Super El Niño Mulai Terbentuk, Apa yang Perlu Diketahui?

Sumber ilustrasi: Magnific
24 Juli 2026 14.05 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [24.07.2026] El Niño merupakan salah satu fenomena iklim alami yang paling berpengaruh terhadap cuaca global yang hingga kini masih menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis dapat menggeser pola angin, curah hujan, badai, hingga suhu udara di berbagai wilayah yang terpisah ribuan kilometer dari tempat fenomena tersebut bermula.

National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA Amerika Serikat pada 11 Juni mengonfirmasi bahwa Bumi telah memasuki fase El Niño. Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa fenomena tersebut berpotensi terus menguat hingga akhir tahun dan mungkin berkembang menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.

Peramal iklim memperkirakan terdapat kemungkinan sebesar 63 persen bahwa El Niño tersebut akan menjadi sangat kuat menjelang musim dingin. Kondisi semacam itu sering disebut sebagai “super El Niño”, yaitu fase ketika suhu permukaan laut di Pasifik ekuator timur meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata.

Semakin kuat El Niño berkembang, semakin luas pula dampaknya terhadap kesehatan manusia, pertanian, infrastruktur, ekosistem, serta perekonomian. Fenomena tersebut dapat membuat sebagian wilayah mengalami kekeringan panjang, sementara wilayah lain menghadapi hujan deras, banjir, dan badai yang lebih intens.

El Niño merupakan salah satu dari tiga fase dalam pola iklim laut yang disebut El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Siklus tersebut berulang setiap dua hingga tujuh tahun dan terbentuk melalui hubungan antara suhu laut, tekanan atmosfer, serta pola angin di Samudra Pasifik.

Fase El Niño ditandai oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat daripada kondisi normal di wilayah Pasifik ekuator bagian timur. Nama El Niño berasal dari nelayan Peru pada abad ke-17 yang memperhatikan bahwa pemanasan laut sering muncul menjelang Natal. Dalam bahasa Spanyol, El Niño berarti anak laki-laki kecil dan juga merujuk kepada Anak Kristus.

Fase kedua disebut La Niña, yaitu periode ketika suhu perairan Pasifik ekuator timur menjadi lebih dingin daripada rata-rata. Fase ketiga merupakan kondisi netral ketika suhu permukaan laut kembali mendekati tingkat normal.

Istilah Southern Oscillation merujuk kepada perubahan tekanan atmosfer antara Pasifik timur dan Pasifik barat. Perubahan tersebut memengaruhi arah angin, suhu udara, serta distribusi hujan dalam skala global.

Para ilmuwan memantau perubahan tekanan tersebut melalui dua lokasi utama, yakni Darwin di Australia yang mewakili Pasifik barat dan Tahiti di Polinesia Prancis yang mewakili Pasifik timur.

Pada fase netral dan La Niña, tekanan udara tinggi umumnya berada di Pasifik timur. Angin pasat kemudian bertiup ke arah barat di sepanjang khatulistiwa dan mendorong air permukaan yang hangat menjauhi pantai benua Amerika.

Pergerakan tersebut memungkinkan air dingin kaya nutrisi naik dari kedalaman laut menuju permukaan. Proses yang dikenal sebagai upwelling itu menjaga perairan Pasifik ekuator timur tetap sejuk dan mendukung produktivitas ekosistem laut.

Kondisi dapat berbalik setiap beberapa tahun. Tekanan tinggi bergeser ke Pasifik barat, sedangkan tekanan rendah berkembang di Pasifik timur. Angin pasat kemudian melemah atau bahkan berbalik arah.

Ketika angin tidak lagi mendorong air hangat ke barat, air tersebut bertahan di Pasifik timur. Naiknya air dingin dari kedalaman pun terhambat, sehingga suhu permukaan laut meningkat dengan cepat dan menandai munculnya El Niño.

Tom Di Liberto, ilmuwan iklim dan meteorolog dari Climate Central, menjelaskan bahwa tidak ada dua peristiwa El Niño yang benar-benar sama. Meskipun demikian, setiap El Niño memindahkan panas dalam jumlah besar dari perairan tropis Pasifik menuju atmosfer.

Pelepasan panas tersebut dapat meningkatkan suhu udara global secara sementara tetapi sangat signifikan. Ketika El Niño berkembang di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia, tambahan panas tersebut dapat mendorong suhu Bumi menuju rekor baru.

Suatu El Niño secara resmi dinyatakan terbentuk ketika suhu permukaan laut di Pasifik ekuator timur bertahan setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata selama beberapa bulan. Semakin besar kenaikan suhu, semakin kuat pula dampak global yang mungkin muncul.

Sejak April, suhu permukaan laut di wilayah tersebut terus berada jauh di atas rata-rata. Puluhan lembaga prakiraan cuaca di berbagai negara kemudian menyimpulkan bahwa El Niño sedang berkembang.

Memasuki Juni, pemanasan laut yang terus berlanjut membuat sejumlah model iklim memperingatkan bahwa fenomena tersebut dapat berkembang menjadi sangat kuat. NOAA kemudian menggunakan metode baru yang memperhitungkan pengaruh pemanasan global terhadap pendeteksian El Niño.

Pemanasan global membuat awal kemunculan El Niño lebih sulit dikenali karena suhu rata-rata dunia telah meningkat secara bertahap selama satu dekade terakhir. Metode baru NOAA berusaha memisahkan pemanasan jangka panjang dari peningkatan suhu yang secara khusus disebabkan oleh ENSO.

Dengan menggunakan metode tersebut, NOAA memperkirakan terdapat kemungkinan 63 persen bahwa suhu permukaan laut di Pasifik tropis timur akan melebihi rata-rata lebih dari 2 derajat Celsius pada musim dingin.

Di Liberto menyebut model komputer saat itu memproyeksikan suhu global yang sangat tinggi untuk November dan Desember. Kondisi panas seperti itu dapat membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat.

Gelombang panas dapat meningkatkan jumlah penyakit dan kematian terkait suhu. Lingkungan yang lebih hangat juga dapat memperluas penyebaran penyakit seperti kolera, tifus, dan malaria yang berkaitan dengan nyamuk maupun organisme pembawa penyakit lainnya.

El Niño juga mengubah jalur arus jet Pasifik. Perubahan tersebut menyebabkan sebagian wilayah menerima hujan lebih sedikit daripada biasanya, sementara wilayah lain menghadapi curah hujan berlebihan.

Amerika Serikat kemungkinan akan menghadapi lebih banyak siklon Pasifik dengan intensitas lebih tinggi. Pada saat yang sama, perubahan pola angin dapat menghambat pembentukan badai di Samudra Atlantik.

Masa hidup sebuah El Niño biasanya relatif singkat. Fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada musim panas, menguat sepanjang musim gugur dan musim dingin, kemudian melemah pada musim semi berikutnya.

Untuk memahami potensi dampaknya, para ilmuwan membandingkan fenomena tersebut dengan tiga El Niño kuat sebelumnya yang terjadi pada 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016.

El Niño 1997–1998 menjadi yang terkuat dalam catatan modern. Fenomena tersebut untuk sementara meningkatkan suhu rata-rata global sekitar 1,5 derajat Celsius dan memicu rangkaian bencana cuaca di berbagai belahan dunia.

Peru dan Afrika Timur menghadapi hujan deras serta banjir besar. Kondisi tersebut turut memicu wabah Rift Valley Fever di Afrika.

Asia Tenggara mengalami kekeringan yang mendorong terjadinya kebakaran hutan mematikan. California menghadapi badai kuat, banjir, dan tanah longsor.

Peningkatan suhu laut selama periode tersebut juga menyebabkan pemutihan pada sekitar seperenam terumbu karang dunia. Dampaknya tidak hanya ekologis, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar.

El Niño 1982–1983 diperkirakan menyebabkan kerugian global sekitar 4,1 miliar dolar Amerika Serikat. Sementara itu, peristiwa 1997–1998 diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar 5,7 triliun dolar.

Besarnya dampak El Niño yang sedang berkembang masih belum dapat dipastikan. Namun, fenomena tersebut berlangsung di atas dasar pemanasan global yang sudah tinggi akibat emisi manusia.

Menurut Di Liberto, El Niño tidak harus mencapai kategori paling kuat untuk memecahkan rekor suhu. Bahkan peristiwa dengan kekuatan sedang dapat menghasilkan dampak besar ketika terjadi di tengah planet yang sudah jauh lebih panas.

Para ilmuwan juga mulai mengeksplorasi kemungkinan untuk melemahkan El Niño pada masa depan. Salah satu gagasan melibatkan penyuntikan aerosol berukuran sangat kecil ke atmosfer di atas wilayah tertentu di Samudra Pasifik.

Sebuah penelitian dalam Science Advances menunjukkan bahwa partikel tersebut dapat meningkatkan jumlah dan kecerahan awan. Awan yang lebih terang akan memantulkan lebih banyak cahaya Matahari kembali ke angkasa sehingga membantu mendinginkan wilayah laut yang menjadi pemicu El Niño.

Gagasan tersebut terinspirasi oleh kebakaran hutan Australia pada 2019–2020. Jessica Wan, ilmuwan iklim dari University of Chicago, menjelaskan bahwa kebakaran melepaskan partikel dalam jumlah besar ke atmosfer.

Sebagian partikel terbawa ke Pasifik subtropis tenggara dan mencerahkan awan di wilayah tersebut. Perubahan itu diduga turut membantu memicu La Niña yang berlangsung selama beberapa tahun.

Peristiwa tersebut menjadi semacam eksperimen alami yang menunjukkan bahwa perubahan awan di lokasi tertentu dapat memengaruhi pola iklim berskala besar.

Model komputer tim Wan kemudian mensimulasikan dampak penyuntikan aerosol oleh manusia dalam jumlah besar. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi tersebut berpotensi melemahkan El Niño, terutama apabila dilakukan pada tahap awal perkembangan fenomena.

Daniele Visioni, ilmuwan iklim dari Cornell University yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai gagasan tersebut sangat baru dan menarik. Menurut Visioni, hasil simulasi menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan penelitian lebih lanjut.

Akan tetapi, strategi tersebut belum dapat digunakan untuk menghadapi El Niño yang sedang berlangsung. Teknologi penyuntikan aerosol masih memerlukan pengembangan selama bertahun-tahun.

Dampak negatif terhadap iklim, ekosistem, pola hujan, serta wilayah tertentu juga belum dipahami dengan baik. Wan menekankan bahwa berbagai risiko tersebut harus dipelajari sebelum teknologi semacam itu dapat dipertimbangkan sebagai tindakan nyata.

El Niño yang sedang berkembang berpotensi menjadi fenomena sangat kuat karena suhu permukaan laut Pasifik timur terus meningkat di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia. Perubahan tersebut dapat memicu gelombang panas, penyakit, kekeringan, banjir, badai, kerusakan ekosistem, dan kerugian ekonomi di berbagai wilayah. Meskipun gagasan untuk melemahkan El Niño melalui aerosol mulai diteliti, teknologi dan risikonya masih belum siap sehingga langkah paling penting tetap memahami pola yang berkembang, memperkuat sistem peringatan dini, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi dampaknya.

Diolah dari artikel:
“A ‘super’ El Niño appears to be emerging. What’s the big deal?” oleh Carolyn Gramling. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/super-el-nino-climate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *