Sumber ilustrasi: Pixabay
17 Juni 2026 14.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.06.2026] Apakah anda termasuk yang sedang diet anti gula? Hubungan antara konsumsi gula berlebihan dengan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik membuat banyak orang berusaha mengurangi asupan gula dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit pula yang berupaya menghilangkan gula sepenuhnya dari pola makan dengan harapan memperoleh manfaat kesehatan yang lebih besar.
Pandangan tersebut tampak masuk akal pada pandangan pertama. Jika konsumsi gula berlebihan dapat memberikan dampak buruk, maka mengurangi atau bahkan menghilangkannya sepenuhnya sering dianggap sebagai langkah yang lebih sehat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara gula dan kesehatan mungkin lebih kompleks daripada yang selama ini diasumsikan.
Sebuah studi yang dipresentasikan pada ENDO 2026, pertemuan tahunan The Endocrine Society di Chicago, menemukan bahwa penghapusan sukrosa secara total dari diet rendah lemak dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak terduga terhadap kesehatan usus dan metabolisme.
Penelitian tersebut dilakukan oleh para ilmuwan dari Dasman Diabetes Institute di Kuwait. Tim peneliti ingin memahami bagaimana tubuh merespons ketika salah satu bentuk gula yang paling umum dalam makanan, yaitu sukrosa, dihilangkan sepenuhnya dari pola makan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti menggunakan model hewan percobaan. Tikus dibagi ke dalam dua kelompok yang sama-sama menerima diet rendah lemak selama 16 minggu.
Kelompok pertama menerima diet rendah lemak yang masih mengandung sukrosa. Kelompok kedua menerima diet rendah lemak tanpa kandungan sukrosa sama sekali. Dengan pendekatan tersebut, para peneliti dapat mengamati dampak spesifik dari penghilangan gula tanpa adanya perbedaan besar pada kandungan lemak makanan.
Analisis penelitian dilakukan dengan mengukur sejumlah indikator kesehatan metabolik. Para ilmuwan mengevaluasi toleransi glukosa, sensitivitas insulin, hormon metabolik yang beredar dalam darah, komposisi mikrobioma usus, serta tingkat peradangan pada usus besar dan hati.
Hasil yang diperoleh cukup mengejutkan. Meskipun kedua kelompok tikus pada akhirnya memiliki berat badan yang relatif sama, kelompok yang tidak mengonsumsi sukrosa menunjukkan berbagai perubahan kesehatan yang kurang menguntungkan dibandingkan kelompok kontrol.
Tikus yang menjalani diet bebas sukrosa mengalami pengendalian glukosa yang lebih buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tubuh untuk mengelola kadar gula darah justru menurun meskipun asupan sukrosa dihilangkan sepenuhnya.
Selain itu, para peneliti juga menemukan tanda-tanda resistensi insulin yang lebih tinggi. Resistensi insulin merupakan kondisi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras untuk mengatur kadar gula darah.
Perubahan lain muncul pada mikrobioma usus. Komunitas mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan mengalami ketidakseimbangan pada kelompok yang tidak mengonsumsi sukrosa.
Mikrobioma usus semakin sering menjadi fokus penelitian karena berperan dalam berbagai fungsi biologis penting, mulai dari pencernaan, metabolisme energi, hingga pengaturan sistem kekebalan tubuh. Gangguan terhadap keseimbangan mikrobioma dapat memicu berbagai konsekuensi kesehatan yang luas.
Penelitian ini juga menemukan adanya peningkatan peradangan pada usus. Peradangan kronis tingkat rendah sering dianggap sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan berbagai penyakit metabolik.
Selain perubahan pada usus, para peneliti mengamati perubahan pada hati yang berkaitan dengan penyakit hati berlemak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak penghapusan sukrosa tidak terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi organ metabolik lainnya.
Rasheed Ahmad, ilmuwan utama sekaligus kepala Departemen Imunologi dan Mikrobiologi di Dasman Diabetes Institute, menjelaskan bahwa penghilangan sukrosa secara total dari diet rendah lemak secara tidak terduga dapat mengganggu kesehatan usus serta mendorong peradangan dan disfungsi metabolik.
Menurut Ahmad, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nutrisi yang seimbang mungkin lebih penting dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada penghilangan satu komponen makanan tertentu.
Temuan ini juga mengisi kekosongan pengetahuan yang sebelumnya masih cukup besar. Menurut para peneliti, konsekuensi biologis dari diet rendah lemak yang sangat restriktif dan menghilangkan gula sepenuhnya belum banyak dipelajari sebelumnya.
Dari sudut pandang ilmiah, penelitian ini memperkuat gagasan bahwa tubuh manusia dan hewan bergantung pada keseimbangan berbagai komponen nutrisi. Kesehatan metabolik tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya satu zat tertentu, tetapi juga oleh interaksi kompleks antara nutrisi, mikrobioma usus, sistem imun, dan organ-organ metabolik.
Ahmad menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut dapat memengaruhi rekomendasi pola makan di masa depan. Fokus kesehatan mungkin perlu bergeser dari sekadar pembatasan gula menuju pemeliharaan mikrobioma usus yang sehat dan keseimbangan nutrisi yang lebih menyeluruh.
Dalam jangka panjang, pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara pola makan, mikrobioma usus, dan metabolisme dapat membantu pengembangan strategi yang lebih efektif untuk mencegah gangguan metabolik, penyakit hati berlemak, serta berbagai kondisi peradangan kronis.
Faisal Hamed Al-Refaei, Direktur Jenderal Sementara Dasman Diabetes Institute, menyatakan bahwa penelitian semacam ini mencerminkan komitmen institusinya dalam menghasilkan temuan ilmiah berbasis bukti yang dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus memperdalam pemahaman mengenai penyakit metabolik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa menghilangkan sukrosa sepenuhnya dari diet rendah lemak tidak selalu menghasilkan dampak yang lebih baik bagi kesehatan. Pada model hewan, penghapusan total gula justru dikaitkan dengan gangguan mikrobioma usus, peningkatan peradangan, resistensi insulin, pengendalian gula darah yang lebih buruk, dan perubahan yang berhubungan dengan penyakit hati berlemak. Keseimbangan nutrisi dan kesehatan mikrobioma usus mungkin lebih penting daripada sekadar berfokus pada penghilangan gula secara total dari pola makan.
Diolah dari artikel:
“Scientists found a surprising problem with sugar-free diets” oleh The Endocrine Society. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260614011843.htm