Setelah Iran …

Sumber ilustrasi: Pixabay
7 Maret 2026 12.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.03.2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa pernyataan terbaru mengindikasikan bahwa perubahan politik besar di Cuba mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah Amerika Serikat sedang menghadapi ketegangan geopolitik lain, termasuk konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Trump menyampaikan pandangan bahwa Kuba berada dalam kondisi yang semakin rapuh dan kemungkinan besar akan mengalami perubahan besar dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut disampaikan ketika membicarakan capaian militer Amerika Serikat pada masa jabatan keduanya. Dalam penjelasan tersebut, Trump menyatakan bahwa pemerintah Kuba sedang melakukan komunikasi dengan Washington dan menunjukkan minat kuat untuk mencapai kesepakatan.

Trump juga menyampaikan bahwa apabila pembicaraan berkembang lebih jauh, Menteri Luar Negeri Marco Rubio kemungkinan akan memainkan peran utama dalam proses tersebut. Namun pemerintah Amerika Serikat disebut masih memusatkan perhatian pada perkembangan konflik dengan Iran sebelum mengambil langkah lebih jauh terkait Kuba.

Sehari sebelumnya di Gedung Putih, Trump juga mengisyaratkan bahwa agenda kebijakan Amerika Serikat dapat segera bergeser menuju isu Kuba setelah konflik yang sedang berlangsung selesai. Pernyataan tersebut disertai penilaian bahwa dalam jangka panjang warga keturunan Kuba di Amerika Serikat berpotensi kembali ke negara asal mereka apabila situasi di pulau tersebut berubah.

Sebelumnya, dalam laporan The Guardian pada tanggal 27 Februari 2026, Trump menyiratkan kemungkinan terjadinya apa yang disebut sebagai “friendly takeover” terhadap Kuba. Pernyataan tersebut disampaikan ketika meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri acara kampanye di Texas, dengan penjelasan bahwa pemerintah Kuba sedang berada dalam tekanan ekonomi yang berat dan mulai membuka komunikasi dengan Washington.

Pernyataan presiden tersebut muncul ketika hubungan antara Washington dan Havana berada pada salah satu titik paling tegang dalam sejarah panjang hubungan kedua negara selama lebih dari enam dekade. Hubungan bilateral yang sering kali penuh konflik sejak Revolusi Kuba tahun 1959 kembali mengalami eskalasi dalam beberapa bulan terakhir.

Tekanan terhadap pemerintah Kuba meningkat setelah operasi yang diklaim berhasil membawa presiden Venezuela Nicolás Maduro dari Caracas pada awal tahun. Pemerintah Amerika Serikat kemudian memperkuat tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap sekutu Havana tersebut.

Perkembangan di Venezuela juga berkontribusi pada meningkatnya tekanan terhadap Kuba. Wakil presiden Venezuela Delcy Rodríguez yang kemudian menjadi presiden sementara negara tersebut disebut membuka kemungkinan bagi perusahaan asing untuk mengakses cadangan minyak Venezuela yang besar. Perubahan politik tersebut juga disertai dengan penghentian ekspor minyak Venezuela ke Kuba, yang selama ini menjadi salah satu sumber energi utama pulau tersebut.

Amerika Serikat kemudian memperketat tekanan dengan menerapkan pembatasan terhadap pasokan energi ke Kuba. Kebijakan tersebut memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut yang selama bertahun-tahun telah menghadapi krisis struktural, kekurangan bahan bakar, dan menurunnya pendapatan dari sektor pariwisata.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul laporan bahwa pejabat Amerika Serikat telah melakukan kontak dengan Raúl Guillermo Rodríguez Castro, cucu dari mantan presiden Kuba Raúl Castro. Pertemuan tersebut dilaporkan terjadi di sela-sela pertemuan para pemimpin Karibia dalam forum Caribbean Community atau Caricom, dan disebut berkaitan dengan kemungkinan pembukaan ekonomi Kuba.

Perkembangan tersebut menimbulkan perhatian luas karena menyentuh sejarah panjang hubungan Amerika Serikat dengan Kuba. Dominasi ekonomi Amerika Serikat atas Kuba pada masa sebelum revolusi merupakan salah satu faktor penting yang mendorong munculnya Revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro pada tahun 1959.

Pemerintah Kuba sendiri selama ini menegaskan bahwa dialog dengan Amerika Serikat hanya dapat dilakukan dengan menghormati kedaulatan negara tersebut. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan dengan Washington tidak dapat mencampuri urusan internal Kuba dan harus berlangsung dalam posisi yang setara.

Sejumlah pengamat menilai situasi yang berkembang saat ini dapat menandai perubahan besar dalam hubungan kedua negara. Sejarawan Manuel Barcia dari University of Bath menyebut bahwa Kuba mungkin sedang mendekati momen perubahan historis yang dapat mengingatkan pada peristiwa runtuhnya Tembok Berlin.

Dalam dinamika politik domestik Amerika Serikat, isu Kuba juga memiliki dimensi elektoral yang kuat. Trump sejak lama mendapatkan dukungan dari komunitas pengasingan Kuba di Miami, yang sebagian besar menentang pemerintahan komunis yang berdiri sejak era Fidel Castro.

Tokoh komunitas pengasingan Kuba Pedro Freyre menilai bahwa bahasa yang digunakan Trump menunjukkan kemungkinan pendekatan yang lebih bersifat ekonomi dibandingkan perubahan politik langsung. Menurut pandangan tersebut, perubahan yang terjadi dapat menyerupai proses di Venezuela, di mana sebagian elite lama tetap bertahan dalam struktur pemerintahan.

Sementara itu, pengamat hubungan Amerika Latin William LeoGrande menilai pemerintah Amerika Serikat juga berupaya memastikan bahwa komunitas diaspora Kuba mendukung perubahan kebijakan tersebut. Upaya tersebut terlihat dari aktivitas diplomatik yang dilakukan oleh Mike Hammer yang melakukan perjalanan ke berbagai kota dengan komunitas pengasingan Kuba yang besar.

Ketegangan di kawasan Karibia juga meningkat setelah muncul laporan bahwa sekelompok orang bersenjata yang diduga berasal dari Florida mencoba mendaratkan kapal cepat yang membawa senjata di pantai utara Kuba. Insiden tersebut memicu baku tembak di laut yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

Pernyataan Donald Trump mengenai kemungkinan perubahan di Kuba mencerminkan meningkatnya tekanan geopolitik terhadap negara tersebut, yang dipengaruhi oleh perkembangan regional di Venezuela serta kebijakan ekonomi dan diplomatik Amerika Serikat. Pada saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat masih memusatkan perhatian pada konflik dengan Iran, sehingga agenda kebijakan terhadap Kuba dipandang sebagai kemungkinan langkah berikutnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Kuba kembali memasuki fase yang sangat sensitif setelah puluhan tahun konflik politik dan ekonomi. Apakah perubahan yang dibicarakan benar-benar akan terjadi masih belum jelas, namun rangkaian pernyataan terbaru dari Washington menunjukkan bahwa isu Kuba kembali menjadi bagian penting dalam dinamika geopolitik Amerika Serikat di kawasan Karibia..

Diolah dari artikel:
“Trump tells CNN Cuba is soon going to fall: ‘I’m going to put Marco over there’” oleh Dana Bash dan “Trump suggests US could carry out ‘friendly takeover’ of Cuba” oleh Ruaridh Nicoll.

Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link:
https://www.theguardian.com/us-news/2026/feb/27/trump-cuba-regime-change
https://edition.cnn.com/2026/03/06/politics/trump-cuba-marco-rubio-fall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *