Sumber ilustrasi: Unsplash
18 Juni 2026 12.50 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.06.2026] Salah satu dampak paling serius dari perubahan iklim adalah kenaikan permukaan laut. Ketika suhu global meningkat, es mencair dan air laut mengembang karena pemanasan. Kombinasi proses tersebut membuat lautan perlahan naik dan mengancam wilayah pesisir di berbagai belahan dunia.
Para ilmuwan telah menggunakan berbagai studi untuk memperkirakan seberapa cepat laut naik dan seberapa besar wilayah daratan yang berisiko tenggelam. Data tersebut sangat penting bagi kota-kota pesisir, pemerintah, perencana tata ruang, dan komunitas yang harus menyiapkan strategi adaptasi.
Namun, sebuah analisis terbaru menunjukkan bahwa banyak studi sebelumnya kemungkinan meremehkan ketinggian permukaan laut yang sebenarnya. Penelitian yang dilakukan oleh Katharina Seeger dan Philip Minderhoud dari Wageningen University di Belanda menemukan bahwa rata-rata permukaan laut nyata berada sekitar 20 hingga 30 sentimeter lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan oleh studi-studi terdahulu.
Temuan ini diperoleh setelah para peneliti mengevaluasi 385 studi global dan regional yang diterbitkan antara 2009 hingga 2025. Studi-studi tersebut mencakup kajian mengenai kenaikan permukaan laut, gelombang badai, tsunami, dan berbagai bahaya pesisir lainnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 99 persen studi yang ditinjau memperkirakan ketinggian laut secara tidak tepat. Bahkan, 45 studi di antaranya pernah digunakan dalam laporan besar yang disusun oleh panel ahli iklim global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kesalahan ini memiliki konsekuensi besar. Jika permukaan laut sebenarnya lebih tinggi dari yang selama ini dihitung, maka risiko banjir pesisir, hilangnya daratan, dan perpindahan penduduk juga lebih besar dari perkiraan.
Menurut para peneliti, kesalahan dalam studi-studi sebelumnya dapat membuat sebagian wilayah pesisir menghilang lebih cepat daripada yang diperkirakan. Di beberapa tempat, kehilangan daratan dapat terjadi hingga satu abad lebih awal.
Studi yang dipublikasikan dalam Nature pada 16 April ini memperkirakan bahwa kenaikan permukaan laut setinggi satu meter dapat menenggelamkan wilayah yang lebih dari 30 persen lebih luas dibandingkan estimasi sebelumnya.
Dampaknya terhadap manusia juga jauh lebih besar. Wilayah yang terendam dapat menghilangkan tempat tinggal bagi sekitar 77 juta hingga 132 juta orang. Angka tersebut 48 hingga 68 persen lebih tinggi dibandingkan perkiraan terdahulu.
Anders Levermann, ilmuwan iklim dari Potsdam Institute for Climate Research di Jerman, menjelaskan bahwa kenaikan permukaan laut memang bergerak lambat, tetapi menjadi sangat berbahaya ketika diabaikan. Menurut Levermann, estimasi baru ini menunjukkan bahwa dunia sebenarnya sudah jauh lebih dekat dengan masa depan risiko pesisir daripada yang selama ini dibayangkan.
Analisis utama dari penelitian ini terletak pada cara para ilmuwan sebelumnya mengukur hubungan antara ketinggian daratan dan permukaan laut. Untuk menilai risiko banjir pesisir, peneliti perlu membandingkan elevasi daratan dengan tinggi permukaan laut yang sebenarnya.
Idealnya, data permukaan laut berasal dari pengukuran langsung. Pengukuran tersebut dapat dilakukan melalui satelit, alat pengukur pasang surut, pelampung laut, atau instrumen oseanografi lainnya.
Namun, Seeger dan Minderhoud menemukan bahwa hanya sedikit studi yang menggunakan pengukuran langsung semacam itu. Sebagian besar justru mengandalkan model digital yang disebut geoid.
Geoid merupakan bentuk imajiner yang digunakan untuk mendekati permukaan laut Bumi. Model ini menggambarkan Bumi sebagai bola air tidak beraturan dengan permukaan bergelombang, tanpa memperlihatkan lapisan es besar atau puncak gunung tinggi.
Masalahnya, geoid tidak selalu akurat untuk mengukur permukaan laut pesisir. Menurut Seeger dan Minderhoud, geoid dapat meleset hingga beberapa meter, terutama di wilayah dengan data gravitasi yang terbatas.
Data gravitasi sangat penting untuk membangun model geoid. Karena itu, wilayah dengan data gravitasi yang lemah, termasuk banyak kawasan di Global South, lebih rentan menghasilkan estimasi permukaan laut yang tidak tepat.
Masalah kedua adalah geoid tidak memperhitungkan berbagai faktor dinamis yang memengaruhi tinggi permukaan laut. Sirkulasi samudra, arus laut, angin, pasang surut, dan suhu air semuanya dapat mengubah ketinggian laut di suatu wilayah.
Minderhoud menjelaskan bahwa masalah pada geoid sebenarnya dapat dikoreksi. Namun, analisis baru ini menunjukkan bahwa hanya sedikit penelitian bahaya pesisir yang melakukan koreksi tersebut dengan benar.
Asumsi berbasis geoid menyebabkan kesalahan pada sekitar 90 persen studi yang ditinjau. Sementara itu, sekitar 9 persen studi lainnya tidak menyelaraskan data permukaan laut dan elevasi daratan secara tepat.
Seeger menjelaskan bahwa kurang dari satu persen studi yang benar-benar menyelaraskan data tersebut dengan benar. Angka ini menunjukkan bahwa masalah metodologis dalam studi kenaikan laut jauh lebih luas daripada yang sebelumnya disadari.
Untuk mengetahui besar kesalahan tersebut, Seeger dan Minderhoud membandingkan studi berbasis geoid dengan data satelit yang mengukur tinggi permukaan laut secara global.
Hasilnya menunjukkan bahwa studi berbasis geoid meremehkan tinggi permukaan laut pesisir rata-rata sebesar 24 hingga 27 sentimeter. Dalam beberapa wilayah, kesalahan tersebut bahkan lebih dari tiga kali lipat.
Wilayah dengan kesalahan besar mencakup sebagian Asia Tenggara dan kawasan Indo-Pasifik. Daerah-daerah ini termasuk kawasan yang memiliki banyak komunitas pesisir dan sangat rentan terhadap kenaikan laut.
Di sisi lain, terdapat beberapa wilayah yang justru memiliki estimasi permukaan laut terlalu tinggi. Wilayah tersebut mencakup bagian utara Laut Mediterania, Antarktika, serta beberapa pulau di Samudra Atlantik dan Pasifik.
Estimasi yang paling mendekati kondisi nyata ditemukan di Amerika Utara bagian timur serta Eropa bagian utara dan barat. Namun secara umum, sebagian besar permukaan laut terukur ternyata lebih tinggi daripada angka yang dipublikasikan dalam studi-studi sebelumnya.
Patrick Barnard, ahli geologi pesisir dari University of California, Santa Cruz, menilai bahwa temuan ini menunjukkan bahwa laju ancaman laut terhadap daratan lebih buruk daripada yang selama ini dilaporkan. Menurut Barnard, penelitian tersebut penting bagi para perencana wilayah pesisir agar lebih berhati-hati menggunakan studi berskala besar sebagai dasar kebijakan adaptasi lokal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak estimasi lama mengenai kenaikan permukaan laut telah meremehkan tinggi laut yang sebenarnya, terutama karena penggunaan geoid yang tidak dikoreksi dengan tepat dan ketidaksesuaian antara data laut serta elevasi daratan. Dengan rata-rata permukaan laut nyata 20 hingga 30 sentimeter lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, risiko banjir pesisir, hilangnya daratan, dan terdampaknya puluhan hingga ratusan juta orang menjadi lebih besar. Temuan menunjukkan pentingnya penggunaan data pengukuran langsung dan data pesisir terbaru agar strategi adaptasi terhadap kenaikan laut tidak terlambat disusun.
Diolah dari artikel:
“Hundreds of sea level studies have underestimated ocean rise” oleh Nikk Ogasa. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/studies-underestimated-sea-level-rise