Makanan Ultra-Proses Mengganggu Fokus Bahkan Pada Orang dengan Pola Makan Sehat?

Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Juni 2026 16.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [10.06.2026] Hubungan antara makanan dan kesehatan otak merupakan salah satu topik perhatian para ilmuwan sejak lama. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pola makan sehat dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan mengurangi risiko berbagai penyakit neurodegeneratif. Namun, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa bukan hanya kandungan nutrisi yang penting, tetapi juga tingkat pemrosesan makanan dapat memberikan pengaruh tersendiri terhadap otak.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Monash University, University of São Paulo, dan Deakin University menyoroti dampak konsumsi makanan ultra-proses terhadap kemampuan kognitif. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring tersebut menganalisis data pola makan dan kemampuan kognitif lebih dari 2.100 orang dewasa Australia usia paruh baya dan lanjut usia yang tidak mengalami demensia.

Para peneliti menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-proses, bahkan dalam jumlah yang relatif kecil, berkaitan dengan penurunan kemampuan perhatian dan melambatnya kecepatan pemrosesan mental. Temuan tersebut menambah daftar bukti yang menghubungkan makanan yang diproses secara intensif dengan kesehatan otak yang lebih buruk.

Penulis utama penelitian, Dr. Barbara Cardoso dari Department of Nutrition, Dietetics and Food Monash University serta Victorian Heart Institute, menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-proses sebesar 10 persen setara dengan menambahkan satu bungkus keripik ke dalam pola makan sehari-hari. Menurut Dr. Cardoso, setiap kenaikan sebesar itu disertai dengan penurunan yang jelas dan dapat diukur pada kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus.

Penurunan tersebut juga tercermin dalam skor tes kognitif standar yang digunakan untuk mengukur perhatian visual dan kecepatan pemrosesan informasi. Penurunan skor terjadi secara konsisten seiring dengan meningkatnya proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan para peserta.

Dalam penelitian tersebut, rata-rata peserta memperoleh sekitar 41 persen kebutuhan kalori harian dari makanan ultra-proses. Angka tersebut hampir sama dengan rata-rata nasional Australia yang mencapai sekitar 42 persen.

Makanan ultra-proses mencakup berbagai produk seperti minuman ringan, makanan ringan kemasan yang asin, dan makanan siap saji. Berbeda dengan bahan pangan segar atau yang hanya mengalami sedikit pengolahan, produk-produk tersebut melalui proses industri yang sangat kompleks.

Salah satu hasil yang paling menarik dari penelitian tersebut adalah bahwa dampak negatif terhadap perhatian tetap ditemukan meskipun seseorang secara umum mengikuti pola makan sehat bergaya Mediterania. Dengan kata lain, hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan penurunan kemampuan fokus tetap terlihat pada peserta yang secara keseluruhan memiliki kualitas pola makan yang baik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemrosesan makanan mungkin memainkan peran yang penting. Dr. Cardoso menjelaskan bahwa proses ultra-pemrosesan sering kali merusak struktur alami makanan dan memperkenalkan berbagai zat tambahan maupun bahan kimia yang berpotensi merugikan. Menurut Dr. Cardoso, hubungan antara pola makan dan fungsi kognitif kemungkinan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan yang dianggap sehat, tetapi juga melibatkan mekanisme yang berkaitan dengan tingkat pemrosesan makanan itu sendiri.

Selain menurunnya kemampuan perhatian, penelitian tersebut juga menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan faktor risiko demensia yang telah dikenal sebelumnya. Faktor-faktor tersebut meliputi obesitas dan tekanan darah tinggi, dua kondisi yang diketahui dapat memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Penelitian tersebut tidak menemukan hubungan langsung antara konsumsi makanan ultra-proses dengan gangguan memori. Namun, para peneliti menekankan bahwa perhatian merupakan salah satu fungsi kognitif paling mendasar yang mendukung proses belajar, pemecahan masalah, serta berbagai aktivitas mental lainnya.

Karena perhatian menjadi fondasi bagi banyak kemampuan berpikir, penurunan kemampuan untuk mempertahankan fokus dapat menjadi salah satu tanda awal terjadinya perubahan kognitif yang lebih luas.

Studi tersebut dipimpin oleh Dr. Barbara Cardoso bersama sejumlah peneliti lain, termasuk Dr. Lisa Bransby, Hannah Cummins, Professor Yen Ying Lim, dan Xinyi Yuan dari Monash University, Dr. Euridice Martinez Steele dari University of São Paulo, serta Dr. Barbara Brayner dan Dr. Priscila Machado dari Deakin University.

Penelitian memanfaatkan data dari Healthy Brain Project yang didukung oleh berbagai lembaga, termasuk National Health and Medical Research Council, Alzheimer’s Association, Dementia Australia Research Foundation, Bethlehem Griffiths Research Foundation, Yulgilbar Alzheimer’s Research Program, National Heart Foundation of Australia, dan Charleston Conference for Alzheimer’s Disease. Sejumlah peneliti yang terlibat juga menerima dukungan pendanaan dari berbagai program penelitian nasional dan internasional.

Konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kemampuan perhatian dan kecepatan pemrosesan mental, bahkan pada individu yang menjalani pola makan yang secara umum tergolong sehat. Studi tersebut juga menemukan hubungan dengan peningkatan faktor risiko demensia, sehingga mengindikasikan bahwa tingkat pemrosesan makanan mungkin memiliki dampak tersendiri terhadap kesehatan otak dan dapat menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menjaga fungsi kognitif jangka panjang.

Diolah dari artikel:
“Ultra-processed foods may be stealing your focus even if you eat healthy” oleh Monash University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260608040017.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *