Sumber ilustrasi: Pixabay
7 Agustus 2026 09.40 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.08.2026] Kemampuan untuk tetap mengejar tujuan meskipun tantangan semakin berat merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Motivasi memungkinkan seseorang terus belajar, bekerja, maupun menyelesaikan berbagai tugas meski imbalan yang diharapkan tidak langsung diperoleh. Namun, mekanisme biologis yang membuat motivasi tetap bertahan hingga kini masih belum sepenuhnya dipahami.
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa hilangnya motivasi merupakan salah satu gejala yang sering muncul pada berbagai kondisi, seperti depresi, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), serta kecanduan. Meskipun demikian, proses di dalam otak yang menghubungkan harapan terhadap suatu hadiah dengan keinginan untuk terus berusaha masih menjadi pertanyaan besar dalam ilmu saraf.
Penelitian terbaru dari Nagoya University di Jepang memberikan petunjuk baru mengenai mekanisme tersebut. Tim peneliti menemukan bahwa sekelompok sel saraf yang disebut neuron oreksin berperan penting dalam mempertahankan perilaku yang termotivasi ketika memperoleh hadiah membutuhkan usaha yang semakin besar. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS).
Penelitian dipimpin oleh Hiroyuki Mizoguchi, profesor madya, bersama Kiyofumi Yamada, profesor emeritus dari Graduate School of Medicine, Nagoya University. Tim memusatkan perhatian pada neuron oreksin, yaitu kelompok sel saraf yang sebelumnya telah diketahui mengatur berbagai fungsi biologis penting seperti tidur, nafsu makan, dan penggunaan energi tubuh. Sejumlah penelitian terdahulu juga mengindikasikan bahwa neuron tersebut mungkin berkaitan dengan motivasi, meskipun perannya belum pernah dibuktikan secara langsung.
Untuk menguji dugaan tersebut, para peneliti menggunakan tikus laboratorium sebagai model penelitian. Berbeda dengan sebagian besar penelitian sebelumnya yang menggunakan tikus kecil (mice), penelitian ini memilih tikus besar (rats) karena memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dan lebih sesuai untuk menjalankan tugas perilaku yang kompleks. Tantangan terbesar adalah menargetkan neuron oreksin secara spesifik, sehingga tim mengembangkan model tikus hasil rekayasa genetika yang disebut orexin-Cre rats, yang memungkinkan manipulasi neuron tersebut secara presisi.
Tahap pertama penelitian dilakukan menggunakan teknik kemogenetika (chemogenetics) untuk meningkatkan aktivitas neuron oreksin. Setelah itu, tikus mengikuti progressive ratio test, yaitu pengujian di mana jumlah sentuhan yang harus dilakukan untuk memperoleh setiap hadiah makanan terus bertambah. Pengujian ini dirancang untuk mengetahui seberapa besar usaha yang bersedia dilakukan seekor tikus demi memperoleh hadiah.
Para peneliti menggunakan nilai breakpoint, yaitu titik ketika seekor tikus berhenti mencoba memperoleh hadiah, sebagai ukuran kekuatan motivasi. Tikus yang neuron oreksinnya diaktifkan mampu mencapai breakpoint yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa mereka tetap bersedia bekerja lebih keras meskipun tantangan meningkat.
Sebaliknya, tikus yang neuron oreksinnya mengalami degenerasi secara selektif menunjukkan breakpoint yang jauh lebih rendah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa berkurangnya fungsi neuron oreksin diikuti oleh menurunnya motivasi untuk terus mengejar hadiah.
Selain mengamati perilaku, tim peneliti juga memantau aktivitas neuron oreksin secara langsung menggunakan teknik fiber photometry. Metode tersebut memungkinkan aktivitas sel saraf direkam secara waktu nyata ketika tikus menunggu maupun menerima hadiah makanan.
Pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas neuron oreksin meningkat ketika tikus mengantisipasi datangnya hadiah, kemudian menurun setelah hadiah diterima. Menariknya, apabila hadiah yang diharapkan tidak muncul, aktivitas neuron tersebut tetap tinggi. Aktivitas juga meningkat semakin kuat ketika jumlah usaha yang diperlukan untuk memperoleh hadiah bertambah besar.
Menurut tim peneliti, pola tersebut menunjukkan bahwa neuron oreksin kemungkinan berfungsi menghubungkan harapan terhadap suatu hadiah dengan usaha yang harus dilakukan untuk mencapainya. Dengan kata lain, neuron tersebut tampaknya membantu mempertahankan dorongan untuk terus bertindak meskipun tantangan semakin meningkat.
Untuk memastikan hubungan sebab akibat tersebut, para peneliti kemudian menggunakan teknik optogenetika (optogenetics). Metode ini memungkinkan neuron oreksin diaktifkan maupun dihambat secara langsung tepat ketika tikus sedang mengharapkan hadiah.
Ketika aktivitas neuron oreksin ditekan menggunakan protein penghambat, tikus membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan breakpoint mereka turun secara nyata. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa motivasi mereka benar-benar melemah.
Sebaliknya, ketika aktivitas neuron oreksin ditingkatkan menggunakan protein pemicu, neuron memang berhasil diaktifkan. Akan tetapi, peningkatan aktivitas tersebut tidak membuat tikus bekerja lebih keras maupun meningkatkan motivasi mereka lebih jauh.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa neuron oreksin diperlukan agar motivasi tetap bertahan, tetapi meningkatkan aktivitasnya melebihi kondisi normal ternyata belum tentu mampu menghasilkan motivasi tambahan. Para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa peningkatan aktivitas tersebut tidak memberikan efek yang sama besar, termasuk kemungkinan pengaruh durasi maupun pola aktivitas neuron.
Mizoguchi menjelaskan bahwa penelitian tersebut memperlihatkan perubahan aktivitas neuron oreksin yang sangat bergantung pada harapan terhadap hadiah serta besarnya usaha yang diperlukan untuk memperolehnya. Menurut Mizoguchi, temuan tersebut mengindikasikan adanya mekanisme biologis yang membantu mengubah ekspektasi menjadi tindakan yang terus dipertahankan.
Penelitian selanjutnya akan berfokus pada jaringan saraf yang mengirimkan informasi menuju neuron oreksin maupun menerima sinyal darinya. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme tersebut diharapkan dapat membantu mengembangkan pendekatan baru untuk mengatasi gangguan motivasi, termasuk hilangnya motivasi dan kesulitan mempertahankan perilaku yang berorientasi pada tujuan.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa neuron oreksin memiliki peran penting dalam mempertahankan motivasi ketika seseorang harus bekerja semakin keras untuk memperoleh suatu imbalan. Aktivitas neuron tersebut meningkat selama proses antisipasi dan usaha, sedangkan penghambatan aktivitasnya menyebabkan motivasi menurun. Penelitian ini membuka peluang baru untuk memahami dasar biologis motivasi sekaligus menjadi landasan bagi pengembangan terapi terhadap berbagai gangguan yang ditandai dengan hilangnya dorongan untuk mencapai tujuan.
Diolah dari artikel:
“Scientists discover the brain cells that keep you motivated” oleh Nagoya University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260804034622.htm