Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
7 Maret 2026 10.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.03.2026] Kemampuan mengendalikan api sering disebut sebagai salah satu tonggak terpenting dalam evolusi manusia. Api memberi kehangatan, perlindungan dari predator, sarana memasak, serta ruang sosial yang memperpanjang aktivitas hingga malam hari. Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa manusia purba telah menggunakan api sejak lebih dari satu juta tahun lalu, berdasarkan temuan di Afrika dan Timur Tengah.
Situs-situs di Kenya dan Afrika Selatan menunjukkan indikasi penggunaan api oleh Homo erectus, sementara lokasi di Israel utara menyimpan sisa perapian berusia sekitar 780.000 tahun. Namun, bukti tersebut belum secara tegas menunjukkan bahwa api dibuat secara sengaja. Tidak ditemukan alat khusus untuk menghasilkan percikan, sehingga masih terbuka kemungkinan bahwa api berasal dari sumber alami seperti sambaran petir.
Kini, temuan baru dari Inggris menghadirkan bukti yang jauh lebih jelas. Di situs Barnham, para peneliti menemukan jejak yang menunjukkan bahwa Neandertal telah secara aktif memproduksi api sekitar 400.000 tahun lalu. Hasil riset ini dipublikasikan pada 15 Januari 2026 di jurnal Nature.
Penelitian dipimpin oleh Nick Ashton dari British Museum bersama tim arkeolog yang meneliti alat batu dan residu pembakaran di Barnham, wilayah Inggris selatan. Di lokasi tersebut, ditemukan batu api (flint) yang pecah akibat paparan panas serta serpihan pirit besi—mineral yang dapat menghasilkan percikan ketika dipukul dengan batu tajam.
Analisis kimia pada sedimen tanah liat yang memerah menunjukkan bahwa area tersebut mengalami pemanasan berulang kali hingga suhu lebih dari 700 derajat Celsius. Pola ini sulit dijelaskan oleh kebakaran alami tunggal. Selain itu, pirit besi tergolong sangat langka di wilayah tersebut, sehingga keberadaannya mengindikasikan material tersebut kemungkinan dibawa secara sengaja.
Sebelumnya, bukti tertua penggunaan pirit besi dan batu api untuk membuat api berasal dari Prancis utara, bertanggal sekitar 50.000 tahun lalu dan dikaitkan dengan Homo neanderthalensis. Penemuan di Barnham memperpanjang catatan tersebut hingga 350.000 tahun lebih awal.
Kemampuan menyalakan api sesuai kebutuhan dipandang sebagai perubahan mendasar dalam organisasi sosial manusia purba. Api memungkinkan aktivitas malam hari, meningkatkan kualitas konsumsi makanan melalui proses memasak, serta berpotensi mendukung perkembangan otak melalui peningkatan asupan energi yang lebih mudah dicerna.
Meski demikian, sejumlah pertanyaan tetap terbuka. Belum diketahui apakah teknologi pembuatan api menyebar cepat antar kelompok manusia purba atau justru muncul secara terpisah di komunitas berbeda. Mengingat populasi manusia saat itu relatif kecil dan tersebar, ada kemungkinan teknik ini ditemukan, hilang, lalu ditemukan kembali di tempat lain.
Temuan dari Barnham menghadirkan bukti paling awal dan paling jelas bahwa Neandertal mampu membuat api secara sengaja sekitar 400.000 tahun lalu. Kombinasi alat pemantik, serpihan pirit besi, dan jejak kimia pembakaran suhu tinggi memperkuat kesimpulan bahwa api tidak sekadar dimanfaatkan, tetapi diproduksi secara aktif.
Penelitian ini tidak hanya memperluas garis waktu teknologi pembuatan api, tetapi juga menantang asumsi tentang kemampuan kognitif manusia purba. Bukti tersebut menunjukkan bahwa kerabat dekat manusia modern telah mengembangkan strategi teknologis kompleks jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.
Diolah dari artikel:
“Neandertals used fire-making tools 400,000 years ago” oleh Jay Bennett. [njd]
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/oldest-fire-making-tools-neandertals