Sumber ilustrasi: Pixabay
15 Juni 2026 11.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.06.2026] Kafein merupakan salah satu zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Kopi, teh, minuman energi, cokelat, dan berbagai produk lainnya membuat kafein menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi jutaan orang. Banyak orang menganggap konsumsi kafein sebagai kebiasaan yang relatif aman, bahkan sering dikaitkan dengan peningkatan fokus, kewaspadaan, dan produktivitas.
Meskipun demikian, para ilmuwan masih terus mempelajari dampak biologis jangka panjang dari kafein terhadap tubuh manusia. Pertanyaan mengenai bagaimana kafein memengaruhi perkembangan otak, terutama pada usia muda, masih menjadi bidang penelitian yang aktif hingga saat ini.
American Academy of Pediatrics sendiri merekomendasikan agar anak-anak menghindari konsumsi kafein. Namun dalam praktiknya, banyak anak dan remaja tetap mengonsumsi kafein setiap hari dalam berbagai bentuk.
Pertanyaan mengenai dampak kafein terhadap otak menjadi perhatian Sophia Zeng, seorang siswi berusia 16 tahun dari Tsinghua International School di Beijing, Tiongkok. Ketertarikan tersebut muncul dari pengalaman pribadi yang memperlihatkan bahwa respons terhadap kafein dapat berbeda antara satu individu dan individu lainnya.
Sophia memperhatikan bahwa ibunya yang gemar mengonsumsi teh sering merasa lebih fokus setelah minum teh berkafein. Sebaliknya, pengalaman yang dirasakan Sophia tidak selalu sama. Ketika berhenti mengonsumsi teh, Sophia mengalami sakit kepala yang membuatnya membutuhkan lebih banyak kafein untuk meredakan gejala tersebut.
Perbedaan respons tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa kafein dapat memberikan efek yang dianggap bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi pada orang lain justru berkaitan dengan stres yang lebih tinggi atau munculnya sakit kepala?
Rasa ingin tahu tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah proyek penelitian ilmiah. Hasil penelitian Sophia berhasil membawanya ke ajang Regeneron International Science & Engineering Fair atau ISEF 2026, salah satu kompetisi sains pelajar paling bergengsi di dunia.
ISEF 2026 diselenggarakan oleh Society for Science dan diikuti oleh 1.725 siswa dari 65 negara dan wilayah. Para peserta bersaing untuk memperebutkan hadiah dengan total nilai hampir 7 juta dolar Amerika Serikat.
Analisis awal dari penelitian Sophia mengarah pada kemungkinan bahwa kafein tidak hanya memengaruhi sensasi kewaspadaan atau energi, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas gen yang berperan dalam perkembangan otak.
Temuan tersebut didasarkan pada petunjuk dari penelitian hewan yang menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi kafein dapat mengubah aktivitas gen tertentu. Perubahan aktivitas gen tersebut berpotensi menghasilkan perubahan pada proses perkembangan sistem saraf.
Jika aktivitas gen yang terkait dengan perkembangan otak mengalami perubahan, konsekuensinya dapat berbeda tergantung usia individu yang terpapar. Otak anak-anak dan remaja masih berada dalam tahap perkembangan aktif, sementara otak orang dewasa telah mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi.
Perbedaan tahap perkembangan tersebut membuka kemungkinan bahwa dampak biologis kafein tidak seragam pada seluruh kelompok usia. Efek yang relatif kecil pada orang dewasa belum tentu memiliki konsekuensi yang sama pada individu yang masih mengalami perkembangan neurologis.
Penelitian semacam ini menjadi penting karena konsumsi kafein pada usia muda cukup umum terjadi. Produk berkafein kini tersedia dalam berbagai bentuk yang mudah diakses oleh anak-anak dan remaja, mulai dari teh hingga minuman energi.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, pemahaman mengenai hubungan antara kafein dan aktivitas gen dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian individu mengalami respons yang berbeda terhadap zat yang sama. Faktor biologis yang mendasari perbedaan tersebut masih terus diteliti oleh para ilmuwan.
Penelitian Sophia juga menunjukkan bagaimana pengamatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat berkembang menjadi pertanyaan ilmiah yang relevan. Pengalaman pribadi mengenai sakit kepala setelah menghentikan konsumsi teh berkafein menjadi titik awal bagi eksplorasi terhadap mekanisme biologis yang lebih mendalam.
Meskipun hasil penelitian ini masih berupa petunjuk awal dan belum dapat digunakan untuk menarik kesimpulan definitif mengenai dampak kafein pada manusia, temuan tersebut menambah bukti bahwa kafein memiliki pengaruh biologis yang lebih kompleks daripada sekadar meningkatkan kewaspadaan.
Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami gen-gen mana yang terpengaruh, bagaimana mekanisme tersebut bekerja, dan apakah perubahan aktivitas gen benar-benar menghasilkan dampak jangka panjang pada perkembangan otak manusia.
Pertanyaan mengenai keamanan konsumsi kafein pada usia muda kemungkinan akan terus menjadi topik penelitian yang penting. Seiring meningkatnya konsumsi minuman berkafein di kalangan remaja, pemahaman ilmiah yang lebih mendalam akan membantu memberikan dasar yang lebih kuat bagi rekomendasi kesehatan di masa depan.
Temuan yang dipresentasikan oleh Sophia Zeng menunjukkan bahwa kafein mungkin memengaruhi aktivitas gen yang berperan dalam perkembangan otak dan berpotensi menghasilkan dampak yang berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. Berangkat dari pengamatan terhadap perbedaan respons individu terhadap kafein, penelitian ini memperlihatkan bahwa zat yang sangat umum dikonsumsi sehari-hari masih menyimpan banyak pertanyaan ilmiah yang belum terjawab, khususnya terkait perkembangan sistem saraf dan kesehatan jangka panjang.
Diolah dari artikel:
“Caffeine may dial down genes crucial for brain development, teen finds” oleh Katie Grace Carpenter. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/caffeine-brain-development-genes