikutkan jika kondisi tersebut tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dengan menggunakan teknik machine learning tanpa pengawasan, yaitu metode kecerdasan buatan yang menganalisis data tanpa kategori awal, tim peneliti menemukan pola statistik yang menghubungkan hasil pencitraan otak, karakteristik gaya hidup, dan kualitas tidur. Penilaian kualitas tidur dilakukan dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Rata-rata skor responden adalah 5,14 pada skala 0 hingga 19, sedikit di atas ambang batas tidur sehat yang ditetapkan pada skor 5.

Dari analisis tersebut, para peneliti mengelompokkan peserta ke dalam lima profil tidur utama:

  1. Poor sleepers: Kelompok ini mengalami kesulitan tidur dan sering menunjukkan gejala emosional seperti cemas, stres, atau marah, disertai gangguan fungsi di siang hari.
  2. Sleep-resilient: Meskipun menghadapi tantangan mental seperti gangguan perhatian dan kesulitan fokus, mereka tidak melaporkan masalah tidur yang berarti.
  3. Short sleepers: Tidur dalam waktu singkat, memiliki masalah dengan ingatan dan pemikiran, serta cenderung lebih agresif dan kurang ramah.
  4. Sleep-aid users: Pola tidur dipengaruhi oleh penggunaan bantuan seperti obat tidur, teh herbal, CBD, atau resep medis.
  5. Disturbed sleepers: Tidur sering terganggu akibat alkohol, rokok, atau dehidrasi, yang berdampak langsung pada kesehatan dan produktivitas harian.

Setiap profil tidur ternyata memiliki “tanda saraf” (neural signature) yang unik, menggambarkan reaksi otak terhadap kondisi fisiologis tertentu seperti perubahan hormon, suhu tubuh, atau mimpi buruk. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku, tetapi juga oleh pola aktivitas otak dan keseimbangan biologis yang kompleks.

Ahli dari Yale Centers for Sleep Medicine, Henry Yaggi, menilai penelitian ini sebagai pendekatan paling komprehensif dalam memahami tidur manusia. Menurutnya, temuan ini menegaskan bahwa tidak ada satu model tidur yang cocok untuk semua orang karena setiap individu memiliki pola tidur yang terhubung langsung dengan kondisi mentalnya.

Penulis utama, Aurore Perrault, menambahkan bahwa kelima profil tidur tersebut berpotensi menjadi biomarker, yaitu penanda biologis untuk mendeteksi risiko gangguan kesehatan mental di masa depan. Karena penelitian dilakukan pada orang dewasa muda yang sehat, tahap selanjutnya perlu menilai apakah profil ini dapat digunakan untuk mendeteksi dini gangguan seperti depresi atau kecemasan sebelum muncul secara klinis.

Lebih jauh lagi, klasifikasi profil tidur ini dapat digunakan untuk mempersonalisasi intervensi medis. Beberapa terapi seperti terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I), aplikasi tidur, atau penggunaan alat bantu pernapasan seperti CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) mungkin lebih efektif untuk kelompok tertentu dibanding kelompok lainnya. Pendekatan berbasis profil ini juga dapat menjelaskan mengapa sekitar 40% penderita insomnia tidak merespons terapi standar yang ada saat ini.

Penemuan lima profil tidur memberikan gambaran baru tentang bagaimana otak, emosi, dan perilaku saling memengaruhi dalam membentuk kualitas tidur seseorang. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa tidur tidak sekadar fenomena biologis sederhana, melainkan sistem kompleks yang mencerminkan keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Setiap profil tidur tidak hanya menandakan kebiasaan malam hari, tetapi juga mencerminkan kondisi psikologis dan gaya hidup seseorang.

Secara keseluruhan, penelitian ini membuka peluang besar untuk menjadikan profil tidur sebagai alat diagnostik dan pencegahan dini bagi gangguan mental. Dengan memahami bagaimana setiap orang tidur dan apa yang memengaruhi kualitasnya, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan pendekatan kesehatan yang lebih personal, efektif, dan berbasis data ilmiah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Perlu diperhatikan bahwa Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat medis.

Diolah dari artikel:
“Scientists Have Just Defined Five Sleep Profiles — and Some Could Help Spot Mental Illness” oleh Theresa Sullivan Barger.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/sleep/scientists-have-just-defined-five-sleep-profiles-and-some-could-help-spot-mental-illness

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *