Sumber ilustrasi: Pixabay
24 Mei 2026 08.35 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.05.2026] Perubahan iklim global telah lama berdampak pada sektor pertanian, terutama pada tanaman pangan utama seperti padi. Sebagai salah satu sumber makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, padi memiliki peran vital dalam ketahanan pangan global. Selama sekitar 9.000 tahun, manusia telah membudidayakan padi dalam rentang kondisi iklim tertentu yang relatif stabil.
Akan tetapi pemanasan global mulai mendorong wilayah penanaman padi ke kondisi suhu yang belum pernah dialami dalam sejarah panjang budidayanya. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena kemampuan tanaman untuk beradaptasi secara alami memiliki batasan tertentu.
Para ilmuwan telah lama mempelajari bagaimana tanaman beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, baik melalui evolusi alami maupun intervensi manusia seperti pemuliaan tanaman. Meskipun demikian, kecepatan perubahan iklim saat ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai apakah adaptasi tersebut masih mampu mengejar laju perubahan suhu global.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanasan global berlangsung sekitar 5.000 kali lebih cepat dibandingkan kemampuan evolusi padi. Kondisi ini menempatkan padi pada ambang “batas termal,” yaitu titik ketika tanaman tidak lagi dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap kenaikan suhu.
Nicolas Gauthier sebagai penulis utama penelitian menjelaskan bahwa meskipun manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, termasuk melalui pengembangan varietas tahan panas atau pemindahan lokasi tanam, sebagian besar bentuk adaptasi tersebut sebenarnya telah dilakukan. Nicolas Gauthier juga menekankan bahwa dalam beberapa kasus, batas kemampuan adaptasi yang realistis dalam jangka waktu tertentu mungkin sudah semakin dekat.
Secara global, sekitar 90 persen produksi padi berlangsung di Asia, wilayah yang kini mulai mengalami peningkatan suhu yang signifikan. Dampak pemanasan ini telah terlihat dalam bentuk penurunan hasil panen di beberapa daerah, sebagaimana dilaporkan oleh World Economic Forum.
Meskipun padi termasuk tanaman yang toleran terhadap panas, terdapat batas fisiologis yang tidak dapat dilampaui. Fotosintesis padi berhenti pada suhu sekitar 40 derajat Celsius, sementara suhu tinggi juga dapat mengganggu kesuburan serbuk sari dan pertumbuhan bulir. Selain itu, padi membutuhkan air dalam jumlah besar, sehingga perubahan pola musim hujan dan kemarau serta kenaikan permukaan laut menjadi ancaman tambahan, terutama bagi sawah di wilayah dataran rendah yang rentan terhadap intrusi air asin.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengumpulkan data iklim masa lalu dari berbagai situs arkeologi yang menunjukkan praktik budidaya padi selama ribuan tahun. Analisis menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya, padi cenderung berkembang ke wilayah yang lebih dingin melalui intervensi manusia, seperti pemuliaan varietas tahan dingin dan penyesuaian teknik pertanian.
Namun, batas suhu maksimum untuk budidaya padi tetap relatif tidak berubah sejak awal domestikasi. Budidaya padi umumnya terbatas pada wilayah dengan suhu rata-rata tahunan di bawah 28 derajat Celsius dan suhu maksimum musim panas sekitar 33 derajat Celsius.
Perubahan iklim memang berpotensi membuka wilayah baru yang sebelumnya terlalu dingin untuk ditanami padi. Namun, Nicolas Gauthier menjelaskan bahwa pemindahan lokasi budidaya bukanlah solusi sederhana. Infrastruktur pertanian seperti sawah telah dibangun selama berabad-abad, sehingga sulit untuk dipindahkan dalam waktu singkat.
Selain itu, gangguan terhadap produksi padi tidak hanya berdampak pada jumlah produksi global, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi. Nicolas Gauthier menegaskan bahwa meskipun produksi global mungkin dapat dipertahankan melalui redistribusi lokasi tanam, kondisi tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah bagi masyarakat yang sangat bergantung pada padi sebagai sumber pangan utama, khususnya di Asia Selatan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa laju pemanasan global yang jauh melampaui kemampuan evolusi padi menempatkan tanaman tersebut pada risiko serius dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan batas adaptasi yang semakin mendekat, tantangan tidak hanya terletak pada menjaga produksi global, tetapi juga pada memastikan keberlanjutan ekonomi dan ketahanan pangan bagi populasi yang bergantung pada padi di berbagai wilayah dunia.
Diolah dari artikel:
“Global warming is accelerating 5,000 times faster than rice can evolve” oleh Stephanie Pappas. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.