Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Juni 2026 10.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [22.06.2026] Pernahkan anda mendengar Viking? Bangsa yang satu ini sering digambarkan sebagai pelaut, pedagang, dan penyerbu yang mendominasi sebagian besar Eropa Utara selama Abad Pertengahan awal. Meskipun terkenal karena ekspedisi militer dan penjarahan mereka, semakin banyak bukti arkeologi menunjukkan bahwa dunia Viking juga terhubung dengan jaringan perdagangan internasional yang sangat luas.
Salah satu bukti paling menarik dari hubungan tersebut datang dari penelitian terbaru mengenai koin-koin Viking awal yang ditemukan di Denmark. Studi ini menunjukkan bahwa sebagian perak yang digunakan untuk membuat koin Viking ternyata berasal dari koin-koin Islam yang telah dilebur sebelumnya.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa hubungan ekonomi antara dunia Viking dan dunia Islam telah berkembang jauh lebih intens daripada yang pernah dibayangkan. Perdagangan jarak jauh tampaknya memainkan peran penting dalam peredaran logam mulia di Eurasia pada abad ke-9.
Penelitian ini berfokus pada Harta Karun Damhus, sebuah kumpulan berisi 226 koin Viking yang ditemukan pada tahun 2018 di dekat kota Ribe, Semenanjung Jutland, Denmark.
Menurut para peneliti, kumpulan koin tersebut berasal dari periode antara tahun 830 hingga 850 Masehi. Penanggalan tersebut menjadikan koin-koin tersebut sebagai beberapa contoh uang Viking paling awal yang pernah ditemukan.
Meskipun sering disebut sebagai “penny”, nilai koin-koin tersebut sangat berbeda dengan penny modern. Thomas Birch, arkeolog dari National Museum of Denmark dan penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa kandungan perak dalam setiap koin membuat nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan koin pecahan kecil saat ini.
Birch menjelaskan bahwa istilah penny berasal dari kata Inggris Kuno “pening”, yang memiliki kemiripan dengan kata “pfennig” dalam Bahasa Jerman Tinggi. Pada masa itu, satu keping pening sudah cukup untuk membeli bir, roti, atau berbagai peralatan sederhana.
Selain nilai ekonominya, kondisi fisik koin-koin tersebut juga menarik perhatian para peneliti. Setelah terkubur selama lebih dari seribu tahun, banyak di antaranya masih terpelihara dengan sangat baik.
Salah satu sisi koin menampilkan wajah yang diyakini mewakili Wodan atau Odin, dewa utama dalam kepercayaan Nordik kuno. Sisi lainnya memperlihatkan gambar seekor rusa jantan.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa proses produksi koin dilakukan dalam skala yang cukup besar. Para peneliti mempelajari cetakan logam yang digunakan untuk mencetak gambar pada permukaan koin.
Seiring penggunaan, cetakan tersebut mengalami keausan dan diganti dengan cetakan baru yang sangat mirip. Pergantian tersebut menghasilkan perubahan kecil yang masih dapat dikenali oleh para peneliti modern.
Berdasarkan variasi tersebut, Birch dan rekan-rekannya mengidentifikasi setidaknya 30 cetakan berbeda yang digunakan dalam proses produksi.
Jumlah cetakan yang ditemukan menunjukkan bahwa percetakan uang di Ribe kemungkinan menghasilkan ratusan ribu koin sejenis. Pada masa itu, Ribe merupakan salah satu pusat perdagangan dan permukiman terpenting di Denmark.
Temuan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya Ribe dalam ekonomi Viking awal. Kota tersebut tampaknya bukan hanya pusat perdagangan regional, tetapi juga bagian dari jaringan perdagangan internasional yang lebih luas.
Untuk memahami asal-usul logam yang digunakan dalam koin tersebut, para peneliti melakukan analisis terhadap 25 koin menggunakan fluoresensi sinar-X dan berbagai teknik kimia lainnya.
Analisis tersebut mempelajari isotop dari unsur-unsur jejak yang tercampur dalam perak. Isotop merupakan variasi suatu unsur yang memiliki jumlah neutron berbeda dalam inti atomnya.
Melalui metode tersebut, para peneliti dapat melacak sumber logam yang digunakan untuk membuat koin Viking.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, lebih dari setengah kandungan perak berasal dari koin Islam yang dikenal sebagai dirham.
Dirham merupakan mata uang perak yang digunakan secara luas di berbagai wilayah dunia Islam pada masa itu. Koin-koin tersebut beredar dalam jaringan perdagangan yang membentang dari Timur Tengah hingga Asia Tengah.
Menurut Birch, perak yang digunakan di Ribe kemungkinan tidak datang langsung dari tambang. Sebaliknya, logam tersebut telah mengalami beberapa tahap penggunaan sebelum akhirnya menjadi koin Viking.
Birch menjelaskan bahwa perak tersebut sebelumnya telah dicetak menjadi dirham, kemudian dilebur kembali menjadi batangan perak di suatu tempat sebelum diperdagangkan menuju Skandinavia.
Batangan perak tersebut kemudian sampai ke Ribe dan digunakan sebagai bahan baku pencetakan koin Viking.
Temuan ini memberikan gambaran yang menarik mengenai mobilitas logam mulia pada awal Abad Pertengahan. Sebuah koin yang dicetak di dunia Islam dapat berpindah ribuan kilometer, dilebur kembali, dan akhirnya muncul sebagai mata uang di wilayah Viking.
Konteks waktu penemuan ini juga penting. Harta Karun Damhus berasal dari periode ketika perak Islam mulai masuk dalam jumlah besar ke dunia Viking.
Birch menjelaskan bahwa penelitian ini berada tepat pada titik sejarah ketika arkeolog mulai dapat melihat masuknya perak Islam ke Skandinavia secara lebih jelas.
Selain koin, berbagai perhiasan Islam dari periode yang sama juga telah ditemukan di wilayah Skandinavia. Penemuan tersebut memperkuat bukti mengenai hubungan perdagangan antara kedua dunia tersebut.
Jika koin-koin Ribe memang diproduksi hingga ratusan ribu keping, maka jumlah perak Islam yang masuk ke ekonomi Viking kemungkinan sangat besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jaringan perdagangan internasional memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi Viking awal.
Penelitian terbaru terhadap Harta Karun Damhus menunjukkan bahwa sebagian besar perak yang digunakan untuk membuat koin Viking awal berasal dari dirham Islam yang telah dilebur dan diperdagangkan kembali melalui jaringan perdagangan jarak jauh. Analisis kimia terhadap kandungan logam mengungkap bahwa dalam beberapa koin, lebih dari separuh peraknya berasal dari dunia Islam. Temuan ini memperlihatkan keterhubungan ekonomi antara Skandinavia dan dunia Islam pada abad ke-9, tetapi juga menunjukkan bahwa perdagangan internasional memainkan peran penting dalam pembentukan sistem moneter Viking jauh sebelum penyatuan Denmark dan penyebaran agama Kristen di kawasan tersebut.
Diolah dari artikel:
“‘Melted in a pot somewhere’: Vikings used Islamic silver coins to make their early pennies, study finds” oleh Tom Metcalfe. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.