Seperti Apa Hutan Amazon dalam 100 Tahun Mendatang?

Sumber ilustrasi: Pixabay
22 Juni 2026 17.10 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.06.2026]Hutan hujan Amazon merupakan hutan tropis terbesar di dunia. Hutan hujan ini membentang lebih dari 5,2 juta kilometer persegi, dimana luasnya sekitar dua belas kali negara bagian California di Amerika Serikat. Amazon tidak hanya menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati terbesar di Bumi, tetapi juga berperan penting dalam siklus air global, penyimpanan karbon, dan kehidupan sekitar 47 juta penduduk yang bergantung padanya.

Selama beberapa dekade terakhir, Amazon juga menjadi simbol dari pertarungan antara konservasi dan eksploitasi sumber daya alam. Deforestasi, ekspansi pertanian, penebangan liar, penambangan ilegal, dan perubahan iklim terus mengubah wajah kawasan tersebut. Para ilmuwan kini memperingatkan bahwa Amazon dapat mendekati sebuah titik kritis atau tipping point, yaitu kondisi ketika kerusakan yang terjadi menjadi begitu besar sehingga ekosistem tidak lagi mampu mempertahankan dirinya.

Saat ini sekitar 17 persen wilayah Amazon telah ditebang atau dihancurkan dan sebagian besar telah digantikan oleh lahan pertanian. Bersamaan dengan itu, ancaman lain seperti pengeboran minyak dan aktivitas tambang ilegal terus mempersempit kawasan hutan yang tersisa.

Menurut Bernardo Flores dari EqualSea Lab di University of Santiago de Compostela, masa depan Amazon dalam satu abad mendatang akan ditentukan oleh sejumlah ancaman yang saling memperkuat satu sama lain. Faktor-faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah, tetapi membentuk rangkaian proses yang dapat mempercepat kerusakan hutan.

Flores menjelaskan bahwa perluasan lahan pertanian dan aktivitas kejahatan terorganisasi memang menjadi ancaman nyata. Akan tetapi tiga faktor utama yang paling menentukan adalah perubahan iklim, deforestasi, dan kebakaran hutan.

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Musim hujan menjadi lebih basah, sementara musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering. Kondisi tersebut membuat hutan semakin rentan terhadap gangguan ekologis.

Analisis para peneliti menunjukkan bahwa hilangnya hutan memicu sebuah lingkaran umpan balik yang berbahaya. Ketika tutupan hutan berkurang, curah hujan juga menurun. Berkurangnya hujan kemudian menyebabkan lebih banyak pohon mati dan lebih banyak hutan hilang.

Flores menjelaskan bahwa proses tersebut menciptakan siklus yang terus berulang. Semakin sedikit hutan yang tersisa, semakin sedikit hujan yang turun. Semakin sedikit hujan yang tersedia, semakin sulit hutan mempertahankan dirinya.

Dampaknya tidak berhenti pada tingkat lokal. Hilangnya hutan juga mengurangi kemampuan Amazon menyerap karbon dalam jumlah besar. Kondisi tersebut mempercepat pemanasan global, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan terhadap hutan yang tersisa.

Kebakaran menjadi faktor lain yang memperburuk situasi. Hutan yang lebih kering jauh lebih mudah terbakar dibandingkan hutan yang lembap. Ketika kebakaran terjadi, kerusakan yang ditimbulkan dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas.

Pembangunan jalan juga memainkan peran penting dalam proses degradasi. Flores menjelaskan bahwa keberadaan jalan sering kali membuka akses bagi aktivitas ilegal seperti pembalakan liar. Aktivitas tersebut kemudian meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran dan kerusakan hutan lebih lanjut.

Salah satu wilayah yang dianggap memberikan gambaran masa depan Amazon adalah kawasan yang dikenal sebagai “arc of deforestation” atau busur deforestasi. Wilayah seluas sekitar 500.000 kilometer persegi tersebut merupakan garis depan deforestasi terbesar di dunia.

Di kawasan tersebut, para ilmuwan telah mengamati perubahan yang signifikan pada struktur hutan. Tingkat kematian pohon lebih tinggi dibandingkan wilayah Amazon yang masih relatif utuh. Kanopi hutan juga memiliki lebih banyak celah akibat hilangnya pepohonan besar.

Perubahan lain yang mencolok adalah meluasnya pertumbuhan liana, yaitu tanaman merambat berkayu yang memanjat pohon-pohon hutan.

Menurut Flores, liana menjadi masalah ekologis karena bersaing dengan pohon dalam memperoleh cahaya dan nutrisi. Kehadiran tanaman tersebut mengurangi peluang hidup pohon sekaligus menurunkan keanekaragaman spesies dalam hutan.

Dalam kondisi yang lebih ekstrem, liana dapat mendominasi sebagian besar vegetasi. Flores menjelaskan bahwa ketika seluruh kawasan tertutup liana, pemandangan hutan yang biasanya dikenal masyarakat hampir tidak lagi terlihat.

Rumput invasif yang diperkenalkan melalui aktivitas peternakan juga diperkirakan akan semakin meluas pada masa depan. Flores menilai hanya sebagian kecil wilayah Amazon yang mungkin berubah menjadi sabana sejati.

Sabana merupakan ekosistem asli yang kaya keanekaragaman hayati. Sebaliknya, rumput invasif cenderung menyingkirkan spesies asli dan mengurangi jumlah organisme yang dapat bertahan hidup di suatu wilayah.

Alih-alih berubah menjadi sabana alami, sebagian kawasan Amazon mungkin berkembang menjadi ekosistem terbuka yang terdegradasi. Dalam kondisi tersebut, pohon-pohon tahan api hidup berdampingan dengan rumput invasif, tanaman merambat, dan pakis yang berkembang secara luas.

Dampak perubahan tersebut juga akan dirasakan oleh satwa liar. Menurut Flores, spesies yang hidup di lingkungan perairan termasuk kelompok yang paling rentan.

Ketika kekeringan berlangsung selama satu hingga tiga tahun, lahan basah dapat mengering sepenuhnya. Kondisi tersebut membuat wilayah yang sebelumnya basah menjadi mudah terbakar dan kehilangan fungsi ekologisnya.

Akibatnya, berbagai spesies akuatik dapat mengalami kepunahan dalam waktu yang relatif singkat. Kepunahan tersebut berpotensi terjadi jauh lebih cepat dibandingkan perubahan yang terlihat pada vegetasi hutan.

Masyarakat adat yang hidup di Amazon juga menghadapi ancaman yang serius. Christian Poirier dari Amazon Watch menjelaskan bahwa kerusakan Amazon dapat diibaratkan seperti halaman belakang rumah yang dihancurkan dengan buldoser dan sumber air yang diracuni.

Menurut Poirier, kondisi tersebut memaksa masyarakat meninggalkan wilayah tempat tinggal mereka. Perpindahan paksa seperti itu telah terjadi di berbagai bagian Amazon akibat degradasi lingkungan yang terus berlangsung.

Kerusakan Amazon juga memiliki konsekuensi global. Flores memperingatkan bahwa hilangnya hutan dapat menciptakan sistem iklim yang lebih tidak stabil dan lebih sulit diprediksi.

Curah hujan di berbagai wilayah Amerika Selatan dapat berkurang secara signifikan. Pada saat yang sama, pemanasan global akan semakin meningkat karena berkurangnya kemampuan Amazon menyerap karbon.

Dalam skenario terburuk, Bumi dapat menghadapi beberapa titik kritis secara bersamaan. Mencairnya lapisan es, terganggunya arus laut, dan keruntuhan Amazon dapat saling memperkuat dan mempercepat perubahan iklim global.

Flores menjelaskan bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi mendorong planet ini memasuki kondisi iklim yang jauh lebih panas, dengan konsekuensi yang mungkin tidak dapat dibalik.

Meskipun demikian, para ilmuwan masih melihat adanya harapan. Arie Staal dari Utrecht University menjelaskan bahwa berbeda dengan beberapa ancaman iklim lain, deforestasi secara teoritis dapat dibalik melalui reforestasi atau penanaman kembali hutan.

Staal menilai bahwa manusia masih memiliki kendali terhadap masa depan Amazon melalui penghentian deforestasi dan pemulihan kawasan yang telah rusak. Menurutnya, peluang untuk mencegah keruntuhan Amazon masih tersedia jika tindakan dilakukan cukup cepat.

Penelitian dan pengamatan terbaru menunjukkan bahwa masa depan Amazon akan sangat ditentukan oleh interaksi antara perubahan iklim, deforestasi, kebakaran hutan, dan aktivitas manusia lainnya. Jika tren kerusakan saat ini terus berlanjut, sebagian wilayah hutan dapat berubah menjadi ekosistem yang lebih terbuka, lebih kering, dan memiliki keanekaragaman hayati yang jauh lebih rendah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar dan masyarakat adat yang tinggal di kawasan tersebut, tetapi juga oleh sistem iklim global. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa Amazon masih memiliki peluang untuk dipulihkan melalui penghentian deforestasi dan upaya reforestasi yang dilakukan secara luas sebelum titik kritis tersebut benar-benar tercapai.

Diolah dari artikel:
“What will the Amazon rainforest look like in 100 years?” oleh Jesse Steinmetz. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/what-will-the-amazon-rainforest-look-like-in-100-years

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *