Tidur Tambahan di Akhir Pekan untuk Remaja Dapat Redakan Kecemasan? (Bagian 1)

Sumber ilustrasi: Unsplash

9 September 2025 13.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [09.09.2025] Bagi banyak remaja, akhir pekan adalah waktu untuk tidur lebih lama dari biasanya. Setelah hari-hari sekolah yang menuntut mereka bangun pagi, Sabtu dan Minggu menjadi kesempatan untuk menebus kekurangan tidur. Kebiasaan ini bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi menurut temuan baru, bisa berdampak positif terhadap kesehatan mental, terutama dalam hal mengurangi kecemasan.

Kebutuhan tidur yang ideal bagi remaja adalah antara 8 hingga 10 jam per malam. Namun, data menunjukkan bahwa sekitar 75 persen remaja di Amerika Serikat tidak memenuhi angka tersebut. Jadwal sekolah yang padat, pekerjaan rumah, dan berbagai aktivitas membuat waktu tidur mereka terpangkas. Sementara itu, ritme sirkadian remaja secara biologis memang membuat mereka sulit tidur lebih awal, biasanya sebelum pukul 11 malam.

Dalam kondisi seperti ini, akhir pekan menjadi waktu yang digunakan banyak remaja untuk mendapatkan “balas dendam tidur”. Kebiasaan ini sering dianggap baik, tetapi penelitian terdahulu justru mengindikasikan bahwa tidur terlalu lama di akhir pekan bisa berhubungan dengan peningkatan risiko depresi. Meski demikian, hubungan ini belum banyak dibuktikan secara empiris, terutama terkait dengan aspek kesehatan mental lainnya seperti kecemasan.

Pentingnya tidur bagi fungsi otak dan keseimbangan emosional sudah lama diakui dalam literatur ilmiah. Namun, belum banyak studi yang meneliti seberapa besar dampak dari tidur tambahan di akhir pekan secara spesifik terhadap kecemasan pada kelompok usia remaja.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Sojeong Kim, mahasiswa pascasarjana psikologi klinis di Universitas Oregon, melakukan kajian terhadap data dari proyek nasional bernama Adolescent Brain Cognitive Development Study. Proyek ini merupakan penelitian jangka panjang yang melacak perkembangan otak anak-anak dan remaja di seluruh Amerika Serikat.

Kim memfokuskan analisisnya pada kelompok usia 12 hingga 15 tahun, masa di mana remaja mulai mengalami kesulitan mendapatkan tidur cukup secara konsisten. Menurut penjelasannya, pada usia ini, kemampuan untuk tidur lebih awal dan bangun pagi cenderung menurun karena perubahan biologis.

Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja yang menambah waktu tidur di akhir pekan hingga kurang dari dua jam memiliki tingkat kecemasan yang paling rendah.

Data yang digunakan mencakup informasi tidur dan aktivitas harian hampir 1.900 remaja, yang dikumpulkan melalui perangkat pelacak seperti Fitbit. Selain itu, peserta juga mengisi kuesioner tentang tingkat kecemasan dan depresi yang mereka rasakan, yang kemudian dianalisis untuk mencari korelasi dengan pola tidur.

Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja yang menambah waktu tidur di akhir pekan hingga kurang dari dua jam memiliki tingkat kecemasan yang paling rendah. Sebaliknya, mereka yang tidak tidur lebih lama, atau bahkan kurang tidur, menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Sementara itu, remaja yang tidur lebih dari dua jam tambahan justru melaporkan gejala kecemasan tertinggi.

Gejala kecemasan yang diamati meliputi ketegangan di area leher, rasa cemas berlebihan, ketakutan yang tidak rasional, serta rasa bersalah yang menetap. Hal ini menunjukkan bahwa tidur tambahan bisa menjadi pedang bermata dua. Membantu jika cukup, namun berisiko jika berlebihan.

Temuan ini dipresentasikan pada konferensi SLEEP 2025 yang digelar di Seattle, Washington, pada 11 Juni lalu. Penelitian ini termasuk dalam kategori studi observasional, yang berarti para peneliti tidak mengubah variabel atau melakukan intervensi, melainkan hanya mengamati kebiasaan alami peserta.

Diolah dari artikel:
“Sleeping in — but not too much — may ease anxiety” oleh Alison Pearce Stevens.

Link: https://www.snexplores.org/article/weekend-sleeping-in-teens-anxiety

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *