Sumber ilustrasi: Unsplash
28 Mei 2026 11.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.05.2026] Penemuan arkeologis terbaru kembali mengubah pemahaman tentang kemampuan manusia purba dalam memanfaatkan lingkungan. Selama ini, banyak bukti penggunaan alat pada masa prasejarah didominasi oleh artefak batu, karena material tersebut lebih tahan terhadap waktu. Namun, alat berbahan kayu jarang ditemukan karena mudah membusuk, sehingga pemahaman tentang teknologi berbasis kayu masih terbatas. Dalam konteks ini, penemuan alat kayu tertua menjadi sangat penting untuk melengkapi gambaran evolusi perilaku manusia.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim internasional mengungkap adanya alat kayu genggam tertua yang pernah ditemukan, berasal dari sekitar 430.000 tahun lalu. Artefak ini ditemukan di situs arkeologi Marathousa 1 di wilayah Peloponnese, Yunani. Temuan ini memperluas bukti penggunaan alat kayu oleh manusia purba setidaknya 40.000 tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS ini menunjukkan bahwa manusia pada periode tersebut telah memiliki kemampuan teknis yang lebih kompleks dibandingkan yang selama ini dipahami.
Periode waktu penemuan ini berada dalam era Pleistosen Tengah, sebuah fase penting dalam evolusi manusia yang berlangsung antara sekitar 774.000 hingga 129.000 tahun lalu. Pada masa ini, berbagai perilaku kompleks mulai berkembang, termasuk penggunaan teknologi berbasis tumbuhan. Katerina Harvati, seorang paleoantropolog yang memimpin penelitian jangka panjang di situs tersebut, menjelaskan bahwa periode ini merupakan fase krusial dalam perkembangan perilaku manusia, termasuk penggunaan teknologi yang lebih terarah.
Analisis lebih lanjut terhadap situs menunjukkan bahwa area tersebut dulunya merupakan lokasi aktivitas manusia yang cukup intens. Selain alat kayu, ditemukan pula alat batu serta sisa-sisa hewan seperti gajah, yang mengindikasikan adanya aktivitas pemotongan daging di dekat danau purba. Temuan ini memberikan gambaran bahwa manusia purba tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mampu mengelola sumber daya secara sistematis.
Penelitian terhadap artefak kayu dilakukan dengan metode analisis mikroskopis untuk mengidentifikasi jejak pengerjaan. Annemieke Milks, pakar alat kayu prasejarah, menjelaskan bahwa objek kayu memerlukan kondisi lingkungan khusus agar dapat bertahan selama ratusan ribu tahun. Tim peneliti menemukan tanda-tanda pemotongan dan pengukiran pada dua objek kayu, yang menjadi bukti kuat bahwa benda tersebut sengaja dibentuk oleh manusia.
Salah satu artefak berupa potongan kayu alder menunjukkan bekas pembentukan yang jelas serta tanda penggunaan. Para peneliti menduga alat ini digunakan untuk menggali tanah lunak di sekitar danau atau untuk mengupas kulit pohon. Artefak kedua, yang lebih kecil dan berasal dari kayu willow atau poplar, juga menunjukkan indikasi pengerjaan oleh manusia, meskipun fungsi spesifiknya masih belum dapat dipastikan.
Selain bukti aktivitas manusia, penelitian juga menemukan jejak lingkungan yang penuh tantangan. Pada salah satu potongan kayu yang lebih besar, terdapat goresan yang awalnya diduga hasil aktivitas manusia. Namun setelah analisis lebih lanjut, para peneliti menyimpulkan bahwa tanda tersebut berasal dari hewan karnivora besar, kemungkinan beruang. Temuan ini menunjukkan adanya interaksi dan persaingan antara manusia dan predator besar di lingkungan tersebut.
Dibandingkan dengan temuan sebelumnya dari berbagai wilayah seperti Inggris, Zambia, Jerman, dan China, artefak dari Marathousa 1 merupakan yang tertua untuk kategori alat kayu genggam. Satu-satunya bukti yang lebih tua berasal dari Kalambo Falls di Zambia, tetapi kayu tersebut digunakan sebagai struktur, bukan sebagai alat. Dengan demikian, temuan ini memberikan bukti paling awal mengenai penggunaan kayu sebagai alat oleh manusia.
Katerina Harvati juga menekankan bahwa kondisi pelestarian di situs Marathousa 1 sangat luar biasa, memungkinkan material organik seperti kayu tetap bertahan. Selain itu, keberadaan jejak predator di lokasi yang sama dengan aktivitas manusia menunjukkan adanya kompetisi intens dalam memperebutkan sumber daya.
Penelitian ini turut melibatkan berbagai institusi internasional, termasuk Universitas Thessaloniki, Universitas Ioannina, Kementerian Kebudayaan Yunani, serta American School of Classical Studies di Athena. Pendanaan penelitian ini berasal dari European Research Council dan German Science Foundation.
Temuan alat kayu tertua ini memperlihatkan bahwa manusia purba telah memiliki kemampuan teknis dan adaptasi yang lebih maju dari yang sebelumnya diperkirakan, termasuk dalam memanfaatkan material organik yang sulit diawetkan. Bukti ini memperkaya pemahaman tentang evolusi perilaku manusia, terutama dalam hal inovasi teknologi dan interaksi dengan lingkungan serta spesies lain di sekitarnya.
Diolah dari artikel:
“Scientists discover the oldest wooden tools ever used by humans” oleh University of Reading. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260523103939.htm