Sumber ilustrasi: Unsplash
29 April 2026 17.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [29.04.2026] Pasar saham Asia tercatat mengalami penguatan pada perdagangan hari Rabu meski Wall Street sebelumnya mengalami penurunan. Pada saat yang sama, harga minyak dunia justru melemah setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan rencana keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Perkembangan ini menjadi sorotan karena OPEC selama ini memainkan peran besar dalam mengendalikan pasokan dan harga minyak global.
Pergerakan pasar menunjukkan respons yang beragam. Di Asia, indeks saham di Korea Selatan, Hong Kong, dan Shanghai mengalami kenaikan, sementara Australia dan Taiwan justru mencatat penurunan. Pasar Jepang tidak beroperasi karena libur nasional. Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat menunjukkan sedikit kenaikan, menandakan optimisme hati-hati dari investor global.
Harga minyak mengalami penurunan seiring meningkatnya ekspektasi bahwa keluarnya UEA dari OPEC akan menambah pasokan minyak global. Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni turun sekitar 0,5%, sementara kontrak Juli turun 0,6%. Penurunan juga terjadi pada minyak mentah acuan Amerika Serikat. Sebelumnya, harga minyak sempat berada di kisaran 70 dolar per barel sebelum konflik geopolitik meningkat pada akhir Februari.
Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC yang dijadwalkan berlaku pada Jumat mendatang menjadi faktor penting dalam dinamika pasar energi. OPEC selama ini menyumbang sekitar 40% produksi minyak global, dan UEA termasuk salah satu produsen terbesar di dalamnya. Dalam beberapa tahun terakhir, UEA menunjukkan ketidakpuasan terhadap kuota produksi yang dianggap membatasi potensi ekspor minyaknya.
Analis dari ING Bank, Warren Patterson dan Ewa Manthey, menilai bahwa keluarnya UEA berpotensi meningkatkan produksi minyak global karena negara tersebut ingin memperluas penjualannya ke pasar internasional. Menurut analisis mereka, kebijakan kuota OPEC selama ini menahan produksi UEA di bawah kapasitas maksimalnya.
Namun demikian, dampak jangka pendek terhadap harga minyak masih sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, terutama terkait konflik Iran dan Amerika Serikat. Negosiasi antara kedua negara untuk mengakhiri konflik belum menunjukkan kemajuan signifikan. Selain itu, Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia masih belum sepenuhnya terbuka.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang kompleks di pasar energi global. Di satu sisi, peningkatan produksi akibat keluarnya UEA dapat menekan harga. Di sisi lain, gangguan distribusi akibat konflik geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menjaga volatilitas harga minyak.
UEA sebelumnya merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dalam OPEC sebelum konflik Iran. Lembaga riset ING memperkirakan bahwa keluarnya negara tersebut akan mengurangi efektivitas OPEC dalam mengendalikan pasar minyak global melalui kebijakan pasokan.
Investor global juga tengah menantikan perkembangan terbaru terkait pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Iran disebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade terhadap pelabuhannya. Namun, Amerika Serikat belum menunjukkan kesediaan untuk menyetujui kesepakatan tanpa menyertakan isu program nuklir Iran.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga yang akan diumumkan oleh Federal Reserve. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi arus investasi global serta nilai tukar mata uang.
Sementara itu pasar saham di Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya mengalami penurunan dari rekor tertinggi. Indeks S&P 500 turun 0,5%, Dow Jones melemah 0,1%, dan Nasdaq turun 0,9%. Saham-saham berbasis kecerdasan buatan memimpin penurunan, termasuk Broadcom, Nvidia, dan Micron Technology. Perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Meta Platforms dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat tipis terhadap yen Jepang, sementara euro mengalami sedikit pelemahan terhadap dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tetap stabil di level 4,35%.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar global saat ini berada dalam fase ketidakpastian tinggi, dengan berbagai faktor mulai dari kebijakan energi, konflik geopolitik, hingga arah kebijakan moneter saling memengaruhi dinamika ekonomi dunia.
Perkembangan pasar saham Asia yang menguat di tengah turunnya harga minyak mencerminkan respons beragam investor terhadap keluarnya UEA dari OPEC dan situasi geopolitik global. Penambahan potensi pasokan minyak berhadapan dengan ketidakpastian distribusi akibat konflik, sementara kebijakan moneter dan kinerja perusahaan besar turut menjadi faktor penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Diolah dari artikel:
“Asian stocks gain and oil prices decline after the UAE says it will exit OPEC” oleh Chan Ho-him. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://apnews.com/article/stock-markets-opec-trump-oil-iran-rates-16286a529f0fbb34ed213005ffda74b2