Sumber ilustrasi: Pixabay
18 Juni 2026 11.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.06.2026] Lebah madu dikenal sebagai serangga sosial yang hidup dalam koloni terorganisir. Mereka bekerja sama mencari makanan, merawat sarang, dan berkomunikasi melalui perilaku yang sangat khas. Salah satu kemampuan yang paling menarik perhatian ilmuwan adalah cara lebah madu menemukan dan mengingat lokasi sumber makanan di sekitar sarang.
Penelitian terbaru dari University of Freiburg menunjukkan bahwa kemampuan navigasi lebah madu ternyata jauh lebih presisi daripada yang sebelumnya diperkirakan. Para peneliti menemukan bahwa setiap lebah madu dapat memiliki jalur terbang pribadi yang sangat konsisten dan mampu mengulanginya dengan akurasi yang menakjubkan.
Temuan ini penting karena lebah madu tidak hanya bergerak secara acak dari sarang menuju sumber makanan. Setiap individu tampaknya membentuk rute yang disukai, lalu menerbangkan rute tersebut berulang kali dengan ketelitian tinggi.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Andrew Straw, seorang ahli neurobiologi dan biologi perilaku. Timnya menggunakan drone untuk memantau lebah madu yang terbang antara sarang dan sumber makanan dalam lingkungan pertanian.
Sumber makanan dalam penelitian tersebut berada sekitar 120 meter dari sarang. Jarak ini memungkinkan para peneliti mengamati bagaimana lebah menavigasi lanskap nyata yang berisi berbagai hambatan dan penanda visual.
Untuk melacak lebah selama penerbangan, tim peneliti menggunakan teknik yang disebut Fast Lock-On Tracking atau FLO Tracking. Teknik ini dikembangkan oleh kelompok penelitian Straw untuk merekam pergerakan serangga kecil secara cepat dan presisi.
Metode tersebut dilakukan dengan memasang penanda reflektif sangat kecil pada setiap lebah. Penanda ini memantulkan cahaya sehingga dapat dikenali oleh sistem pelacakan yang dipasang pada drone.
Sebuah komputer di dalam drone kemudian menganalisis cahaya pantulan tersebut. Sistem ini dapat mengidentifikasi dan melacak seekor lebah dalam hitungan milidetik saat lebah sedang terbang.
Menurut Straw, sistem pelacakan tersebut untuk pertama kalinya memungkinkan perekaman jalur penerbangan lebah madu dalam bentuk tiga dimensi beresolusi tinggi di lanskap alami. Rekaman ini memperlihatkan detail yang sebelumnya sulit diamati dengan metode konvensional.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap lebah memiliki rute pilihan masing-masing. Lebah tidak hanya memilih rute tersebut, tetapi juga mempertahankannya dengan presisi tinggi ketika terbang menuju sumber makanan maupun kembali ke sarang.
Straw menjelaskan bahwa rekaman timnya menunjukkan setiap lebah menerbangkan rute pilihannya dengan sangat tepat. Menurut Straw, temuan tersebut bahkan memberi kesan bahwa setiap lebah memiliki semacam “kepribadian” dalam cara menavigasi ruang.
Analisis penelitian dilakukan terhadap 255 jalur penerbangan yang dikumpulkan di dekat Kaiserstuhl, Jerman. Area penelitian tersebut mencakup pagar tanaman, ladang jagung, dan sebuah pohon yang berada di antara sarang dan sumber makanan.
Keberadaan pohon tersebut membuat lebah tidak dapat mengambil jalur langsung dari sarang ke sumber makanan. Dengan demikian, lebah perlu menyesuaikan rute dan menggunakan fitur lanskap untuk tetap berada di jalur yang efektif.
Para peneliti menemukan tingkat presisi yang sangat tinggi dalam jalur penerbangan lebah. Straw menekankan bahwa lebah individu sering mengulangi jalur pribadinya hampir persis sama dalam beberapa penerbangan.
Dalam banyak kasus, lebah hanya terbang beberapa sentimeter dari jalur yang sebelumnya pernah dilalui. Ketelitian semacam ini menunjukkan bahwa lebah memiliki ingatan spasial yang sangat kuat terhadap rute yang sudah dikenal.
Perilaku terbang yang paling konsisten muncul di dekat fitur lanskap yang menonjol, terutama pohon. Bagian ini memberi petunjuk bahwa lebah menggunakan penanda visual untuk membantu navigasi.
Sebaliknya, variasi jalur paling besar muncul ketika lebah terbang di atas ladang jagung. Area ini lebih monoton secara visual dan menawarkan lebih sedikit petunjuk yang dapat dibedakan.
Menurut Straw, hasil tersebut menunjukkan bahwa penanda visual membantu navigasi lebah dan meningkatkan presisi jalur terbang. Ketika lingkungan menjadi lebih seragam secara visual, tingkat ketidakpastian lebah dalam menentukan posisi juga meningkat.
Temuan ini juga memberi pemahaman baru mengenai tarian waggle, yaitu perilaku terkenal yang digunakan lebah madu untuk memberi tahu anggota koloni lain tentang lokasi sumber makanan.
Selama ini, para ilmuwan mengetahui bahwa informasi arah dalam tarian waggle tidak sepenuhnya akurat. Untuk sumber makanan yang berada sekitar 100 meter jauhnya, informasi arah dalam tarian tersebut dapat menyimpang sekitar 30 derajat.
Penelitian baru ini menunjukkan bahwa ketidakakuratan tarian waggle tidak berarti lebah memiliki kemampuan navigasi yang buruk. Sebaliknya, ketika menuju lokasi yang sudah dikenal, lebah dapat bernavigasi dengan jauh lebih tepat daripada yang ditunjukkan oleh komunikasi tariannya.
Straw menjelaskan bahwa penelitian timnya menunjukkan lebah individu memiliki kemampuan navigasi yang jauh lebih akurat menuju tujuan yang sudah familiar. Bahkan pada bagian rute yang paling bervariasi, penyimpangan dari jalur pribadi hanya terjadi dalam beberapa derajat.
Dengan demikian, ketidakakuratan dalam tarian waggle kemungkinan bukan berasal dari keterbatasan kemampuan navigasi lebah. Tarian tersebut mungkin merupakan bentuk komunikasi yang cukup untuk memberi arah umum, sementara navigasi individual lebah bekerja jauh lebih rinci ketika lebah mengenali lanskapnya sendiri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lebah madu memiliki kemampuan navigasi individual yang sangat presisi, dengan setiap lebah cenderung mengikuti jalur terbang pribadi yang dapat diulangi hampir sama dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya. Melalui teknologi pelacakan drone dan penanda reflektif kecil, para peneliti menemukan bahwa lebah menggunakan penanda visual seperti pohon untuk menjaga arah, sementara lingkungan yang monoton membuat jalurnya lebih bervariasi. Ketidakakuratan tarian waggle bukan disebabkan oleh buruknya kemampuan navigasi, karena lebah individu ternyata jauh lebih akurat ketika terbang menuju tempat yang sudah dikenal.
Diolah dari artikel:
“Honey bees have their own personal flight paths and fly them with stunning precision” oleh University of Freiburg. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260614011857.htm