Berapa Lama Tyrannosaurus Rex Tumbuh Menjadi Raksasa?

Sumber ilustrasi: Pixabay
23 Juni 2026 15.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [23.06.2026] Tyrannosaurus Rex dikenal luas sebagai salah satu predator paling menakutkan dalam sejarah Bumi. Dinosaurus ini dapat mencapai berat hingga sekitar delapan ton dan menjadi pemangsa puncak pada akhir Periode Kapur. Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa T. Rex mencapai ukuran dewasanya pada usia sekitar 25 tahun. Anggapan tersebut membentuk gambaran bahwa sang predator tumbuh sangat cepat sebelum mendominasi lingkungannya.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kisah pertumbuhan Tyrannosaurus Rex mungkin jauh lebih kompleks. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal PeerJ menemukan bahwa T. Rex kemungkinan terus tumbuh selama sekitar 40 tahun sebelum mencapai ukuran maksimalnya. Temuan ini mengubah pemahaman ilmuwan mengenai kecepatan pertumbuhan salah satu dinosaurus paling terkenal yang pernah hidup.

Untuk menyelidiki pertumbuhan Tyrannosaurus Rex, para peneliti menganalisis 17 fosil tyrannosaurus yang mencakup berbagai tahap kehidupan, mulai dari individu muda hingga spesimen dewasa berukuran sangat besar. Kumpulan data tersebut merupakan salah satu yang paling lengkap yang pernah digunakan untuk mempelajari perkembangan T. Rex sepanjang hidupnya.

Analisis usia dinosaurus dilakukan dengan mempelajari cincin pertumbuhan yang tersimpan di dalam tulang fosil. Seperti cincin tahunan pada batang pohon, cincin pertumbuhan pada tulang dapat memberikan petunjuk mengenai usia dan laju pertumbuhan seekor hewan. Selama beberapa dekade, metode ini menjadi salah satu alat utama dalam paleontologi untuk merekonstruksi sejarah kehidupan dinosaurus.

Penelitian terbaru menggunakan teknik yang lebih canggih dibandingkan studi sebelumnya. Para ilmuwan memeriksa irisan tipis tulang fosil menggunakan pencahayaan khusus yang mampu menampilkan cincin pertumbuhan yang sulit terlihat dengan metode konvensional. Pendekatan tersebut memungkinkan pengamatan yang lebih rinci terhadap sejarah pertumbuhan masing-masing spesimen.

Selain itu, para peneliti menggabungkan data dari berbagai fosil menggunakan model statistik yang kompleks. Dengan cara tersebut, informasi dari dinosaurus yang hidup pada usia berbeda dapat disatukan menjadi gambaran menyeluruh mengenai perkembangan Tyrannosaurus Rex dari masa muda hingga dewasa.

Hasil analisis menunjukkan bahwa Tyrannosaurus tetap berada dalam fase pertumbuhan sekitar 15 tahun lebih lama daripada perkiraan sebelumnya. Dengan kata lain, proses pertumbuhan tidak berhenti pada usia 25 tahun, melainkan berlanjut hingga mendekati usia 40 tahun.

Holly Woodward dari Oklahoma State University yang memimpin penelitian menjelaskan bahwa kumpulan data yang digunakan merupakan yang terbesar yang pernah dihimpun untuk Tyrannosaurus Rex. Menurut Woodward, cincin pertumbuhan yang tersimpan di dalam tulang fosil memungkinkan para peneliti merekonstruksi riwayat pertumbuhan hewan tersebut dari tahun ke tahun.

Meskipun demikian, tulang dinosaurus tidak menyimpan seluruh catatan hidup seekor individu. Penampang tulang kaki T. Rex biasanya hanya mempertahankan informasi dari sekitar 10 hingga 20 tahun terakhir kehidupannya. Keterbatasan tersebut membuat para peneliti perlu menggabungkan data dari banyak spesimen yang berbeda usia.

Nathan Myhrvold, matematikawan dan paleobiolog yang memimpin analisis statistik penelitian ini, menjelaskan bahwa timnya mengembangkan pendekatan baru untuk menyatukan catatan pertumbuhan dari berbagai individu. Menurut Myhrvold, kurva pertumbuhan gabungan yang dihasilkan memberikan gambaran yang jauh lebih realistis mengenai bagaimana Tyrannosaurus tumbuh dan seberapa besar variasi ukuran yang dimilikinya.

Temuan tersebut menghasilkan gambaran perkembangan yang berbeda dari model lama. Alih-alih mengalami lonjakan pertumbuhan cepat menuju ukuran dewasa, Tyrannosaurus tampaknya bertambah besar secara lebih bertahap selama beberapa dekade.

Periode pertumbuhan yang panjang kemungkinan memiliki manfaat ekologis. Tyrannosaurus muda mungkin tidak langsung bersaing dengan individu dewasa karena masing-masing menempati relung ekologis yang berbeda. Dengan demikian, berbagai kelompok usia dapat memanfaatkan sumber daya yang berbeda dalam lingkungan yang sama.

Jack Horner dari Chapman University menjelaskan bahwa fase pertumbuhan yang berlangsung selama empat dekade memungkinkan tyrannosaurus muda mengisi berbagai peran ekologis dalam lingkungannya. Menurut Horner, kondisi tersebut mungkin menjadi salah satu alasan mengapa kelompok tyrannosaurus mampu mendominasi akhir Periode Kapur sebagai predator puncak.

Analisis ini juga membuka kembali perdebatan mengenai identitas beberapa fosil tyrannosaurus yang terkenal. Selama bertahun-tahun, sejumlah ilmuwan mempertanyakan apakah semua fosil yang diberi label Tyrannosaurus Rex benar-benar berasal dari spesies yang sama.

Salah satu hipotesis yang banyak diperdebatkan menyatakan bahwa beberapa fosil berukuran lebih kecil sebenarnya merupakan spesies terpisah yang dikenal sebagai Nanotyrannus, bukan individu muda Tyrannosaurus. Penelitian lain bahkan mengusulkan kemungkinan adanya lebih dari satu spesies tyrannosaurus berukuran besar yang hidup pada masa yang sama.

Untuk mengakomodasi kemungkinan tersebut, penelitian ini menggunakan istilah “kompleks spesies Tyrannosaurus Rex”. Istilah tersebut mengakui kemungkinan bahwa kumpulan fosil yang selama ini dimasukkan ke dalam T. Rex mungkin mewakili lebih dari satu spesies atau subspesies.

Dua spesimen terkenal yang dijuluki Jane dan Petey menunjukkan pola pertumbuhan yang berbeda dibandingkan fosil lain dalam penelitian. Perbedaan tersebut cukup mencolok sehingga menarik perhatian para peneliti.

Meskipun data pertumbuhan saja tidak cukup untuk memastikan status spesies keduanya, pola yang tidak biasa tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan adanya spesies berbeda masih layak untuk diselidiki lebih lanjut.

Para peneliti juga mencatat bahwa studi lain yang dilakukan oleh Zanno dan Napoli mencapai kesimpulan yang serupa melalui metode berbeda. Penelitian tersebut mengklasifikasikan Jane dan Petey sebagai dua spesies Nanotyrannus yang berbeda.

Temuan penting lainnya berkaitan dengan penemuan jenis cincin pertumbuhan yang sebelumnya tidak dikenali dalam tulang dinosaurus. Dengan menggunakan cahaya terpolarisasi melingkar dan cahaya terpolarisasi silang, para peneliti menemukan penanda pertumbuhan baru yang selama ini tersembunyi.

Penemuan tersebut berpotensi menjelaskan sejumlah perbedaan hasil yang telah lama membingungkan para ilmuwan yang mempelajari pertumbuhan dinosaurus. Keberadaan cincin pertumbuhan tambahan dapat mengubah cara usia dan laju pertumbuhan dinosaurus dihitung.

Menurut Myhrvold, interpretasi terhadap sejumlah tanda pertumbuhan yang berdekatan merupakan tantangan yang rumit. Bukti statistik yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah protokol yang selama ini digunakan dalam studi pertumbuhan dinosaurus mungkin perlu diperbarui.

Lebih dari satu abad setelah Tyrannosaurus Rex pertama kali dideskripsikan oleh ilmuwan, predator raksasa tersebut masih terus memberikan kejutan baru. Kemajuan dalam teknik pencitraan, analisis statistik, dan ketersediaan fosil memungkinkan para peneliti melihat sejarah hidup dinosaurus dengan tingkat detail yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa Tyrannosaurus Rex kemungkinan membutuhkan waktu sekitar 40 tahun untuk mencapai ukuran maksimalnya, jauh lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dengan menggabungkan data dari 17 fosil, teknik pencitraan baru, dan model statistik yang lebih canggih, penelitian ini memberikan gambaran paling rinci sejauh ini mengenai pertumbuhan sang predator raksasa. Hasil penelitian juga membuka peluang baru untuk memahami keragaman spesies tyrannosaurus dan menyempurnakan metode yang digunakan dalam mempelajari kehidupan dinosaurus purba.

Diolah dari artikel:
“T. Rex took 40 years to reach full size, scientists find” oleh PeerJ. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260621110957.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *