Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Juni 2026 11.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [22.06.2026] Makanan dipahami melalui kategori yang tampak sederhana. Kita mengenal protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan kalori sebagai unsur utama yang menentukan kualitas pola makan. Dalam pandangan umum, makanan berfungsi sebagai bahan bakar tubuh sekaligus penyedia unsur pembangun bagi jaringan dan organ. Perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa makanan jauh lebih kompleks daripada daftar nutrisi dasar tersebut.
Ketika para ilmuwan berhasil memetakan genom manusia pada 2003, mereka memiliki berharap bahwa rahasia penyakit akan segera terbuka melalui kode genetik. Kenyataannya, genetika hanya menjelaskan sekitar 10 persen risiko penyakit, sedangkan sekitar 90 persen sisanya berada pada faktor lingkungan. Dalam faktor lingkungan tersebut, pola makan memainkan peran yang sangat besar.
Di tingkat global, pola makan buruk dikaitkan dengan sekitar satu dari lima kematian pada orang dewasa berusia 25 tahun atau lebih. Di Eropa, pola makan buruk bahkan menyumbang hampir setengah dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Masyarakat sering kali menerima berbagai anjuran untuk mengurangi lemak, garam, atau gula. Obesitas dan penyakit yang berkaitan dengan pola makan tetap meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa cara lama dalam memahami makanan mungkin belum cukup menjelaskan hubungan antara diet dan kesehatan.
Salah satu masalah utamanya adalah ilmu nutrisi selama ini terlalu lama berfokus pada komponen yang sudah dikenal. Protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin memang penting, tetapi semua itu hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan kimia makanan.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa pola makan manusia sebenarnya mengandung lebih dari 26.000 senyawa. Dari jumlah besar tersebut, sebagian besar masih belum dipetakan dan belum dipahami fungsinya.
Untuk menggambarkan situasi ini, para ahli menggunakan perbandingan dari astronomi. Dalam ilmu kosmologi, materi gelap diperkirakan menyusun sekitar 27 % alam semesta. Materi tersebut tidak memancarkan atau memantulkan cahaya, sehingga tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi keberadaannya diketahui melalui efek gravitasi.
Ilmu nutrisi menghadapi persoalan yang serupa. Banyak senyawa dalam makanan tidak terlihat dalam peta penelitian yang selama ini digunakan. Senyawa-senyawa tersebut masuk ke tubuh setiap hari melalui makanan, tetapi pengaruh biologisnya masih sangat sedikit diketahui.
Beberapa peneliti menyebut molekul-molekul yang belum dipetakan tersebut sebagai “materi gelap nutrisi”. Istilah digunakan untuk menunjukkan bahwa makanan yang tampak sederhana di piring sebenarnya menyimpan lanskap kimia yang sangat luas dan belum sepenuhnya dipahami.
Ketika para peneliti mempelajari penyakit, mereka sering menemukan hubungan antara jenis makanan tertentu dan risiko kesehatan. Akan tetapi hubungan tersebut tidak selalu dapat dijelaskan melalui molekul yang sudah dikenal. Di sinilah “materi gelap nutrisi” menjadi penting.
Sebagian senyawa tersembunyi dalam makanan mungkin membantu menjaga kesehatan. Sebagian lainnya mungkin meningkatkan risiko penyakit. Tantangan besar bagi ilmu nutrisi adalah menemukan senyawa mana yang berperan melindungi tubuh dan senyawa mana yang berpotensi merugikan.
Bidang yang kini berusaha menjawab tantangan tersebut disebut foodomics. Bidang ini menggabungkan genomika, proteomika, metabolomika, dan nutrigenomika untuk mempelajari bagaimana makanan berinteraksi dengan tubuh secara lebih menyeluruh.
Genomika mempelajari peran gen, proteomika mempelajari protein, metabolomika mempelajari aktivitas sel, sedangkan nutrigenomika mempelajari interaksi antara gen dan pola makan. Gabungan pendekatan tersebut mulai menunjukkan bahwa makanan bekerja jauh melampaui urusan kalori dan vitamin.
Contoh yang sering digunakan adalah pola makan Mediterania. Pola makan ini kaya buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan ikan, dengan konsumsi daging merah serta makanan manis yang terbatas.
Pola makan Mediterania banyak dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Pertanyaan pentingnya namun demikian, adalah mengapa pola makan tersebut dapat memberikan perlindungan semacam itu.
Salah satu petunjuknya terdapat pada molekul bernama TMAO atau trimethylamine N-oxide. Molekul ini dihasilkan ketika bakteri usus memetabolisme senyawa yang terdapat dalam daging merah dan telur.
Kadar TMAO yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Namun, beberapa makanan seperti bawang putih mengandung zat yang dapat menghambat produksi TMAO.
Contoh ini menunjukkan bahwa makanan dapat menggeser keseimbangan antara kesehatan dan penyakit melalui interaksi kimia yang rumit. Makanan bukan hanya menyediakan zat gizi, tetapi juga memengaruhi aktivitas mikroba, metabolisme, dan proses biologis lain di dalam tubuh.
Bakteri usus memiliki peran besar dalam proses tersebut. Ketika senyawa makanan mencapai usus besar, mikroba dapat mengubahnya menjadi bahan kimia baru yang memengaruhi peradangan, sistem imun, dan metabolisme.
Sebagai contoh, asam elagat yang terdapat dalam berbagai buah dan kacang dapat diubah oleh bakteri usus menjadi urolithin. Senyawa ini membantu menjaga kesehatan mitokondria, yaitu struktur sel yang berfungsi sebagai pabrik energi tubuh.
Temuan seperti ini menunjukkan bahwa satu senyawa makanan dapat memengaruhi banyak mekanisme biologis. Pada saat yang sama, perubahan pada satu mekanisme dapat memengaruhi mekanisme lain secara berantai.
Pola makan bahkan dapat memengaruhi aktivitas gen melalui epigenetika. Epigenetika adalah perubahan aktivitas gen tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri.
Sejarah memberikan contoh kuat mengenai pengaruh pola makan terhadap aktivitas gen. Anak-anak yang lahir dari ibu yang mengalami kelaparan di Belanda selama Perang Dunia Kedua diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan skizofrenia pada masa dewasa.
Puluhan tahun kemudian, para ilmuwan menemukan bahwa aktivitas gen anak-anak tersebut telah berubah akibat apa yang dimakan atau tidak dimakan oleh ibu mereka selama masa kehamilan. Dengan kata lain, pola makan dapat meninggalkan jejak biologis yang panjang.
Untuk memahami lanskap kimia makanan yang tersembunyi, proyek seperti Foodome Project kini mencoba mengatalogkan berbagai molekul dalam makanan. Lebih dari 130.000 molekul telah didaftarkan dalam upaya menghubungkan senyawa makanan dengan protein manusia, mikroba usus, dan proses penyakit.
Tujuan besar dari proyek semacam ini adalah membangun atlas mengenai cara pola makan berinteraksi dengan tubuh. Dengan atlas tersebut, para ilmuwan berharap dapat menentukan molekul mana yang benar-benar penting bagi kesehatan.
Pemahaman tentang materi gelap nutrisi juga dapat membantu menjawab pertanyaan yang selama ini membingungkan ilmu nutrisi. Mengapa satu jenis pola makan berhasil pada sebagian orang, tetapi tidak pada orang lain? Mengapa makanan tertentu dapat mencegah penyakit dalam satu kondisi, tetapi berkaitan dengan risiko penyakit dalam kondisi lain?
Pengetahuan tersebut juga dapat membuka peluang baru dalam pengembangan obat dan makanan. Molekul tertentu dalam makanan mungkin dapat dimanfaatkan sebagai dasar terapi baru atau sebagai bahan untuk merancang pangan yang lebih sehat.
Penelitian mengenai makanan kini menunjukkan bahwa isi piring manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar kalori, protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin. Di balik makanan sehari-hari terdapat ribuan senyawa yang sebagian besar belum dipetakan, tetapi berpotensi memengaruhi metabolisme, sistem imun, mikrobioma usus, aktivitas gen, dan risiko penyakit. Dengan berkembangnya foodomics dan upaya memetakan “materi gelap nutrisi”, ilmu nutrisi berpeluang memasuki tahap baru yang dapat mengubah cara manusia memahami makanan, mencegah penyakit, dan menjaga kesehatan.
Diolah dari artikel:
“Scientists say most of what’s in your food is still a mystery” oleh David Benton, Swansea University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260614012011.htm